BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga merupakan bagian dari manusia yang setiap hari selalu berhubungan dengan kita. Keadaan ini perlu kita sadari sepenuhnya bahwa setiap individu merupakan bagiannya dan di keluarga juga semua dapat diekspresikan tanpa hambatan yang berarti. Tahun 1960, keluarga di Indonesia sekitar 30 juta, tahun 1990-an menjadi 35-40 juta, dan pada awal abad ke-21 diperkirakan berlipat jumlahnya menjadi 60-65 juta (BKKBN, 1996).
Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan sistematis untuk bekerja sama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga. Keluarga sebagai unit pelayanan perawatan sebab keluarga unit utama dari masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan bermasyarakat. Keluarga sebagai kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan, atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya sendiri. Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, penyakit yang diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi keluarga tersebut, karena keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagai usaha-usaha kesehatan masyarakat.
Keluarga mempunyai tahap perkembangan dan tugas perkembangan yag harus diselesaikan pada tahapnya, khususnya tugas perkembangan keluarga pada usia dewasa akhir. Banyaknya masalah dan perubahan yang terjadi pada masa tua seperti bagaimana mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling menyenangkan pasanganya, adpatasi dengan perubahan yang akan terjadi: kehilangan pasangan, kekuatan fisik, dan penghasilan keluarga, mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat, serta melakukan life review masa lalu, memungkinkan suatu keluarga untuk memahami bagaimana memberikan asuhan keperawatan yang baik. Untuk itu pada Bab ini, penulis ingin menguraikan berbagai hal yang berhubungan dengan keluarga dan perkembangan pada dewasa akhir yang merupakan dasar untuk menentukan masalah dan melaksanakan asuhan keperawatan keluarga.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah Keperawatan Komunitas IV.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulis dalam menyusun makalah ini agar mahasiswa mengetahui konsep dasar keluarga dan usia dewasa akhir, mengetahui tahap perkembangan usia dewasa akhir, mengetahui tugas perkembangan pada keluarga dan asuhan keperawatan keluarga pada tahap usia dewasa akhir.
C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dari konsep dasar keluarga?
2. Apa yang dimaksud dari konsep dasar usia dewasa akhir
3. Bagaimana asuhan keperawatan keluarga pada tahap usia dewasa akhir?
D. Metode Pengumpulan Data
Data ataupun pembahasan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa referensi yaitu buku-buku atau sumber bacaan yang relevan serta media-media lain yang mendukung.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar keluarga
a) Definisi keluarga
Beberapa definisi keluarga menurut para ahli, adalah sebagai berikut :
1) Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dan individu yang mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 1998).
2) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (Suprajitno, 2004).
3) Menurut WHO (1969), keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi, atau perkawinan.
4) Menurut Departemen Kesehatan RI, 1998. Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan bebrapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
b) Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan
Suprajitno (2004) menyatakan bahwa fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi:
1) Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan
dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua/keluarga. Apabila
menyadari adanya perubahan keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan seberapa besar perubahannya.
2) Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga dengan
pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada
orang di lingkungan tinggal keluarga agar memperoleh bantuan.
3) Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
Seringkali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar,
tetapi keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui keluarga
sendiri. Jika demikian, anggota keluarga yang mengalami gangguan
kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
4) Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga.
c) Tugas perkembangan keluarga sesuai tahap perkembangan
Tahap Perkembangan Tugas Perkembangan (utama)
1. Keluarga baru menikah - Membina hubungan intim yang memuaskan.
- Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, dan kelompok social.
- Mendiskusikan rencana memiliki anak.
2. Keluarga Child Bearing - Mempersiapkan menjadi orang tua.
- Adaptasi dengan perubahan adanya anggota keluarga, interaksi keluarga, hubungan seksual, dan kegiatan.
- Mempertahankan hubungan dalam rangka memuaskan pasangannya.
3. Keluarga dengan anak usia pre-school - Memenuhi kebutuha anggota keluarga, misalnya kebutuhan tempat tinggal, privasi, dan rasa aman.
- Membantu anak bersosialisasi.
- Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yag lain juga harus terpenuhi.
- Mempertahankan hubunga yang sehat, baik di dalam atau luar keluarga.
- Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak.
- Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
- Merencaakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasika pertumbuhan dan perkembangan anak.
4. Keluarga dengan anak usia sekolah - Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah, dan lingkungan lebih luas.
- Mempertahankan keintima pasangan.
- Memenuhi kebutuhan yang meningkat, termasuk biaya kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.
5. Keluarga dengan anak remaja - Memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda dan mulai memiliki otonomi.
- Mempertahankan hubungan intim dalam keluarga.
- Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua. Hindarka terjadinya perdebatan, kecurigaan, dan permusuhan.
- Mempersiapkan perubahan system peran dan peraturan (anggota) keluarga untuk memenuhi kebutuha tumbuh kembang anggota keluarga.
6. Keluarga dengan dewasa muda - Memperluas jaringan keluarga dari keluarga inti menjadi keluarga besar.
- Mempertahankan keintiman pasangan.
- Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat.
- Penataan kembali peran orang tua dan kegiatan di rumah.
7. Keluarga usia pertengahan - Mempertahankan kesehata individu dan pasangan usia pertengahan.
- Mempertahankan hubungan yang serasi dan memuaskan dengan anak-aaknya dan sebaya.
- Meningkatkan keakraban pasangan.
8. Keluarga usia dewasa akhir - Mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling menyenangkan pasanganya.
- Adaptasi perubahan yang akan terjadi : kehilanga pasangan, kekuatan fisik, dan penghasilan keluarga.
- Mempertahanka keakraban pasangan dan saling merawat.
- Melakukan life review masa lalu.
B. Konsep Dasar Usia Dewasa Akhir
a) Perkembangan dan Proses Menjadi Tua/Dewasa Akhir
Sekarang sudah umum diakui bahwa suatu perkembangan tidak berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaan fisik pada masa remaja atau kedewasaan sosial pada masa dewasa awal. Selama manusia berkembang terjadi perubahan perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada fungsi biologis dan motoris,pengamatan dan berpikir,motif motif dan kehidupan afeksi,hubungan sosial serta integrasi masyarakat.perubahan fisik yang menyebabkan seseorang berkurang harapan hidupnya disebut proses menjadi tua.proses ini merupakan sebagian daripada keseluruhan proses menjadi tua.proses menjadi tua ini banyak dipengaruhi oleh faktor kehidupan bersama dan faktor pribadi orang itu sendiri yaitu regulasi diri sendiri.
Perkembangan dalam arti tumbuh ,bertambah besar,mengalami diferensiasi yaitu sebagai proses perubahan yang dinamis pada masa dewasa berjalan bersama dengan keadaan menjadi tua. Thomae (1968) berpendapat bahwa proses menjadi tua merupakan suatu struktur perubahan yang mengandung berbagai macam dimensi.ia menyebutkan mengenai:
1. Proses biokemi dan pisiologis yang oleh burger di sebut “proses penuaan yang primer”dalam daerah batas psikologis.
2. Proses fisiologis atau timbulnya penyakit -penyakit.
3. Perubahan fungsional psikologis.
4. Perubahan kepribadian dalam arti sempit.
5. Penstrukturan kembali dalam hal sosial psikologis yang berhubungan dengan bertambahnya usia.
6. Perubahan yang berhubungan dengan kenyataan bahwa orang tidah hanya mengalami keadaan menjadi tua ini melainkan bahwa seseorang juga mengambil sikap terhadap keadaan tersebut.perubahan yang terakhir ini di sebut oleh Thomae “proses chrono-estetis mengenai orang menjadi tua ”(h.195).
Birren dan Schroots (1984) membedakan 3 proses sentral yaitu penuaan sebagai proses biologis, menjadi senior dalam masyarakat atau penuaan sosial dan penuaan psikologis subyektif. Disini ada 3 macam perubahan,yaitu dalam tubuh orang yang menjadi tua ,dalam kedudukan sosial dan dalam pengalaman batinnya .berbagai peubahan ini terjadi selama hidup seseorang meskipun tidak harus terkait pada usia tertentu secara eksak.tempo dan bentuk akhir proses penuaan tadi berbeda beda pada orang yang satu dengan yang lain.begitu pula berhubung masyarakat juga ikut memberikan struktur pada proses penuaan tersebut,maka juga ada perbedaan antara periode sejarah yang satu dengan yang lain.
b) Fase fase perkembangan pada usia dewasa
1) Struktur dalam rentang kehidupan
Teori pentahapan biasanya banyak dikenal.pembagian dalam fase fase kehidupan kebanyakan mempunyai suatu sifat normatif.namun sering di pakai sebagai standar tingkah laku.hal ini sesuai dengan kecenderungan masyarakat untuk memperoleh standar tingkah laku.
Dalam masyarakat yang maju maka usia tidak merupakan standar tingkah laku terutama pada masa sesudah remaja.namun fenomena sosial clock belum seluruhnya hilang .masyarakat masih menaruh pengharapan tertentu mengenai tingkah laku yang sesuai untuk usia usia tertentu.pengharapan masyarakat ini di internalisasi oleh individu dengan demikian maka seseorang yang diharapkan melakukan tugas tertentu pada usia tertentu dapat merasakan apakah ia teleh melakukan nya pada waktu yang kurang tepat.
Dengan menggunakan metode pentahapan dimungkinkan untuk membandingkan jalan hidup seseorang secara thematis.dengan demikian maka terciptalah pengertian yang formal dan universal .hal ini lebih penting dari pada suatu pendekatan yang individual.
2) Dua jenis teori pentahapan
a. Erikson
Teori rentang hidup menurut Erikson (1963).sesudah masa remaja yaitu masa penemuan identitas seseorang sekaligus memasuki masa dewasa awal yang ditandai oleh penemuan intimitas atau isolasi ,maka seseorang tinggal mengalami dua fase lagi yang meliputi sebagian besar masa hidup seseorang.dalam fase ketujuh atau masa dewasa pertengahan seseorang dapat berkembang kearah generativitas atau stagnasi ,sedangkan dalam fase kedelapan atau fase terakhir sesorang dapat berkembang ke arah integritas ego atau putus asa
Fase ketujuh meliputi bagian yang terpenting dalam hidup seseorang.dalam fase ini orang bertanggung jawab terhadap generasi berikutnya yaitu manjadi orangtua.menjadi orang tua yang berarti untuk orang lain ,untuk benda-benda ,untuk hasil karya dan ide ide merupakan persyaratan untuk menyelesaikan dengan baik proses psikososial fase yang berikutnya.yaitu fase integritas ego,atau integritas diri dengan kutub yang berlawanan yaitu putus asa.orang yang mencapai integritas diri adalah mereka yang dengan salah satu cara telah mengasuh generasi muda yang tetap tegar menghadapi keberhasilan maupun kegagalan yang dialami sebagai orangtua.begitu juga mereka yang sudah menghasilkan Sesuatu ,memperjuangkan ide atau keyakinannnya.
Seseorang yang mencapai integritas diri mempertahankan gaya hidup yang telah dipilihnya karena ia sadar bahwa ia hidup dalam zaman dan konteks social tertentu yang ditandai oleh gaya integritas sendiri.orang yang mencapai integritas diri bersifat bijaksana dalam tingkah lakunya.alternatif lain yang dapat dicapai seseorang adalah putus asa.sikap hidup ini adalah sebaliknya daripada sikap orang yang mencapai integritas diri yang memiliki pengertian yang mendalam terhadap orang lain.
b. Levinson
Levinson dkk (1978) mempelajari fase-fase hidup manusia. Perhatiannya lebih tertuju pada siklus hidup daripada jalan hidup seseorang. Ia mencari pola universalnya daripada periode hidup yang berurutan.Jalan hidup seseorang berbeda-beda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Apa yang berubah selama orang hidup adalah struktur kehidupannya. Struktur kehidupan seseorang mengatur transaksi antara struktur kepribadian dengan struktur social.
Levinson membedakan empat periode kehidupan yaitu :
1. Masa anak dan masa remaja (0-22 tahun)
2. Masa dewasa awal (17-40 tahun)
3. Masa dewasa madya (40-60tahun)
4. Masa dewasa akhir (60 tahun ke atas).
Usia tumpang tindih selama 5 – 7 tahun adalah masa peralihan. Levinson menganggap pembagian dalam fase-fase kehidupan sebagai sesuatu yang universal.
c) Menjadi tua sebagai proses individual
1). Berbagai macam teori dan tipologi
Teori mengenal proses menjadi tua melukiskan betapa proses tersebut dapat diintervensi sehingga dapat mencapai hasil yang optimum. Teori-teori yang ada dapat dibagi menjadi teori yang bersifat biologis dan yang bersifat sosiologis (Thomae, 1970). Diantara teori-teori itu termasuk teori psikologis yang dapat bersifat sosiologis maupun biologis. Dalam bidang yang sosiologis termasuk teori disengagement (teori pelepasan) dan teori aktivitas.
Disamping itu ditemukan juga teori psikologis perkembangan dalam perspektif sepanjang hidup yang dikemukakan erikson (1963), Charlotte Bucher (1959, 1972) dan havighurst (1953). Ryff (1982) menyebutkan sebagai teori optimalisasi karena titik beratnya ada dalam kemungkinan berkembangan seseorang sampai pada usia yang lanjut. Teori-teori ini memandang seseorang sebagai manusia yang utuh. Dalam proses menjadi tua seseorang dipandang dalam hubungannya dengan diri sendiri dan dengan lingkunganya. Teori-teori ini mempunyai dasar yang sama, yaitu bawa tahap-tahap perkembangan dihubungkan dengana tahapan usia sehingga memberikan pendekatan yang normative. Kurang bersifat normative adalah teori koginif Thomae (1970) dalam proses orang menjadi tua,
Disamping teori proses menjadi tua yang memandang seseorang sebagai person yang utuh, diketemukan teori-teori yang berhubungan dengan proses menjadi tua dengan bertambahnya usia yang merubah beberapa kemampuan seseorang. Teori mengenai perkembangan ingatan, inteligensi, seksualitas, kepuasan kerja selama rentang kehidupan, adalah contoh-contoh mengenai teori mikro dan teori aspek.
Semula diduga adanya gejala yang global dan universal dalam proses orang menjadi tua namun dengan datangnya data yang empiris mengenai berbagai hasil penelitian diketahui bahwa menjadi tua itu adalah proses yang sangat individual, tidak sama pada orang yang satu dengan orang yang lain.
Dalam tahun enam puluhan dimulai penelitian mengenai pola dan gaya hidup orang lanjut usia yang khas. Penelitian-penelitian ini sering menghasilkan tipologi yang berbeda-beda. Tipologi yang bermacam-macam ini berkaitan dengan sifat sample dan cara pengukuran yang dipakai.
Dalam hubungan ‘nasib’ yang ‘menimpa’ dirinya orang lanjut usia berbuat berbagai macam aktivitas dengan tingkatan kompetensi yang cukup tinggi. Baik tingkatan problematika yang rendah, baik aktivitas yang tinggi, maupun kompetensi yang besat tidak menjmin kepuasan hidup seseorang, dalam hal ini tidak menjamin ‘optimum aging’ orang usia lanjut. Dalam semua kelompok gaya hidup dapat dijumpai baik pria maupun wanita. Dalam membandingkan berbagai macam biografi orang lanjut usia Thomae menemukan (1983, h.204) betapa besarnya perbedaan yang ada antara mereka. Bahkan bila mereka dapat dibandingkan diantara mereka sendiri dalam kelompok dimensi yang cukup besar. Hal ini menimbulkan keraguan akan kegunaan usaha untuk membagi orang lanjut usia dalam kelompok-kelompok tertentu, baik berdasarkan pengalaman hidup yang mereka terima maupun berdasarkan gaya hidup mereka dalam proses manjadi tua.
2). stabilitas dan perubahan
Bila orang dengan usia tua betul-betul memiliki sifat yang begitu unik maka sebaiknya kita hanya menulis biografinya saja dan tidak perlu mengadakan pengelompokan atas dasar kesamaan antara mereka. Menurut Thomae maka cara tersebut di muka masih lebih baik. Dalam tahun 1976 Thomae telah tidak setuju akan usaha mmengadakan tipologi orang usia lanjut. Citra orang usia lanjut usia merupakan hasil ineraksi antara individu dan lingkungannya. Pola-pola orang menjadi tua merupakan proses biologis, sosial, dan persepsual-motivasional. Thomae menganggap proses tersebut sebagai interaksi antara perubahan-perubahan dalam sepuluh subsystem yang menyebabkan orang lanjut usia begitu berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Kesepuluhan subsystem tersebut adalah:
1. permasalahan nature-nurure (pemasakan-belajar) pada awal proses menjadi tua, misalnya pembawaan, riwayat pendidikan, kebiasaan dalam mengadakan aktivitas fisik dan mental, makanan, hobi, hubungan sosial.
2. perubahan dalam system biologis, misalnya kesehatan, fungsi sensoris, biomorfosa, atau proses penuaan yang primer, kemunduran dalam ingatan.
3. perubahan dalam hubungan sosial, misalnya pidah kepanti, kehilangan temanhidup, sahabat atau keluarga lain, menjalani persahabatan baru, peran sosial baru.
4. situasi sosio-ekonomis dan ekologis,misalnya hal-hal yang berkaitan dengan penghasilan, jaminan sosial,perumahan, kendaraan, jaminan pelaanan medis, dan aturan-aturan preventif.
5. konsistensi dan perubahan sifat-sifat kepribadaian, misalnya dalam hal aktifitas, perhatian, suasana hati, kretivitias, penyesuaian, control diri.
6. konsistensi dan perubahan berbagai macam asfek fungsi kognitif.
7. ruang hidup individual ( life-space) seperti konsep-diri, pengamatan terhadap orang-orang penting (significant others) pengamatan terhadap situasi sosio-ekonomis, politik dan histories, orientasi nilai dan agama, sikap terhadap kematian dan keterbatasan.
8. kepuasan hidup atau keseimbangan yang dicapai antara kebutuhan individual dan situasi kehidupan.
9. kemampuan untuk mengembalikan keseimbangan melalui konfrontasi aktif dan sikap tidak menyerah yang mengakibbatkan tingakah laku prestasi.penyesuaian dan pengaturan kembali kognisi.
10. Kompetensi sosial sebagai ukuran global kemampuan individu untuk memenuhi tuntutan sosial dan biologis.disamping itu juga diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dan mengembangkan kemampuan yang ada pada individu dalam hal ini orang usia tua(bandingkan Thomae, 1976 hal. 161).
Thomae dapat menemukan cara untuk menggambarkan pola-pola proses menjadi tua. Dengan membandingkan beberapa dimensi pada para lanjut usia Thomae dapat mengadakan pengelompokan lanjut usia yang lebih mengarah pada perbedaan di antara mereka dari pada menekankan pada pengelompokan global seperti: kelompok yang mencapai kepuasan dengan mengundurkan diri dari aktivitas dan hubungan sosial (teori disengagement/pelepasan) dan kelompok yang mencapai kepuasan dengan masih tetap aktif dan memelihara hubungan sosial (teori aktivitas).
d) Perspektif ekologis dalam psikogerontologi
Dalam decade yang lampau terdapat perhatian yang besar terhadap psikologis ekologis yang memandang orang dalam interaksinya dengan lingkungan. Psikogerontologi ekologis (Wahl, 1992) melukiskan dan menjelaskan hubungan antara orang lanjut usia dengan lingkungannya. Ingin mengerti hubungan antara pikiran, perasaan, dan sikap orang lanjut usia dengan sifat-sifat fisik dan sosial lingkungannya. Juga diteliti dalam keadaan apa dapat dilakukan proses penyesuaian dan apa akibatnya. Dlam penelitian semacam ini perhatian dipusatkan pada interaksi antara individu dan lingkungan dengan menitikberatkan pada lingkungan alami usia tua.
Bagaimana seseorang menjadi tua dan bagaimana sifat kehidupan orang usia lanjut usia banyak tergantung pada kualitas lingkungan , baik pada tingkatan mikro, maupun pada tingkatan makro. Lingkungan dapat atau tidak dapat memberikan tantangan pada orang lanjut usia untuk menggunakan kemampuan-kemamuannya yang ada pada dirinya. Baik lingkungan fisik (perhatikan panti-panti wreda) maupun lingkungan sosial serta kesa umum mengenai orang lanjut usia biasanya masih agak bersifat negative. Dengan demikian maka aktivitas dan sikap mandiri orang usia tua terhambat.
Lingkungan dalam arti luas sering tidak terlalu ramah terhadap orang lanjut usia, padahal sangat menentukan bagi kepuasan hidup mereka. Wahl (1992, hal.235) menganggap beberapa pertanyaan sangat penting untuk dijawab oleh generasi muda, yaitu: “lingkungan yang bagaimana yang dibutuhkan untuk menjamin suatu perkembangan yang optimal? Bagaimana caranya agar seseorang dapat mempertahankan kemamuan dan kepuasan hidupnya, juga bila ia sudah berkurang ketahanan biologisnya?”.
Waktu yang lampau banyak diteliti mengenai pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku orang lanjut usia, yaitu bagi mereka yang hidup di kota dan mereka yang hidup di desa, juga bagi mereka yang pindah dari lingkungan semula. Pada tinngkatan mikro telah diteliti akibat beberapa bentuk perumahan (misalnya bentuk gedungnya) serta sifat interaksi antara para penghuni panti lanjut usia dan para pengasuh panti tersebut, termasuk usaha intervensi yang dilakukan disitu. Dalam studi intervensi diadakan manipulasi mengenai aspek-aspek situasi perumahan tertentu untuk mengerti efek perubahan yang diadakan itu. Semua penelitian ini ( lihat Saup, 1993; Wahl, 1992) memberikan banyak pengertian mengenai kemungkinan bagi orang lanjut usia untuk mempertahankan kemandiriannya serta kemampuan mereka melalui perubahan situasi lingkungan.
Apa yang disebutkan di muka dapat memberikan kesan bahwa lingkungan dapat merupakan sumber ketegangan stress yang makin lama makin berat dirasakan. Tetaapi dari hasil penelitian terbukti bahwa banyak orang lanjut usia masih mampu, meskipun mengalami banyak kemunduran fisik, untuk secara aktif memberikan arti pada hidupnya dan masih dapat hidup mandiri.
Pada umumnya kedudukan orang usia tua di Indonesia dapat dikatakan menguntungkan. Hal itu disebabkan karena pandangan hidup orang timur masih menghormati orang lanjut usia yaitu sebagai pemberi restu. Bila seseorang melecehkan orang lanjut usia maka hidupnya akan sengsara dan rezekinya akan terhambat.
Orang usia tua seperti halnya orang muda dapat demi kepentingannya sendiri mentransformasi dan memberikan arti baru pada lingkungannya, mereka masih dapat mengatur dirinya sendiri. Nila lingkungan dan situasi sudah tidak dapat dirubah lagi, tinggallah cara-cara kognitif untuk mengatasinya. Bagaimana seseorang mengartikan situasi yang dialaminya sangat menentukan akibat yang ditimbulkannya. Teknik-teknik penyelesaian kognitif ini merupakan unsure sentral dalam teori kognitif integrative mengenai proses menjadi tua yang dikemukakan oleh Thomae.
e) Teori kognitif integratif mengenai orang menjadi tua
Dengan tidak mengecilkan pengaruh lingkungan serta situasi hidup seseorang, makin lama makin diakui peranan individu sendiri dalam memberika arti pada proses ia menjadi tua. Menjadi tua merupakan keadaan social dan keadaan bilogis yang tidak dapat dihindarkan lagi, tetapi disamping itu juga merupakan hasil sumbangan individu itu sendiri. Orang yang menjadi tua tidak secara pasif menerima perubahan dalam fisik maupun lingkungannya. Ia juga mengambil sikap, memilih, memberikan bentuk pada situasi yang dialaminya. Pendapat tersebut diatas merupakan landasan teori kognitif mengenai proses menjadi tua.
Thomae (1970) mencoba untuk mengintegrasikan berbagai teori yang menitik beratkan pada factor-faktor fisiologis dan yang menitik beratkan pada factor-faktor lingkungan, misalnya peran social yang dilakukan oleh individu. Thomae menitik beratkan akan persepsi seseorang terhadap hal-hal yang dialaminya yang selanjutnya memberikan dampak yang berbeda beda pada orang yang satu dengan orang yang lain. Thomae mengemukakan suatu teori yang bertitik tolak pada 3 ketentuan dasar yaitu:
1. Suatu perubahan dalam tingkah laku lebih berhubungan dengan perubahan situasi yang dipersepsi seseorang daripada perubahan obyektifnya sendiri.
2. Sifat persepsi terhadap perubahan situasi tadi tergantung pada kebutuhan pokok pengharapan seseorang atau kelompok.
3. Penyesuaian terhadap keadaan menjadi tua merupakan fungsi keseimbangan antara system kognitif dan motivasional seseorang.
Ketiga ketentuan dasar ini merupakan pernyataan 5 variabel dasar yang saling berhubungan yaitu:
1. Perubahan situasi yang objektif
2. Perubahan yang dipersepsi oleh orang yang bersangkutan
3. Perubahan dalam motivasi
4. Perubahan dalam tingkah laku
5. Penyesuaian terhadap keadaan menjadi tua.
Banyak dilakukan penelitian empiris yang mendukung pendapat Thomae tersebut. Dalam kancah individual Nampak pada contoh sebagai berikut: tingkah laku dan kebiasaan seseorang wanita lanjut usia (variable 4) sesudah mondok dalam panti rawat (variable 1) kurang ditentukan oleh keadaan objektif waktu menjalani perawatan tersebut melainkan lebih ditentukan oleh persepsi mengenai perawatannya itu (variable 2). Dia dapat menganggap perawatan tadi sebagai keadaan yang positif atau sebagai keadaan yang negative. Persepsinya itu selanjutnya dipengaruhi lagi oleh aspek-aspek motivasional (variable 3). Bila wanita lanjut usia yang tinggal di tepi kota tadi merasa tidak aman dan tidak mempunyai kontak social maka tinggal dalam panti tadi dipandang sebagai sesuatu hal yang positif. Sebaliknya hidup dip anti dapat ula dipandang negative bila seseorang masih ingin mempertahankan hidup yang merdeka atau masih menginginkan privasi. Dalam keadaan yang terakhir ini sukar untuk mencapai penyesuaian ataupun keseimbangan. Penyesuaian dan keseimbangan akan dapat dicapai bila wanita lanjut usia tadi dapat memadukan keinginan dan pengaharapannya (variable 4) dengan apa yang dilihat dan dialaminya (variable 2).
Dalam hal ini ia dapat mengubah baik keinginan maupun persepsinya sendiri. Keseimbangan akan terwujud bila orang lanjut usia tadi memperoleh apa yang diinginkan dan menginginkan apa yang diperolehnya.
f) Inteligensi dan kebijaksanaan atau kearifan
Model deficit
Suatu mitos yang bertahan adalah pendapat bahwa menjadi tua berarti mengalami suatu kemunduran intelektual. Khususnya dalam dunia usaha pendapat tersebut dipakai sebagai alas an untuk membenarkan pemberhentian tenaga yang sudah lanjut usia. Model devisit, juga disebujt model dekrimental, mengenai perkembangan kecerdasan lama mendapat dukungan dari hasil penelitian kroseksional dalam tahun 20 dan 30 yang memang menunjukkan bahwa puncak inteligensi psikometris ada pada usia 20 tahun, kemudian lambat laun menurun dengan pasti (adolescence optimum hypothesis). Kritik yang dianjurkan terhadap hasil penelitian ini adalah kelemahan yang ada pada metode kroseksional yang sulitmembedakan antar pengaruh bertambahnya usia dan pengaruh kohort kelahiran. Juga perlu diperhatikan bahwa inteligensi bukan merupakan pengertian unidimensional. Paling tidak dapat membedakan antara apa yang disebut fluid intelligence dan crystallized intelligence. Fluid intelligence adalah kelincahan berfikir suatu aspek inteligensi yang berhubungan dengan factor pembawaan dan fungsi-fungsi fisik; crystallize intelligence berhubungan dengan kebudayaan dan hasil pelajaran sepanjang hidup, yaitu inteligensi yang diperoleh melalui belajar dan pengalaman, seperti misalnya pengetahuan umum dan bahasa.
Ketika schaie mengemukakan bahwa kemunduran intelegensi pada para lanjut usia merupakan suatu mitos saja, maka antara lain Horn dan Donaldson (1976) menganggap pendapat Schaie tersebut sebagai terlalu optimis. Mereka menunjukkan bahwa strategi apapun yang digunakan namun pengambilan sampel itu tidak akan refsentatif. Hal ini yang dapat dipertanyakan adalah apakah masih ada kemunduran bila dalam sampel yang diteliti dihilangkan semua yang sakit, berhubung beberapa penyakit terkait dengan usia seseorang. Penelitian longitudinal yang menggunakan beberapa kali pengukuran menunjukkan adanya peningkatan hasil prestasi, meskipun ada keusangan sampel dan efek belajar.horn dan Donaldson menganggap cukup realistis bila terdapat kemunduran inteligensi khususnya mulai usia 50 tahun. Mereka memperingatkan adanya suatu mitos lain yang timbul yaitu bahwa orang menjadi tua itu tidak mengalami perubahan apapun. Terhadap pendapat tersebut diatas, Schaie mengemukakan konklusi sebagai berikut (Schaie, 1980, p 270-280):
1. Perubahan intelektual dan kemunduran keterampilan dalam berbagai pengatasan masalah pada mereka yang belum mencapai akhirusia 50 yahun adalah patologis dan tidak normal.
2. Diantara usia awal 60 dan pertengahan 70 terdapat kemunduran yang normal mengenai beberapa keterampilan tertentu pada orang-orang tertentu; diatas usia 80 tahun biasanya terjadi kemunduran pada kebanyakan orang.
3. Bagi kebanyakan orang kemunduran terjadi pada awal usia 50 mengenai keterampilan yang membutuhkan kecepatan reaksi, dan keterampilan yang banyak dipengaruhi oleh syaraf perifer.
4. Kemunduran pada berbagai keterampilan juga dikemukakan pada orang-orang dengan penyakit jantung koroner yang serius lepas dari usia, juga pada orang-orang yang hidup pada lingkungan social yang lebih rendah dan serba kekurangan.
5. Berhubung perubahan social-kultural yang sangat cepat, maka orang-orang yang ada pada usia akhir lima puluhan atau lebih tua mengalami keadaan “penuaan” dalam arti absolescence (tidak terpakai). Dalam perbandingan dengan mereka yang lebih muda prestasi orang lanjut usia lebih rendah, juga meskipun prestasi mereka tidak berbeda dengan waktu sebelumnya.
6. Bagi psikologi klinis perlu untuk membedakan antara kemunduran individual dengan kemunduran karena penuaan. Terhadap kasus yang pertama dibutuhkan intervensi penyembuhan, terhadap kasus yang kedua dibutuhkan pendidikan pemulihan atai remedient.
7. Data mengenai tingkah laku penyelesain maslah pada waktu ini kurang jelas karena sampai sekarang masukan baru dating dari hasil penelitian kros-seksional. Yang perlu diketahui adalah bahwa tidak banyak buktu yang menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan intelektual antara orang lanjut usia dan orang yang masih muda.
Model perkembangan dan penurunan
Melalui analisa factor hasil tes inteligensi dikemukakan adanya kurang lebih 50 fungsi kecerdasan yang primer. Dan kumpulan fungsi tersebut, juga melalui analisa factor diketemukan dua fungsi mental yang oleh Cattell, seperti telah disinggung dimuka, disebut Fluid intelligence dan Cristallized intelligence. Tes untuk mengungkap fluid intlliegence lebih banyak bersifat bebas budaya misalnya yang berhubungan dengan pengamatan dan tingkah laku (tes persepsual dan tes performal) serta beberapa tes pendapat dan penalaran.
Tes mengenai crystallized intelligence menyangkut bentuk-bentuk kemampuan dalam member pendapat sebagai hasil pengalaman dan belajar dalam suatu kebudayaan tertentu. Cristallized intelligence memberikan ukuran sampai seberapa jauh seseorang menginternalisasi inteligensi kolektif kebudayaannya. Crystallized intelligence dan Fluid intelligence juga berhubungan dengan berbagai macam cara penguasaan ilmu. Fluid intelligence berkaitan dengan perkembangan cara-cara yang sangat pribadi, sedangkan crystallized intelligence ditandai oleh penggunaan caracara yang spesifik untuh suatu kebudayaan tertentu.
Mengenai perbedaan usia dalam kaitan dengan fluid intelligence, crystallized intelligence, ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang banyak dilakukan penelitian. Hasil tes mengenai factor-faktor sesudah usia 20 tahun Nampak adanya kemunduran prestasi yang jelas pada fluid intelligence serta pada ingatan jangka pendek. Namun kita harus cukup berhati-hati dalam menginterpretasi kemunduran dua factor yang saling berhubungan tadi. Kemunduran dalam ingatan dapat terjadi tanpa kemunduran dalam fluid intelligence dan sebaliknya.
Pada Cristallized intelligence tidak Nampak ada kemundurang dengan bertambahnya usia, bahkan sebaliknya secara rata-rata Nampak adanya kemjuan. Hal ini juga diketemukan pada ingatan jangka panjang. Kedua factor ini dapat berkembang sendiri-sendiri tidak tergantung satu sama lain. Horn dan Donaldson (1980) mengakui adanya perbedaan yang besar pada kurve inteligensi orang yang satu dengan yang lain. Juga tidak dikemukakan dalam menentukan fungsi-fungsi yang maju dan yang mundur, bagaimana seseorang menggunakan fungsi-fungsi tersebut dalam melaksanakan tugasnya sehari hari. Persoalannya adalah sampai seberapa jauh orang dewasa dan lanjut usia menggunakan fungsi-fungsi ini untuk dapat mencapai kepuasan dalam hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan dikaji lebih lanjut pada pasal yang berikut.
Model perbaikan dan penggantian terarah
Model yang diformulasi oleh Baltes dan kawan-kawan (Baltes dan Dittmann-Kohli, 1982; Baltes, dkk, 1984) menggarisbawahi perbedaan yang besar dalam penggunaan fungsi intelektual dalam praktik kehidupan.
Baltes, dkk. Memperluas penggunaan arti inteligensi. Mereka mengartikan inteligensi lebih luas daripada apa yang merupakan hasil tes inteligensi saja. Berprilaku inteligen merupakan fenomena dalam konteks kehidupan sehari-hari dan fenomena sepanjang kehidupan. Mereka mendasarkan diri pada 4 landasan hasil penelitian, yaitu:
1. Fenomena inteligensi mempunyai banyak dimensi (multidimensional)
2. Proses perkembangannya tidak sama pada semua orang, arahnya berbeda-beda (multidireksional)
3. Tingkatan berfungsinya dan berkembangya intelektual seseorang berbeda antara orang lain yang satu dengan orang yang lain (variabilitas interindividual)
4. Arah jalan dan tingkat perkembangan apa yang pernah dicapai dapat saja berubah (plastisitas intra-individual).
Menurut model ini fluid intelligence dan Cristallized intelligence hanya meliputi sebagian kecil inteligensi pada usia dewasa. Perluasan arti daripada model ini dilandasi pendapat bahwa seseorang dapat melakukan banyak hal secara inteligen dan juga secara tidak inteligen. Wanita yang dengan terampil melaksanakan tugas-tugas rumah tangganya memang sering mendapatkan pujian namun pekerjaannya itu jarang dipandang sebagai prilaku yang inteligen. Untuk menempatkan aktivitas ini dalam lingkup yang sesuai, maka Baltes dkk. Membedakan adanya dua jenis proses kogniftif yang berkaitan dengan berpikir murni dan proses kognitif yang berkaitan dengan berfikir terapan. Baltes dkk. Menyebutnya sebagai proses kognitif yang pertama dan proses kognitif yang kedua. Seseorang dapat sangat terampil dalam kedua jenis proses tadi.
Proses kognitif yang pertama meliputi proses kognitig yang fundamental, bebas daripada isi. Baltes dkk. Menyebutnya sebagai “congnition qua congnition”, dengan lain perkataan merupakan “mekanik atau landasan pengolahan informasi dan penyelesain problem” (Baltes, Dittman-Kohli & Dixon, p 63). Hal ini berkaitan dengan mekanik inteligensi yang berkaitan dengan tugas-tugas mengenai hubungan, klasifikasi dan penalaran logis. Mengerti akan konstruksi logika formal serta aktivitas kignitif yang dibutuhkan juga merupakan bagian yang esensial proses kognitif yang pertama tersebut. Sejauh kemampuan itu dapat diukur dengan tes, maka hal tadi dapat digolongkan kedalam fluid intelligence.
Proses kognitif yang kedua berkaitan dengan fungsi penerapannya terhadap sesuatu keadaan tertentu. Penerapan ini ditandai oleh prilaku pragmatis, yaitu melakukan penyesuaian secara inteligen terhadap keadaan kehidupan dalam artinya yang luas.
Dalam awal rentang kehidupan terutama kemampuan kognitif murni mulai berkembang. Dalam masa dewasa maka mekanik inteligensi yang telah berkembang ditampung dalam pragmatic inteligensi. Berhunbung kemampuan inteligensi primer (proses pertama) merupakan hal yang potensial, maka orang dewasa terutama mengembangkan keterampilan yang berhubungan dengan proses inteligensi yang kedua. Berdasarkan pengalaman apa yang ditemuinya dalam hidup, maka orang s\dewasa akan mengembangkan keterampilan intelektual yang tergolong dalam prilaku yang pragmatis. Perkembangan intelektual berakhir pada keterampilan keahlian dalam suatu bidang tertentu, dalam kompetensi social dan kadang-kadang dalam sikap arif dan bijaksana.
g) Seksualitas dan intimitas
Sifat hubungan seks dengan orang lain berubah selama masa dewasa dan masa lanjut usia. Penyebab perubahan ini ada dalam perubahan biologis, perubahan dalam hubungan social, pengharapan dan norma masyarakat dan menumpuknya pengalaman hidup serta integrasinya dalam sejarah pribadi orang yang bersangkutan.
h) Perkembangan dan perubahan dalam empati dimensi seksualitas
Menurut Van Conde Boas (Vijs, 1976) seksualitas dapat dibedakan dalam empat dimensi:
1. Proses reproduksi
2. Dimensi kenikmatan
3. Dimensi hubungan atau relasi
4. Institusionalisasi
Dalam usia dewasa akhir daya kemampuan seksual baik pada wanita maupun pria mengalami kemunduran, namun tidaklah berarti bahwa kenikmatan seks hilang sama sekali, hanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai orgasme, sedangkan orgasmenya sendiri berlangsung lebih pendek.
Perubahan fisiologis dalam seksualitas ini tidak mengandung arti bahwa dalam keadaan normal orang dewasa akhit atau usia tua tidak dapat menikmati hubungan seks lagi. Dalam hal ini kebudayaan masyarakat ikut mempengaruhi, begitu pula factor kesehatan juga menetukan. Pandangan bahwa hubungan seks pada usia dewasa akhir tidak terpuji ataupun dapat menimbulkan penyakit perlu dihilangi lebih dulu, khususnya di Indonesia.
Kenikmatan seksual, juga pada dewasa akhir tetap membutuhkan hubungan yang mendalam antara suami dan istri. Sangkar kosong dapat menyebabkan suami dan istri saling menemukan kembali, sehingga masing-masing dapat mencapai kenikmatan seksual lagi.
Di Barat diketemukan bahwa sesudah usia 50 tahun frekuensi hubungan seks menurun baik pada laki-laki maupun wanita, meskipun pada laki-laki masih lebih aktif sepanjang hidup. Wilson (1975) menemuka bahwa 25% laki-laki usia 60 tahun ke atas dan 50% wanita usia 60 tahun ke atas tida lagi melakukan hubunga seksual. 27% dari kelompok laki-laki melakukan hubungan seks sekali sebulan, pada kelompok wanita 12%. Penurunan frekuensi yang drastic dalam hubungan seks ini diketemukan sekitar usia 75 tahun.
Perbedaan antara laki-laki dan wanita selalu Nampak. Kehidupan laki-laki lebih bewarna seksual disbanding wanita. Mungkin hal ini dapat terjadi karena wanita, khususnya di Indonesia lebih terhambat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai seks.
i) Preverensi tempat tinggal dan perlakuan yang diinginkan pada usia dewasa akhir
Di Indonesia pada dewasa ini telah terjadi perubahan keadaan dalam hidup orang tua. Kalau semula anak-anak lama tinggal bersama orang tua, maka sekarang berkumpulnya anak dengan orang tua menjadi langka. Hal ini disebabkan karena mobilitas yang tinggi, misalnya:
1. Anak sekolah di kota lain, mungkin di luar negeri, sehingga terjadi apa yang disebut sangkar kosong.
2. Orang tua yang sudah lanjut usia terpaksa tidak dapat dirawat oleh anak-anaknya Karena anak-anak bekerja di tempat lain, mungkin cukup jauh misalnya di luar negeri dan orang tua yang sudah lanjut tidak dapat dibawa, padahal membutuhkan perawatan.
Keadaan tersebut menimbulkan kebutuhan akan alternative lain untuk perawatan orang tua, salah satu alternative adalah menyediakan tempat perawatan atau panti werda yang berbentuk settlement. Kalau bagi lower class sudah disediakan oleh Kanwil Despos berwujud panti werda, maka settlement yang dimaksud di atas adalah untuk kelas menengah ke atas dengan fasilitas yang cukup, maka penghuninya juga harus membayar.
C. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Usia Dewasa Akhir
1. Pengkajian
a. Pengkajian pada keluarga
1) Identitas : Nama KK, alamat, komposisi keluarga (nama, jenis kelamin, hubungan keluarga, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, pekerjaan),dan genogram (genogram dari tiga generasi), tipe keluarga, suku/budaya yang dianut keluarga, agama yang dianut dalam keluarga, status social, aktivitas keluarga.
2) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga :
a) Tahap perkembangan keluarga saat ini, ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.
b) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya.
c) Riwayat keluarga inti, menjelaskan riwayat kesehatan pada keluarga inti, meliputi: riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota, dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga seperti perceraian, kematian, dan keluarga yang hilang.
d) Riwayat keluarga sebelumnya, keluarga asal kedua orang tua (seperti apa kehidupan keluarga asalnya) hubungan masa silam dan saat dengan orang tua dari kedua orang tua.
3) Lingkungan : Karakteristik rumah, karakteristik lingkungan, mobilitas keluarga, hubungan keluarga dengan lingkungan, system social yang mendukung.
4) Struktur keluarga :
a) Pola komunikasi, menjelaskan cara berkomunikasi antar anggota keluarga, pesan yang disampaikan, bahasa yang digunakan, komunikasi langsung atau tidak, adakah hal-hal yang tertutup atau tidak, frekuensi, kualitas komunikasi, dan pesan emosional (negative/positif).
b) Pengambil keputusan, siapa yang membuat dan memutuskan keputusan dalam keluarga, penggunaan keuangan, model kekuatan atau kekuasaan yang digunakan keluarga dalam membuat keputusan.
c) Peran anggota keluarga, peran formal dan informal dalam keluarga, apakah ada konflik peran dalam keluarga, berapa kali dan bagaimana peran tersebut dilaksanakan secara konsisten.
d) Nilai- nilai yang berlaku di keluarga, menjelaskan mengenai nilai norma yang dianut keluarga dengan kelompok atau komunitas, apakah sesuai dengan nilai norma yang dianut, seberapa penting nilai yang dianut,latar belakang budaya yang mempengaruhi nilai-nilai keluarga, bagaimana nilai-nilai keluarga mempengaruhi status kesehata keluarga.
5) Fungsi keluarga
a) Fungsi afektif, menjelaskan pola kebutuhan keluarga, apakah keluarga merasakan dan dapat menggambarkan kebutuhan mereka.
b) Fungsi sosialisasi, menjelaskan apakah ada otonomi setiap anggota dalam keluarga, apakah saling ketergantungan, dll.
c) Fungsi perawatan kesehatan, menjelaskan sejauh mana keluarga mengenal masalah kesehatan dalam keluarganya, pengetahua keluarga mengenai konsep sehat sakit, kesanggupa keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga, dll.
b. Pengkajian pada klien
1) Identitas klien: Nama, usia, jenis kelamin, agama, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
2) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan keluhan sakit yang dirasakan klien pada tahap usianya saat ini, bagaimana pandangan klien tentang kesehatannya, perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan.
b) Riwayat kesehatan dahulu
Tanyakan pada klien tentang penyakit yang pernah dialaminya pada masa lalu yang mempengaruhi kondisinya saat ini.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan riwayat penyakit genetic dan penyakit keluarga pada masa lalu dan masa sekarang seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, hipertensi, kaker, stroke, da arthritis reumatis, penyakit gagal ginjal, tiroid, asma, alergi, penyakit-penyakit darah, dll.
d) Riwayat kesehatan psikososiospiritual
1. Tanyakan kebiasaan klien dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan minum obat. Pemeriksaan psikologis dilakukan saat berkomunikasi dengan klien, untuk mengetahui fungsi kognitif, termasuk daya ingat, proses pikir, alam perasaan, orientasi terhadap realitas, dan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.
2. Kaji bagaimana klien membina keakraban dengan keluarga dan masyarakat, kesibukan klien mengisi waktu luang, perasaan sejahtera dalam kaitannya dengan social ekonomi.
3. Kaji keyakinan agama yang dimiliki dan sejauh mana keyakinan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Pemeriksaan fisik
Pada usia dewasa akhir (60 tahun ke atas) terjadi penurunan fungsi fisiologis tubuh. Untuk itu pemeriksaan fisik pada klien dewasa akhir perlu dilakukan dengan pengkajian pada system tubuh di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Sistem integument
Amati kulit lansia, adakah jaringan parut, keadaan rambut, kuku, kebersihan lansia secara umum, dan gangguan lain yang umum pada kulit.
2. Sistem respirasi
Bagaimana dengan pernafasan lansia, adakah gangguan pada system pernafasan, adakah sessak nafas, apakah menggunakan alat bantu, apakah terdengar ronkhi, wheezing, dll.
3. System musculoskeletal
Amati kondisi lansia apakah terdapat kontarktur pada sendi, bagaimana dengan tingkat mobilisasinya, adakah gejala atau tanda kifosis, dan adanya gerakan sendi yang terbatas.
4. System kardiovaskuler
Adakah keluhan pusing, sakit kepala, tanda edema pada ekstremitas bawah dan ekstremitas atas, pembengkakan pada vena jugularis, sirkulas darah perifer, warna, serta kehangatannya.
5. System gastrointestinal
Adakah keluhan mual,muntah, bagaimana asupan dietnya, status gizi secara umum, kondisi klien saat makan dikunyah atau langsung ditelan, keadaan gigi, adakah bising usus, tanda distensi abdomen, gangguan konstipasi atau obstipasi, serta diare atau tanda inkontinensia alvi.
6. System perkemihan
Bagaimana dengan warna dan bau urine, adakah distensi kandung kemih, tanda disuri, poliuri, anuria, inkontinensia uri, frekuensi urine, dan tanyakan berapa pemasukan dan pengeluaran cairan klien.
7. System persarafan
Apakah ada paralisis, parese/ hemiplegic, dll.
8. System sensorik
Pengelihatan: pengelihatan tidak terlalu jelas atau kabur;berapa jerak pandang (untuk melihat, membaca, atau menulis). Pendengaran: bagaimana pendengaran klien apakah menurun, pengecapan: bagaimana kemampuan klien mengunyah makanan. Penciuman : adakah gangguan penciuman terhadap bau-bauan.
c. Diagnosa keperawatan keluarga
1. Gangguan gambaran diri pada keluarga dengan klien dewasa akhir yang berhubungan dengan persepsi klien yang keliru terhadap diri sendiri.
2. Resiko tinggi hubungan keluarga tidak harmonis yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mempertahankan keharmonisan keluarga.
3. Perubahan hubungan keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat klien dewasa akhir.
a. Intervensi keperawatan keluarga
No.Dx Tujuan Kriteria
Hasil Standar Intervensi
1
2.
3.
Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga dapat mengetahui masalah yang dialami anggota keluarga.
Khusus:
a. Keluarga dapat menjelaskan masalah yang dialami klien.
b. Keluarga mampu menyebutkan factor penyebab masalah yang dialami klien.
c. Keluarga dapat mengajarkan konsep diri yang positif pada klien.
Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga dapat membina hubungan yang baik antar anggota keluarga.
Khusus :
a. Keluarga mampu mengidentifikasi factor penyebab ketidakharmonisan keluarga.
b. Keluarga dapat menjelaskan tugas perkembangan keluarga
c. Keluarga dapat menjelaskan cara mengatasi masalah yang terjadi pada klien dewasa akhir.
Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga dapat mengetahui cara merawat klien.
Khusus :
a. Keluarga dapat mengetahui cara merawat klien.
b. Keluarga dapat mengidentifikasi sumber dukungan yang ada disekitar keluarga.
c. Keluarga dapat menyebutkan dampak hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga.
Verbal
Pengetahuan
Verbal
Pengetahuan
Verbal
Pengetahuan
a. Klien dan keluarga mampu mengenal masalah yang dialami.
b. Klien dan keluarga mampu menyebutkan factor penyebab masalah yang dialami.
c. Klien dan keluarga dapat mengetahui konsep diri yag positif.
a. Klien dan keluarga mampu mengidentifikasi factor penyebab ketidakharmonisan dalam keluarga.
b. Klien dan keluarga dapat menjelaskan tugas perkembangan keluarga.
c. Klien dan keluarga mampu menjelaskan cara mengatasi masalah.
a. Klien dan keluarga dapat mengetahui cara perawatan kesehatan.
b. Klien dan keluarga dapat mengidentifikasi sumber dukungan yang ada.
c. Klien dan keluarga dapat menyebutkan dampak hubungan yang tidak harmonis.
a. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tentang masalah yang dialami klien.
b. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tentang factor penyebab dari masalah yang dialami klien.
c. Ajarkan kepada keluarga untuk memberi dukungan terhadap keadaan diri klien.
d. Ajarkan kepada keluarga setiap diskusi perlu diambil suatu keputusan yang terbaik.
a. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) factor penyebab ketidakharmonisan keluarga.
b. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tugas perkembangan keluarga.
c. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tugas perkembangan dewasa akhir yag harus dijalani.
d. Ajarkan cara menyelesaikan masalah.
e. Berikan pujian bila keluarga dapat mengenali penyebabnya atau mampu membuat alternative.
a. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tentang cara merawat klien.
b. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tentang bahaya jika hubungan keluarga tidak harmonis saat anggota keluarga sakit.
c. Kaji sumber dukungan yang ada disekitar keluarga.
d. Ajarkan anggota keluarga memberikan dukungan terhadap upaya pertolongan yang telah dilakukan.
e. Ajarkan kepada keluarga untuk menyelesaikan masalah klien dewasa akhir dengan keluarga.
InaNurse
Kamis, 12 Januari 2012
ASKEP OSTEOMIELITIS ARTRITIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendo, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Beragamnya jaringan dan organ sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Beberapa gangguan tersebut timbul primer pada sistem itu sendiri, sedangkan gangguan yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek pada sistem muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang masih sering terjadi di dunia. Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Banyak mitos yang berkembang tentang penyakit ini, seperti diyakinkan bahwa informasi, akan berlanjut menyebar pada tulang dan akhirnya seluruh tubuh. Padahal yang sebenarnya adalah osteomielitis tidak menyebar ke bagian lain tubuh karena kelenjar lain tersebut punya aliran darah yang baik (terproteksi oleh sistem imun tubuh). Kecuali apabila terdapat sendi buatan di bagian tubuh yang lain dalam keadaan ini benda asing tersebut menjadi pathogen.
Osteomielitis dapat terjadi pada semua usia tetapi sering terjadi pada anak-anak dan orang tua, juga pada orang dewasa muda dengan kondisi kesehatan yang serius dan diagnosa osteomielitis ditentukan berdasarkan gambaran klinis penyakit dan juga gambaran radiologik.
Selain infeksi pada tulang, infeksi juga dapat menyerang persendian. Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius yang cepat merusak kartilago hyaline artikular dan kehilangan fungsi sendi yang ireversibel. Diagnosis awal yang diikuti dengan terapi yang tepat dapat menghindari terjadinya kerusakan sendi dan kecacatan sendi. Insiden septik artritis pada populasi umum bervariasi 2-10 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden ini meningkat pada penderita dengan peningkatan risiko seperti artritis rheumatoid 28-38 kasus per 100.000 per tahun.
1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan Muskuloskeletal II tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Infeksi Muskuloskeletal: Osteomielitis dan Artritis.
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik.
2. Mengetahui penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik
3. Mengetahui patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik
4. Mengetahui manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik.
5. Mengetahui evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik
6. Mengetahui penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik.
7. Mengetahui proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik?
2. Bagaimana penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik?
3. Bagaimana patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik?
4. Bagaimana manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik?
5. Bagaimana evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik?
6. Bagaimana Penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik?
7. Bagaimana Proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik?
1.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Data ataupun pembahasan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa referensi yaitu buku-buku atau sumber bacaan yang relevan serta media-media lain yang mendukung.
BAB II
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : OSTEOMIELITIS
2.1 DEFINISI OSTEOMIELITIS
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomeilitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
1. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
2. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
3. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
4. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streplococcus dan organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adalah infeksi lain.
2.2 ETIOLOGI OSTEOMIELITIS
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
2.3 KLASIFIKASI OSTEOMIELITIS
Menurut kejadiannya osteomyelitis ada 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer Kuman-kuman mencapai tulang secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder Adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran nafas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan osteomyelitis menurut perlangsungannya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
1. Nyeri daerah lesi
2. Demam, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional
3. Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka
4. Pembengkakan lokal
5. Kemerahan
6. Suhu raba hangat
7. Gangguan fungsi
8. Lab = anemia, leukositosis
b. Osteomyelitis kronis
1. Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri
2. Gejala-gejala umum tidak ada
3. Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur
4. Lab = LED meningkat
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
a. Staphylococcus (orang dewasa)
b. Streplococcus (anak-anak)
c. Pneumococcus dan Gonococcus
2.4 INSIDEN OSTEOMIELITIS
Osteomyelitis ini cenderung terjadi pada anak dan remaja namun demikian seluruh usia bisa saja beresiko untuk terjadinya osteomyelitis pada umumnya kasus ini banyak terjadi laki-laki dengan perbandingan 2 : 1.
2.5 PATOFISIOLOGI OSTEOMIELITIS
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik.
Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.
2.6 MANIFESTASI KLINIS OSTEOMIELITIS
Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitannya mendadak, sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum). Gejala sismetik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul.
Bila osteomielitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak akan ada gejala septikemia. Daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri dan nyeri tekan.
Pasien dengan osteomielitis kronik ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat menjadi pada jaringan parut akibat kurangnya asupan darah.
2.7 PENCEGAHAN OSTEOMIELITIS
Sasaran utamanya adalah Pencegahan osteomielitis. Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.
Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan potensial terjadinya osteomielitis.
2.8 PENATALAKSANAAN OSTEOMIELITIS
Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.
Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : ARTRITIS SEPTIK
2.9 DEFINISI ARTRITIS SEPTIK
Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme. Secara normal, sendi dilumasi dengan jumlah kecil dari cairan yang dirujuk sebagai cairan sinovial (synovial fluid) atau cairan sendi. Cairan sendi yang normal adalah steril dan, jika dikeluarkan dan dipelihara (dikulturkan) dalam laboratorium, tidak ada mikroba-mikroba yang akan ditemukan. Dengan septic arthritis, mikroba-mikroba dapat diidentifikasi dalam suatu cairan sendi yang terpengaruh.
Paling umum, septic arthritis mempengaruhi suatu sendi tunggal, namun adakalanya lebih banyak sendi-sendi yang dilibatkan. Sendi-sendi yang terpengaruh sedikit banyak bervariasi tergantung pada mikroba yang menyebabkan infeksi dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi orang yang terpengaruh. Septic arthritis juga disebut infectious arthritis. Artritis septic sendiri mempunyai banyak pengertian, diantaranya :
1. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2.10 ETIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah. Trauma sendi sebelumnya, arthritis yang menyertai, dan menurunnya kekebalan penderita mempengaruhi terjadinya infeksi sendi lutut. Gonococci dan stapilococci serta Haemophilus influenzae penyebab utama infeksi sendi pada orang dewasa. Penemuan dan penangan yang segera pada infeksi sendi sangat penting karena timbunan pus dapat menyebabkan kondrolisis (kerusakan kartilago hyalin), yang penyembuhannya sangat buruk. Pada individu-individu "berisiko tinggi" yang tertentu, bakteri-bakteri lain mungkin menyebakan septic arthritis, seperti E. coli dan Pseudomonas spp. pada orang-orang penyalahguna obat-obat intravena dan orang-orang tua, Neisseria gonorrhoeae pada dewasa-dewasa muda yang aktif secara seksual, dan Salmonella spp. pada anak-anak muda atau orang-orang dengan penyakit sel sabit. Bakteri-bakteri lain yang dapat menyebabkan septic arthritis termasuk Mycobacterium tuberculosis dan spirochete bacterium yang menyebabkan penyakit Lyme.
Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko artritis septik:
1. Sendi implan Buatan
2. Bakteri infeksi di tempat lain dalam tubuh
3. Penyakit kronis atau penyakit (seperti diabetes, rheumatoid arthritis dan penyakit sel sabit)
4. Penggunaan narkoba intravena (IV) atau dengan injeksi
5. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh
6. Trauma sendi Terbaru
7. Artroskopi sendi terbaru atau operasi lain dalam sendi
Septic arthritis dapat dilihat pada usia berapa pun. Pada anak-anak, itu terjadi paling sering pada mereka yang di bawah 3 tahun. Pinggul adalah sebuah situs sering infeksi pada bayi. Artritis septik jarang terjadi dari usia 3 sampai remaja. Anak-anak dengan artritis septik lebih mungkin dibandingkan orang dewasa terinfeksi dengan kelompok B streptokokus dan Haemophilus influenza jika mereka divaksinasi.
2.11 PATOFISIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Septic arthritis berkembang ketika bakteri menyebar melalui aliran darah ke sendi. juga dapat terjadi ketika sendi secara langsung terinfeksi dengan bakteri selama cedera atau operasi. daerah yang paling umum untuk jenis infeksi lutut dan pinggul.
2.12 MANIFESTASI KLINIS ARTRITIS SEPTIK
Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis. Pengkajian adanya focus primer infeksi (misalnya adanya karbunkel) harus dicari. Pasien lansia dan orang yang memakai kortikosteroid atau obat imunosupresif mungkin tidak memperlihatkan manifestasi klinis yang khas untuk adanya infeksi.
Gejala klinis yang tampak pada bayi berbeda dengan pada anak-anak dan dewasa, yaitu : Bayi
1. Dapat ditemukan kekakuan pada sendi yang terkena
2. Nyeri pada pergerakan sendi
3. Dapat terjadi demam, namun gejala ini bukan patokan utama
4. Dapat terjadi dislokasi patologik pada sendi pada minggu kedua.
Gejala klinis pada: Anak-anak dan dewasa
1. Anak-anak dan orang dewasa dapat memberitahu lokasi terjadinya sakit dan nyeri yang timbul saat pergerakkan
2. Karena sendi sakit, maka tubuh secara otomatis berusaha untuk melindunginya dengan mengontraksikan otot-otot disekitar sendi
3. Kekakuan sendi jelas terlihat
4. Adanya demam
2.13 PENATALAKSANAAN ARTRITIS SEPTIK
Konservatif Pemberian antibiotik dapat dilakukan sebelum operasi dilakukan. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi. Istirahat, imobilisasi, elevasi, dan kompres dingin bisa membantu mengurangi rasa sakit. Melakukan latihan dalam sendi yang terkena membantu proses pemulihan. Jika cairan sendi (synovial fluid) menumpuk cepat dalam sendi sebagai akibat dari infeksi, Anda mungkin perlu sering aspirasi cairan dengan memasukkan jarum ke dalam sendi. Pada kasus yang berat mungkin memerlukan pembedahan untuk mengeringkan cairan dari sendi yang terinfeksi.
Operasi Tujuan utama dilakukannya operasi adalah untuk membersihkan nanah yang ada pada sendi sehingga tidak terjadi kerusakan yang lenjut pada sendi. Operasi dapat dilakukan secara tertutup (arthroskopi lavage) atau dengan pembedahan terbuka. Jika penyakit ini sudah lanjut, maka dapat dilakukan arthrodesis, yaitu penyatuan sendi, untuk menghilangkan nyeri, meningkatkan stabilitas, dan mengoreksi kelainan bentuk yang ada. Namun cara ini akan mengakibatkan hilangnya pergerakan sendi.
Rehabilitasi Pada model percobaan, dengan menggunakan tehnik Continuous Passive Motion (CPM), ternyata dapat mencegah tulang rawan sendi dari kerusakan.
2.14 KOMPLIKASI ARTRITIS SEPTIK
Komplikasi Dini
1. Kematian
2. Kerusakan sendi
3. Dislokasi patologik dari sendi
4. Kematian tulang
Komplikasi Lanjut
1. Penyakit degeneratif pada sendi
2. Dislokasi permanen
3. Fibrous ankylosis
4. Bone ankylosis
PROSES KEPERAWATAN PADA INFEKSI MUSKULOSKELETAL: OSTEOMIELITIS DAN ARTRITIS
2.15 PENGKAJIAN
2.15.1. PENGKAJIAN PADA OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien yang datang dengan awitan gejala akut (mis. Nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat dan nyeri tekan. Pada osteomielitis akut, pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi. Pada osteomielitis kronik, peningkatan suhu mungkin minimal, yang terjadi pada sore dan malam hari.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Memperlihatkan adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat yang nyeri tekan. Cairan purulen dapat terlihat. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
Pengkajian Nyeri
a. Provokes/ Palliativ : Pemicu terjadinya nyeri yaitu adanya infeksi, trauma (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang ).
b. Quality / Quantity : Kualitas dari nyeri seperti ditusuk, terbakar, sakit seperti digencet. Kuantitas dari nyeri, dimana nyeri terjadi beberapa menit, jam, hari, bulan, dsb ).
c. Region /radiasi ; daerah di mana nyeri terjadi pada organ tubuh yaitu pada osteo atau daerah tulang.
d. Severe / scale : intensitas nyeri
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
e. Time : waktu terjadinya nyeri, pada waktu pagi hari, siang, atau malam hari.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada fase akut ditemukan CPR yang meninggi, laju endap darah yang meninggi dan leukosit meningkat.
b. Pemeriksaan radiologik
Pada fase akut gambaran radiologic tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu involukrum dan skuester.
c. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 l gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
d. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella.
e. Bone scan
Pada pemeriksaan sidik tulang dengan menggunakan tehcnetum-99 maka akan terlihat gambaran abnormal dari tulang berupa peningkatan uptake pada daerah yang aliran darahnya meningkat dan daerah pembentukan tulang yang cepat. Dengan sidik tulang ini juga dapat ditemukan atau ditentukan lokasi terjadinya infeksi atau dapat juga dengan menggunakan gallium.
f. X Ray
Pada fase akut belum terlihat kelainan-kelainan patologis pada tulang dan hanya dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak saja, setelah lebih dari 10 hari baru ada perubahan pada gambar X ray yaitu gambaran “Brodies ances”.
2.15.2. PENGKAJIAN OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. Rheumatoid artritis, diabetes, penyakit sel sabit, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak, menggigil sistemik dan demam.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Adanya nyeri sendi, pembengkakan dengan penurunan rentak gerak. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin dapat menunjukkan adanya peningkatan sel darah putih dan laju endap darah. Jika terdapat kecurigaan kearah artritis septik akut, maka perlu dilakukan segera aspirasi dengan jarum pada sendi yang terkena sebagai langkah diagnostik dan juga untuk mengetahui bakteri apa yang menginfeksi supaya penanganannya tepat. Penemuan sel darah putih yang lebih dari 100.000/ml pada aspirasi jarum merupakan tanda kuat terjadinya artritis septik akut. Pemeriksaan foto roentgen dan juga ultrasonografi pada minggu pertama dapat menunjukkan terjadinya pembengkakan.
2.16 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan .
.
2.17 INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Diagnosa: nyeri berhubungan dengan imflamasi dan pembengkakan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang dan terkontrol.
Criteria hasil:
1. Menunjukkan nyeri berkurang atau terkontrol.
2. Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan beraktifitas sesuai kemampuan.
3. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
4. Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan kedalam program control nyeri.
INTERVENSI RASIONAL
1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas( skala 0-10). Catat factor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
2. Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi.
4. Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
5. Dorong untuk mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong tulang yang sakit di atas dan di bawah,hindari gerakan yang menyentak.
6. Libatkan dalam aktifitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
7. Berikan masase yang lembut. - membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.
- matras yang lembut atau empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada tulang yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada tulang yang terinflamasi/nyeri.
- pada penyakit berat atau eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan (sampai perbaikan objektif dan subjektif didapat) untuk membatasi nyeri atau cedera tulang.
- Mengistirahatkan tulang-tulang yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan mungkin dapat mengurangi kerusakan pada tulang. Meskipun demikian, ketidakaktifan lama dapat mengakibatkan hiulangnya mobilitas atau fungsi tulang.
- Mencegah terjadinya kelelahan umum, dan kekakuan tulang, menstabilkan tulang, mengurangi gerakan atau rasa sakit pada tulang.
- Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
- Meningkatkan relaksasi atau mengurangi tegangan otot.
2. Diagnose: Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik.
Criteria hasil:
1. Mempertahankan fungsi posisi.
2. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh.
3. Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktifitas.
INTERVENSI RASIONAL
1. Evaluasi/lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi atau rasa sakit pada tulang.
2. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan atau bantu teknik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya trapeze.
3. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan.
4. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi atau kloset, menggunakan pegangan tangga pada bak atau pancuran dan toilet, peggunaan alat bantu mobilitas atau kursi roda penyelamat.
5. Bantu dengan rentang gerak aktif atau pasif, demikian juga latihan resistif dan isometric jika memungkinkan. - Tingkat aktifitas atau latihan tergantung dari perkembangan atau resolusi dari proses inflamasi.
- Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Teknik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
- Memaksimalkan fungsi tulang, mempertahankan mobilitas.
- Menghindari cedera akibat kecelakaan atau jatuh.
- mempertahankan atau meningkatkan fungsi tulang, kekuatan otot, dan stamina umum. Latihan tidak adekuat dapat menimbulkan kekakuan tulang, karenanya aktifitas yang berlebihan dapat merusak tulang.
3. Diagnose: Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
Tujuan: seteleh dilakukan intervensi keperawatan tidak terjadi penyebaran infeksi dan infeksi dapat terkontrol.
Criteria hasil:
1. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
2. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda-tanda vital secara tepat khususnya selama awal terapi.
2. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
3. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktifitas sedang. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
4. Awasi keefektifan terapi antmikrobia.
- selama periode waktu ini potensial komplikasi fatal dapat terjadi.
- menurunkan pemajanan terhadap pathogen infeksi lain.
- memudahkan proses penyembuhan.
- tanda perbaikan kondisi harus terjadi dalam 24 -48 jam.
4. Diagnosa: Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan
Tujuan: setelah dilakuakn intevensi keperawatan klien dapat mengetahui tentang penyakitnya dan mengetahui tentang program pengobatan.
Criteria hasil:
1. Menujukkan pemahaman akan proses penyakit.
2. Ikut serta dalam program pengobatan dan memuali gaya hidup yang diperlukan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
2. Beriakan informasi mengenai terapi obat–obatan ,intreraksi,efek samping ,dan pentingnya ketaatan program
3. Dorong periode istrahat adekuat dengan aktivitas yang terjadwal.
4. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik
5. Berikan informasi mengenai alat bantu,misalnya tongkat,palang keamanan,tempat duduk toilet yang bias di naikkan . - Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
- Meningkatka pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan atau dan mengurangi resiko komplikasi.
- Mencegah kepenatan ,menghemat energy dan meningkatkan penyembuhan.
- Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung dari ketepatan dosis
- Mengurangi paksaan untuk menggunakan tulang dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang di butuhkan atau di inginkan .
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Sedangkan, sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah yang disebut Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme.
3.2. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan klien dengan infeksi musculoskeletal:osteomyelitis dan artritis. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih,,.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendo, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Beragamnya jaringan dan organ sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Beberapa gangguan tersebut timbul primer pada sistem itu sendiri, sedangkan gangguan yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek pada sistem muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang masih sering terjadi di dunia. Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Banyak mitos yang berkembang tentang penyakit ini, seperti diyakinkan bahwa informasi, akan berlanjut menyebar pada tulang dan akhirnya seluruh tubuh. Padahal yang sebenarnya adalah osteomielitis tidak menyebar ke bagian lain tubuh karena kelenjar lain tersebut punya aliran darah yang baik (terproteksi oleh sistem imun tubuh). Kecuali apabila terdapat sendi buatan di bagian tubuh yang lain dalam keadaan ini benda asing tersebut menjadi pathogen.
Osteomielitis dapat terjadi pada semua usia tetapi sering terjadi pada anak-anak dan orang tua, juga pada orang dewasa muda dengan kondisi kesehatan yang serius dan diagnosa osteomielitis ditentukan berdasarkan gambaran klinis penyakit dan juga gambaran radiologik.
Selain infeksi pada tulang, infeksi juga dapat menyerang persendian. Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius yang cepat merusak kartilago hyaline artikular dan kehilangan fungsi sendi yang ireversibel. Diagnosis awal yang diikuti dengan terapi yang tepat dapat menghindari terjadinya kerusakan sendi dan kecacatan sendi. Insiden septik artritis pada populasi umum bervariasi 2-10 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden ini meningkat pada penderita dengan peningkatan risiko seperti artritis rheumatoid 28-38 kasus per 100.000 per tahun.
1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan Muskuloskeletal II tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Infeksi Muskuloskeletal: Osteomielitis dan Artritis.
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik.
2. Mengetahui penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik
3. Mengetahui patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik
4. Mengetahui manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik.
5. Mengetahui evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik
6. Mengetahui penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik.
7. Mengetahui proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik?
2. Bagaimana penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik?
3. Bagaimana patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik?
4. Bagaimana manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik?
5. Bagaimana evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik?
6. Bagaimana Penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik?
7. Bagaimana Proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik?
1.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Data ataupun pembahasan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa referensi yaitu buku-buku atau sumber bacaan yang relevan serta media-media lain yang mendukung.
BAB II
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : OSTEOMIELITIS
2.1 DEFINISI OSTEOMIELITIS
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomeilitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
1. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
2. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
3. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
4. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streplococcus dan organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adalah infeksi lain.
2.2 ETIOLOGI OSTEOMIELITIS
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
2.3 KLASIFIKASI OSTEOMIELITIS
Menurut kejadiannya osteomyelitis ada 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer Kuman-kuman mencapai tulang secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder Adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran nafas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan osteomyelitis menurut perlangsungannya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
1. Nyeri daerah lesi
2. Demam, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional
3. Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka
4. Pembengkakan lokal
5. Kemerahan
6. Suhu raba hangat
7. Gangguan fungsi
8. Lab = anemia, leukositosis
b. Osteomyelitis kronis
1. Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri
2. Gejala-gejala umum tidak ada
3. Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur
4. Lab = LED meningkat
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
a. Staphylococcus (orang dewasa)
b. Streplococcus (anak-anak)
c. Pneumococcus dan Gonococcus
2.4 INSIDEN OSTEOMIELITIS
Osteomyelitis ini cenderung terjadi pada anak dan remaja namun demikian seluruh usia bisa saja beresiko untuk terjadinya osteomyelitis pada umumnya kasus ini banyak terjadi laki-laki dengan perbandingan 2 : 1.
2.5 PATOFISIOLOGI OSTEOMIELITIS
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik.
Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.
2.6 MANIFESTASI KLINIS OSTEOMIELITIS
Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitannya mendadak, sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum). Gejala sismetik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul.
Bila osteomielitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak akan ada gejala septikemia. Daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri dan nyeri tekan.
Pasien dengan osteomielitis kronik ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat menjadi pada jaringan parut akibat kurangnya asupan darah.
2.7 PENCEGAHAN OSTEOMIELITIS
Sasaran utamanya adalah Pencegahan osteomielitis. Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.
Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan potensial terjadinya osteomielitis.
2.8 PENATALAKSANAAN OSTEOMIELITIS
Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.
Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : ARTRITIS SEPTIK
2.9 DEFINISI ARTRITIS SEPTIK
Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme. Secara normal, sendi dilumasi dengan jumlah kecil dari cairan yang dirujuk sebagai cairan sinovial (synovial fluid) atau cairan sendi. Cairan sendi yang normal adalah steril dan, jika dikeluarkan dan dipelihara (dikulturkan) dalam laboratorium, tidak ada mikroba-mikroba yang akan ditemukan. Dengan septic arthritis, mikroba-mikroba dapat diidentifikasi dalam suatu cairan sendi yang terpengaruh.
Paling umum, septic arthritis mempengaruhi suatu sendi tunggal, namun adakalanya lebih banyak sendi-sendi yang dilibatkan. Sendi-sendi yang terpengaruh sedikit banyak bervariasi tergantung pada mikroba yang menyebabkan infeksi dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi orang yang terpengaruh. Septic arthritis juga disebut infectious arthritis. Artritis septic sendiri mempunyai banyak pengertian, diantaranya :
1. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2.10 ETIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah. Trauma sendi sebelumnya, arthritis yang menyertai, dan menurunnya kekebalan penderita mempengaruhi terjadinya infeksi sendi lutut. Gonococci dan stapilococci serta Haemophilus influenzae penyebab utama infeksi sendi pada orang dewasa. Penemuan dan penangan yang segera pada infeksi sendi sangat penting karena timbunan pus dapat menyebabkan kondrolisis (kerusakan kartilago hyalin), yang penyembuhannya sangat buruk. Pada individu-individu "berisiko tinggi" yang tertentu, bakteri-bakteri lain mungkin menyebakan septic arthritis, seperti E. coli dan Pseudomonas spp. pada orang-orang penyalahguna obat-obat intravena dan orang-orang tua, Neisseria gonorrhoeae pada dewasa-dewasa muda yang aktif secara seksual, dan Salmonella spp. pada anak-anak muda atau orang-orang dengan penyakit sel sabit. Bakteri-bakteri lain yang dapat menyebabkan septic arthritis termasuk Mycobacterium tuberculosis dan spirochete bacterium yang menyebabkan penyakit Lyme.
Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko artritis septik:
1. Sendi implan Buatan
2. Bakteri infeksi di tempat lain dalam tubuh
3. Penyakit kronis atau penyakit (seperti diabetes, rheumatoid arthritis dan penyakit sel sabit)
4. Penggunaan narkoba intravena (IV) atau dengan injeksi
5. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh
6. Trauma sendi Terbaru
7. Artroskopi sendi terbaru atau operasi lain dalam sendi
Septic arthritis dapat dilihat pada usia berapa pun. Pada anak-anak, itu terjadi paling sering pada mereka yang di bawah 3 tahun. Pinggul adalah sebuah situs sering infeksi pada bayi. Artritis septik jarang terjadi dari usia 3 sampai remaja. Anak-anak dengan artritis septik lebih mungkin dibandingkan orang dewasa terinfeksi dengan kelompok B streptokokus dan Haemophilus influenza jika mereka divaksinasi.
2.11 PATOFISIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Septic arthritis berkembang ketika bakteri menyebar melalui aliran darah ke sendi. juga dapat terjadi ketika sendi secara langsung terinfeksi dengan bakteri selama cedera atau operasi. daerah yang paling umum untuk jenis infeksi lutut dan pinggul.
2.12 MANIFESTASI KLINIS ARTRITIS SEPTIK
Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis. Pengkajian adanya focus primer infeksi (misalnya adanya karbunkel) harus dicari. Pasien lansia dan orang yang memakai kortikosteroid atau obat imunosupresif mungkin tidak memperlihatkan manifestasi klinis yang khas untuk adanya infeksi.
Gejala klinis yang tampak pada bayi berbeda dengan pada anak-anak dan dewasa, yaitu : Bayi
1. Dapat ditemukan kekakuan pada sendi yang terkena
2. Nyeri pada pergerakan sendi
3. Dapat terjadi demam, namun gejala ini bukan patokan utama
4. Dapat terjadi dislokasi patologik pada sendi pada minggu kedua.
Gejala klinis pada: Anak-anak dan dewasa
1. Anak-anak dan orang dewasa dapat memberitahu lokasi terjadinya sakit dan nyeri yang timbul saat pergerakkan
2. Karena sendi sakit, maka tubuh secara otomatis berusaha untuk melindunginya dengan mengontraksikan otot-otot disekitar sendi
3. Kekakuan sendi jelas terlihat
4. Adanya demam
2.13 PENATALAKSANAAN ARTRITIS SEPTIK
Konservatif Pemberian antibiotik dapat dilakukan sebelum operasi dilakukan. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi. Istirahat, imobilisasi, elevasi, dan kompres dingin bisa membantu mengurangi rasa sakit. Melakukan latihan dalam sendi yang terkena membantu proses pemulihan. Jika cairan sendi (synovial fluid) menumpuk cepat dalam sendi sebagai akibat dari infeksi, Anda mungkin perlu sering aspirasi cairan dengan memasukkan jarum ke dalam sendi. Pada kasus yang berat mungkin memerlukan pembedahan untuk mengeringkan cairan dari sendi yang terinfeksi.
Operasi Tujuan utama dilakukannya operasi adalah untuk membersihkan nanah yang ada pada sendi sehingga tidak terjadi kerusakan yang lenjut pada sendi. Operasi dapat dilakukan secara tertutup (arthroskopi lavage) atau dengan pembedahan terbuka. Jika penyakit ini sudah lanjut, maka dapat dilakukan arthrodesis, yaitu penyatuan sendi, untuk menghilangkan nyeri, meningkatkan stabilitas, dan mengoreksi kelainan bentuk yang ada. Namun cara ini akan mengakibatkan hilangnya pergerakan sendi.
Rehabilitasi Pada model percobaan, dengan menggunakan tehnik Continuous Passive Motion (CPM), ternyata dapat mencegah tulang rawan sendi dari kerusakan.
2.14 KOMPLIKASI ARTRITIS SEPTIK
Komplikasi Dini
1. Kematian
2. Kerusakan sendi
3. Dislokasi patologik dari sendi
4. Kematian tulang
Komplikasi Lanjut
1. Penyakit degeneratif pada sendi
2. Dislokasi permanen
3. Fibrous ankylosis
4. Bone ankylosis
PROSES KEPERAWATAN PADA INFEKSI MUSKULOSKELETAL: OSTEOMIELITIS DAN ARTRITIS
2.15 PENGKAJIAN
2.15.1. PENGKAJIAN PADA OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien yang datang dengan awitan gejala akut (mis. Nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat dan nyeri tekan. Pada osteomielitis akut, pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi. Pada osteomielitis kronik, peningkatan suhu mungkin minimal, yang terjadi pada sore dan malam hari.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Memperlihatkan adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat yang nyeri tekan. Cairan purulen dapat terlihat. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
Pengkajian Nyeri
a. Provokes/ Palliativ : Pemicu terjadinya nyeri yaitu adanya infeksi, trauma (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang ).
b. Quality / Quantity : Kualitas dari nyeri seperti ditusuk, terbakar, sakit seperti digencet. Kuantitas dari nyeri, dimana nyeri terjadi beberapa menit, jam, hari, bulan, dsb ).
c. Region /radiasi ; daerah di mana nyeri terjadi pada organ tubuh yaitu pada osteo atau daerah tulang.
d. Severe / scale : intensitas nyeri
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
e. Time : waktu terjadinya nyeri, pada waktu pagi hari, siang, atau malam hari.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada fase akut ditemukan CPR yang meninggi, laju endap darah yang meninggi dan leukosit meningkat.
b. Pemeriksaan radiologik
Pada fase akut gambaran radiologic tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu involukrum dan skuester.
c. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 l gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
d. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella.
e. Bone scan
Pada pemeriksaan sidik tulang dengan menggunakan tehcnetum-99 maka akan terlihat gambaran abnormal dari tulang berupa peningkatan uptake pada daerah yang aliran darahnya meningkat dan daerah pembentukan tulang yang cepat. Dengan sidik tulang ini juga dapat ditemukan atau ditentukan lokasi terjadinya infeksi atau dapat juga dengan menggunakan gallium.
f. X Ray
Pada fase akut belum terlihat kelainan-kelainan patologis pada tulang dan hanya dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak saja, setelah lebih dari 10 hari baru ada perubahan pada gambar X ray yaitu gambaran “Brodies ances”.
2.15.2. PENGKAJIAN OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. Rheumatoid artritis, diabetes, penyakit sel sabit, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak, menggigil sistemik dan demam.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Adanya nyeri sendi, pembengkakan dengan penurunan rentak gerak. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin dapat menunjukkan adanya peningkatan sel darah putih dan laju endap darah. Jika terdapat kecurigaan kearah artritis septik akut, maka perlu dilakukan segera aspirasi dengan jarum pada sendi yang terkena sebagai langkah diagnostik dan juga untuk mengetahui bakteri apa yang menginfeksi supaya penanganannya tepat. Penemuan sel darah putih yang lebih dari 100.000/ml pada aspirasi jarum merupakan tanda kuat terjadinya artritis septik akut. Pemeriksaan foto roentgen dan juga ultrasonografi pada minggu pertama dapat menunjukkan terjadinya pembengkakan.
2.16 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan .
.
2.17 INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Diagnosa: nyeri berhubungan dengan imflamasi dan pembengkakan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang dan terkontrol.
Criteria hasil:
1. Menunjukkan nyeri berkurang atau terkontrol.
2. Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan beraktifitas sesuai kemampuan.
3. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
4. Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan kedalam program control nyeri.
INTERVENSI RASIONAL
1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas( skala 0-10). Catat factor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
2. Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi.
4. Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
5. Dorong untuk mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong tulang yang sakit di atas dan di bawah,hindari gerakan yang menyentak.
6. Libatkan dalam aktifitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
7. Berikan masase yang lembut. - membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.
- matras yang lembut atau empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada tulang yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada tulang yang terinflamasi/nyeri.
- pada penyakit berat atau eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan (sampai perbaikan objektif dan subjektif didapat) untuk membatasi nyeri atau cedera tulang.
- Mengistirahatkan tulang-tulang yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan mungkin dapat mengurangi kerusakan pada tulang. Meskipun demikian, ketidakaktifan lama dapat mengakibatkan hiulangnya mobilitas atau fungsi tulang.
- Mencegah terjadinya kelelahan umum, dan kekakuan tulang, menstabilkan tulang, mengurangi gerakan atau rasa sakit pada tulang.
- Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
- Meningkatkan relaksasi atau mengurangi tegangan otot.
2. Diagnose: Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik.
Criteria hasil:
1. Mempertahankan fungsi posisi.
2. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh.
3. Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktifitas.
INTERVENSI RASIONAL
1. Evaluasi/lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi atau rasa sakit pada tulang.
2. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan atau bantu teknik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya trapeze.
3. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan.
4. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi atau kloset, menggunakan pegangan tangga pada bak atau pancuran dan toilet, peggunaan alat bantu mobilitas atau kursi roda penyelamat.
5. Bantu dengan rentang gerak aktif atau pasif, demikian juga latihan resistif dan isometric jika memungkinkan. - Tingkat aktifitas atau latihan tergantung dari perkembangan atau resolusi dari proses inflamasi.
- Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Teknik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
- Memaksimalkan fungsi tulang, mempertahankan mobilitas.
- Menghindari cedera akibat kecelakaan atau jatuh.
- mempertahankan atau meningkatkan fungsi tulang, kekuatan otot, dan stamina umum. Latihan tidak adekuat dapat menimbulkan kekakuan tulang, karenanya aktifitas yang berlebihan dapat merusak tulang.
3. Diagnose: Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
Tujuan: seteleh dilakukan intervensi keperawatan tidak terjadi penyebaran infeksi dan infeksi dapat terkontrol.
Criteria hasil:
1. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
2. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda-tanda vital secara tepat khususnya selama awal terapi.
2. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
3. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktifitas sedang. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
4. Awasi keefektifan terapi antmikrobia.
- selama periode waktu ini potensial komplikasi fatal dapat terjadi.
- menurunkan pemajanan terhadap pathogen infeksi lain.
- memudahkan proses penyembuhan.
- tanda perbaikan kondisi harus terjadi dalam 24 -48 jam.
4. Diagnosa: Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan
Tujuan: setelah dilakuakn intevensi keperawatan klien dapat mengetahui tentang penyakitnya dan mengetahui tentang program pengobatan.
Criteria hasil:
1. Menujukkan pemahaman akan proses penyakit.
2. Ikut serta dalam program pengobatan dan memuali gaya hidup yang diperlukan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
2. Beriakan informasi mengenai terapi obat–obatan ,intreraksi,efek samping ,dan pentingnya ketaatan program
3. Dorong periode istrahat adekuat dengan aktivitas yang terjadwal.
4. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik
5. Berikan informasi mengenai alat bantu,misalnya tongkat,palang keamanan,tempat duduk toilet yang bias di naikkan . - Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
- Meningkatka pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan atau dan mengurangi resiko komplikasi.
- Mencegah kepenatan ,menghemat energy dan meningkatkan penyembuhan.
- Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung dari ketepatan dosis
- Mengurangi paksaan untuk menggunakan tulang dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang di butuhkan atau di inginkan .
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Sedangkan, sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah yang disebut Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme.
3.2. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan klien dengan infeksi musculoskeletal:osteomyelitis dan artritis. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih,,.
v
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendo, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Beragamnya jaringan dan organ sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Beberapa gangguan tersebut timbul primer pada sistem itu sendiri, sedangkan gangguan yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek pada sistem muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang masih sering terjadi di dunia. Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Banyak mitos yang berkembang tentang penyakit ini, seperti diyakinkan bahwa informasi, akan berlanjut menyebar pada tulang dan akhirnya seluruh tubuh. Padahal yang sebenarnya adalah osteomielitis tidak menyebar ke bagian lain tubuh karena kelenjar lain tersebut punya aliran darah yang baik (terproteksi oleh sistem imun tubuh). Kecuali apabila terdapat sendi buatan di bagian tubuh yang lain dalam keadaan ini benda asing tersebut menjadi pathogen.
Osteomielitis dapat terjadi pada semua usia tetapi sering terjadi pada anak-anak dan orang tua, juga pada orang dewasa muda dengan kondisi kesehatan yang serius dan diagnosa osteomielitis ditentukan berdasarkan gambaran klinis penyakit dan juga gambaran radiologik.
Selain infeksi pada tulang, infeksi juga dapat menyerang persendian. Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius yang cepat merusak kartilago hyaline artikular dan kehilangan fungsi sendi yang ireversibel. Diagnosis awal yang diikuti dengan terapi yang tepat dapat menghindari terjadinya kerusakan sendi dan kecacatan sendi. Insiden septik artritis pada populasi umum bervariasi 2-10 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden ini meningkat pada penderita dengan peningkatan risiko seperti artritis rheumatoid 28-38 kasus per 100.000 per tahun.
1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan Muskuloskeletal II tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Infeksi Muskuloskeletal: Osteomielitis dan Artritis.
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik.
2. Mengetahui penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik
3. Mengetahui patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik
4. Mengetahui manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik.
5. Mengetahui evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik
6. Mengetahui penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik.
7. Mengetahui proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik?
2. Bagaimana penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik?
3. Bagaimana patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik?
4. Bagaimana manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik?
5. Bagaimana evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik?
6. Bagaimana Penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik?
7. Bagaimana Proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik?
1.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Data ataupun pembahasan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa referensi yaitu buku-buku atau sumber bacaan yang relevan serta media-media lain yang mendukung.
BAB II
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : OSTEOMIELITIS
2.1 DEFINISI OSTEOMIELITIS
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomeilitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
1. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
2. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
3. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
4. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streplococcus dan organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adalah infeksi lain.
2.2 ETIOLOGI OSTEOMIELITIS
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
2.3 KLASIFIKASI OSTEOMIELITIS
Menurut kejadiannya osteomyelitis ada 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer Kuman-kuman mencapai tulang secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder Adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran nafas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan osteomyelitis menurut perlangsungannya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
1. Nyeri daerah lesi
2. Demam, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional
3. Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka
4. Pembengkakan lokal
5. Kemerahan
6. Suhu raba hangat
7. Gangguan fungsi
8. Lab = anemia, leukositosis
b. Osteomyelitis kronis
1. Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri
2. Gejala-gejala umum tidak ada
3. Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur
4. Lab = LED meningkat
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
a. Staphylococcus (orang dewasa)
b. Streplococcus (anak-anak)
c. Pneumococcus dan Gonococcus
2.4 INSIDEN OSTEOMIELITIS
Osteomyelitis ini cenderung terjadi pada anak dan remaja namun demikian seluruh usia bisa saja beresiko untuk terjadinya osteomyelitis pada umumnya kasus ini banyak terjadi laki-laki dengan perbandingan 2 : 1.
2.5 PATOFISIOLOGI OSTEOMIELITIS
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik.
Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.
2.6 MANIFESTASI KLINIS OSTEOMIELITIS
Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitannya mendadak, sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum). Gejala sismetik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul.
Bila osteomielitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak akan ada gejala septikemia. Daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri dan nyeri tekan.
Pasien dengan osteomielitis kronik ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat menjadi pada jaringan parut akibat kurangnya asupan darah.
2.7 PENCEGAHAN OSTEOMIELITIS
Sasaran utamanya adalah Pencegahan osteomielitis. Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.
Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan potensial terjadinya osteomielitis.
2.8 PENATALAKSANAAN OSTEOMIELITIS
Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.
Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : ARTRITIS SEPTIK
2.9 DEFINISI ARTRITIS SEPTIK
Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme. Secara normal, sendi dilumasi dengan jumlah kecil dari cairan yang dirujuk sebagai cairan sinovial (synovial fluid) atau cairan sendi. Cairan sendi yang normal adalah steril dan, jika dikeluarkan dan dipelihara (dikulturkan) dalam laboratorium, tidak ada mikroba-mikroba yang akan ditemukan. Dengan septic arthritis, mikroba-mikroba dapat diidentifikasi dalam suatu cairan sendi yang terpengaruh.
Paling umum, septic arthritis mempengaruhi suatu sendi tunggal, namun adakalanya lebih banyak sendi-sendi yang dilibatkan. Sendi-sendi yang terpengaruh sedikit banyak bervariasi tergantung pada mikroba yang menyebabkan infeksi dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi orang yang terpengaruh. Septic arthritis juga disebut infectious arthritis. Artritis septic sendiri mempunyai banyak pengertian, diantaranya :
1. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2.10 ETIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah. Trauma sendi sebelumnya, arthritis yang menyertai, dan menurunnya kekebalan penderita mempengaruhi terjadinya infeksi sendi lutut. Gonococci dan stapilococci serta Haemophilus influenzae penyebab utama infeksi sendi pada orang dewasa. Penemuan dan penangan yang segera pada infeksi sendi sangat penting karena timbunan pus dapat menyebabkan kondrolisis (kerusakan kartilago hyalin), yang penyembuhannya sangat buruk. Pada individu-individu "berisiko tinggi" yang tertentu, bakteri-bakteri lain mungkin menyebakan septic arthritis, seperti E. coli dan Pseudomonas spp. pada orang-orang penyalahguna obat-obat intravena dan orang-orang tua, Neisseria gonorrhoeae pada dewasa-dewasa muda yang aktif secara seksual, dan Salmonella spp. pada anak-anak muda atau orang-orang dengan penyakit sel sabit. Bakteri-bakteri lain yang dapat menyebabkan septic arthritis termasuk Mycobacterium tuberculosis dan spirochete bacterium yang menyebabkan penyakit Lyme.
Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko artritis septik:
1. Sendi implan Buatan
2. Bakteri infeksi di tempat lain dalam tubuh
3. Penyakit kronis atau penyakit (seperti diabetes, rheumatoid arthritis dan penyakit sel sabit)
4. Penggunaan narkoba intravena (IV) atau dengan injeksi
5. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh
6. Trauma sendi Terbaru
7. Artroskopi sendi terbaru atau operasi lain dalam sendi
Septic arthritis dapat dilihat pada usia berapa pun. Pada anak-anak, itu terjadi paling sering pada mereka yang di bawah 3 tahun. Pinggul adalah sebuah situs sering infeksi pada bayi. Artritis septik jarang terjadi dari usia 3 sampai remaja. Anak-anak dengan artritis septik lebih mungkin dibandingkan orang dewasa terinfeksi dengan kelompok B streptokokus dan Haemophilus influenza jika mereka divaksinasi.
2.11 PATOFISIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Septic arthritis berkembang ketika bakteri menyebar melalui aliran darah ke sendi. juga dapat terjadi ketika sendi secara langsung terinfeksi dengan bakteri selama cedera atau operasi. daerah yang paling umum untuk jenis infeksi lutut dan pinggul.
2.12 MANIFESTASI KLINIS ARTRITIS SEPTIK
Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis. Pengkajian adanya focus primer infeksi (misalnya adanya karbunkel) harus dicari. Pasien lansia dan orang yang memakai kortikosteroid atau obat imunosupresif mungkin tidak memperlihatkan manifestasi klinis yang khas untuk adanya infeksi.
Gejala klinis yang tampak pada bayi berbeda dengan pada anak-anak dan dewasa, yaitu : Bayi
1. Dapat ditemukan kekakuan pada sendi yang terkena
2. Nyeri pada pergerakan sendi
3. Dapat terjadi demam, namun gejala ini bukan patokan utama
4. Dapat terjadi dislokasi patologik pada sendi pada minggu kedua.
Gejala klinis pada: Anak-anak dan dewasa
1. Anak-anak dan orang dewasa dapat memberitahu lokasi terjadinya sakit dan nyeri yang timbul saat pergerakkan
2. Karena sendi sakit, maka tubuh secara otomatis berusaha untuk melindunginya dengan mengontraksikan otot-otot disekitar sendi
3. Kekakuan sendi jelas terlihat
4. Adanya demam
2.13 PENATALAKSANAAN ARTRITIS SEPTIK
Konservatif Pemberian antibiotik dapat dilakukan sebelum operasi dilakukan. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi. Istirahat, imobilisasi, elevasi, dan kompres dingin bisa membantu mengurangi rasa sakit. Melakukan latihan dalam sendi yang terkena membantu proses pemulihan. Jika cairan sendi (synovial fluid) menumpuk cepat dalam sendi sebagai akibat dari infeksi, Anda mungkin perlu sering aspirasi cairan dengan memasukkan jarum ke dalam sendi. Pada kasus yang berat mungkin memerlukan pembedahan untuk mengeringkan cairan dari sendi yang terinfeksi.
Operasi Tujuan utama dilakukannya operasi adalah untuk membersihkan nanah yang ada pada sendi sehingga tidak terjadi kerusakan yang lenjut pada sendi. Operasi dapat dilakukan secara tertutup (arthroskopi lavage) atau dengan pembedahan terbuka. Jika penyakit ini sudah lanjut, maka dapat dilakukan arthrodesis, yaitu penyatuan sendi, untuk menghilangkan nyeri, meningkatkan stabilitas, dan mengoreksi kelainan bentuk yang ada. Namun cara ini akan mengakibatkan hilangnya pergerakan sendi.
Rehabilitasi Pada model percobaan, dengan menggunakan tehnik Continuous Passive Motion (CPM), ternyata dapat mencegah tulang rawan sendi dari kerusakan.
2.14 KOMPLIKASI ARTRITIS SEPTIK
Komplikasi Dini
1. Kematian
2. Kerusakan sendi
3. Dislokasi patologik dari sendi
4. Kematian tulang
Komplikasi Lanjut
1. Penyakit degeneratif pada sendi
2. Dislokasi permanen
3. Fibrous ankylosis
4. Bone ankylosis
PROSES KEPERAWATAN PADA INFEKSI MUSKULOSKELETAL: OSTEOMIELITIS DAN ARTRITIS
2.15 PENGKAJIAN
2.15.1. PENGKAJIAN PADA OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien yang datang dengan awitan gejala akut (mis. Nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat dan nyeri tekan. Pada osteomielitis akut, pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi. Pada osteomielitis kronik, peningkatan suhu mungkin minimal, yang terjadi pada sore dan malam hari.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Memperlihatkan adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat yang nyeri tekan. Cairan purulen dapat terlihat. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
Pengkajian Nyeri
a. Provokes/ Palliativ : Pemicu terjadinya nyeri yaitu adanya infeksi, trauma (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang ).
b. Quality / Quantity : Kualitas dari nyeri seperti ditusuk, terbakar, sakit seperti digencet. Kuantitas dari nyeri, dimana nyeri terjadi beberapa menit, jam, hari, bulan, dsb ).
c. Region /radiasi ; daerah di mana nyeri terjadi pada organ tubuh yaitu pada osteo atau daerah tulang.
d. Severe / scale : intensitas nyeri
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
e. Time : waktu terjadinya nyeri, pada waktu pagi hari, siang, atau malam hari.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada fase akut ditemukan CPR yang meninggi, laju endap darah yang meninggi dan leukosit meningkat.
b. Pemeriksaan radiologik
Pada fase akut gambaran radiologic tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu involukrum dan skuester.
c. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 l gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
d. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella.
e. Bone scan
Pada pemeriksaan sidik tulang dengan menggunakan tehcnetum-99 maka akan terlihat gambaran abnormal dari tulang berupa peningkatan uptake pada daerah yang aliran darahnya meningkat dan daerah pembentukan tulang yang cepat. Dengan sidik tulang ini juga dapat ditemukan atau ditentukan lokasi terjadinya infeksi atau dapat juga dengan menggunakan gallium.
f. X Ray
Pada fase akut belum terlihat kelainan-kelainan patologis pada tulang dan hanya dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak saja, setelah lebih dari 10 hari baru ada perubahan pada gambar X ray yaitu gambaran “Brodies ances”.
2.15.2. PENGKAJIAN OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. Rheumatoid artritis, diabetes, penyakit sel sabit, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak, menggigil sistemik dan demam.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Adanya nyeri sendi, pembengkakan dengan penurunan rentak gerak. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin dapat menunjukkan adanya peningkatan sel darah putih dan laju endap darah. Jika terdapat kecurigaan kearah artritis septik akut, maka perlu dilakukan segera aspirasi dengan jarum pada sendi yang terkena sebagai langkah diagnostik dan juga untuk mengetahui bakteri apa yang menginfeksi supaya penanganannya tepat. Penemuan sel darah putih yang lebih dari 100.000/ml pada aspirasi jarum merupakan tanda kuat terjadinya artritis septik akut. Pemeriksaan foto roentgen dan juga ultrasonografi pada minggu pertama dapat menunjukkan terjadinya pembengkakan.
2.16 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan .
.
2.17 INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Diagnosa: nyeri berhubungan dengan imflamasi dan pembengkakan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang dan terkontrol.
Criteria hasil:
1. Menunjukkan nyeri berkurang atau terkontrol.
2. Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan beraktifitas sesuai kemampuan.
3. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
4. Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan kedalam program control nyeri.
INTERVENSI RASIONAL
1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas( skala 0-10). Catat factor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
2. Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi.
4. Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
5. Dorong untuk mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong tulang yang sakit di atas dan di bawah,hindari gerakan yang menyentak.
6. Libatkan dalam aktifitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
7. Berikan masase yang lembut. - membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.
- matras yang lembut atau empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada tulang yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada tulang yang terinflamasi/nyeri.
- pada penyakit berat atau eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan (sampai perbaikan objektif dan subjektif didapat) untuk membatasi nyeri atau cedera tulang.
- Mengistirahatkan tulang-tulang yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan mungkin dapat mengurangi kerusakan pada tulang. Meskipun demikian, ketidakaktifan lama dapat mengakibatkan hiulangnya mobilitas atau fungsi tulang.
- Mencegah terjadinya kelelahan umum, dan kekakuan tulang, menstabilkan tulang, mengurangi gerakan atau rasa sakit pada tulang.
- Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
- Meningkatkan relaksasi atau mengurangi tegangan otot.
2. Diagnose: Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik.
Criteria hasil:
1. Mempertahankan fungsi posisi.
2. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh.
3. Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktifitas.
INTERVENSI RASIONAL
1. Evaluasi/lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi atau rasa sakit pada tulang.
2. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan atau bantu teknik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya trapeze.
3. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan.
4. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi atau kloset, menggunakan pegangan tangga pada bak atau pancuran dan toilet, peggunaan alat bantu mobilitas atau kursi roda penyelamat.
5. Bantu dengan rentang gerak aktif atau pasif, demikian juga latihan resistif dan isometric jika memungkinkan. - Tingkat aktifitas atau latihan tergantung dari perkembangan atau resolusi dari proses inflamasi.
- Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Teknik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
- Memaksimalkan fungsi tulang, mempertahankan mobilitas.
- Menghindari cedera akibat kecelakaan atau jatuh.
- mempertahankan atau meningkatkan fungsi tulang, kekuatan otot, dan stamina umum. Latihan tidak adekuat dapat menimbulkan kekakuan tulang, karenanya aktifitas yang berlebihan dapat merusak tulang.
3. Diagnose: Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
Tujuan: seteleh dilakukan intervensi keperawatan tidak terjadi penyebaran infeksi dan infeksi dapat terkontrol.
Criteria hasil:
1. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
2. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda-tanda vital secara tepat khususnya selama awal terapi.
2. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
3. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktifitas sedang. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
4. Awasi keefektifan terapi antmikrobia.
- selama periode waktu ini potensial komplikasi fatal dapat terjadi.
- menurunkan pemajanan terhadap pathogen infeksi lain.
- memudahkan proses penyembuhan.
- tanda perbaikan kondisi harus terjadi dalam 24 -48 jam.
4. Diagnosa: Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan
Tujuan: setelah dilakuakn intevensi keperawatan klien dapat mengetahui tentang penyakitnya dan mengetahui tentang program pengobatan.
Criteria hasil:
1. Menujukkan pemahaman akan proses penyakit.
2. Ikut serta dalam program pengobatan dan memuali gaya hidup yang diperlukan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
2. Beriakan informasi mengenai terapi obat–obatan ,intreraksi,efek samping ,dan pentingnya ketaatan program
3. Dorong periode istrahat adekuat dengan aktivitas yang terjadwal.
4. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik
5. Berikan informasi mengenai alat bantu,misalnya tongkat,palang keamanan,tempat duduk toilet yang bias di naikkan . - Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
- Meningkatka pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan atau dan mengurangi resiko komplikasi.
- Mencegah kepenatan ,menghemat energy dan meningkatkan penyembuhan.
- Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung dari ketepatan dosis
- Mengurangi paksaan untuk menggunakan tulang dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang di butuhkan atau di inginkan .
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Sedangkan, sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah yang disebut Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme.
3.2. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan klien dengan infeksi musculoskeletal:osteomyelitis dan artritis. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih,,.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendo, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Beragamnya jaringan dan organ sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Beberapa gangguan tersebut timbul primer pada sistem itu sendiri, sedangkan gangguan yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek pada sistem muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang masih sering terjadi di dunia. Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Banyak mitos yang berkembang tentang penyakit ini, seperti diyakinkan bahwa informasi, akan berlanjut menyebar pada tulang dan akhirnya seluruh tubuh. Padahal yang sebenarnya adalah osteomielitis tidak menyebar ke bagian lain tubuh karena kelenjar lain tersebut punya aliran darah yang baik (terproteksi oleh sistem imun tubuh). Kecuali apabila terdapat sendi buatan di bagian tubuh yang lain dalam keadaan ini benda asing tersebut menjadi pathogen.
Osteomielitis dapat terjadi pada semua usia tetapi sering terjadi pada anak-anak dan orang tua, juga pada orang dewasa muda dengan kondisi kesehatan yang serius dan diagnosa osteomielitis ditentukan berdasarkan gambaran klinis penyakit dan juga gambaran radiologik.
Selain infeksi pada tulang, infeksi juga dapat menyerang persendian. Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius yang cepat merusak kartilago hyaline artikular dan kehilangan fungsi sendi yang ireversibel. Diagnosis awal yang diikuti dengan terapi yang tepat dapat menghindari terjadinya kerusakan sendi dan kecacatan sendi. Insiden septik artritis pada populasi umum bervariasi 2-10 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden ini meningkat pada penderita dengan peningkatan risiko seperti artritis rheumatoid 28-38 kasus per 100.000 per tahun.
1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan Muskuloskeletal II tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Infeksi Muskuloskeletal: Osteomielitis dan Artritis.
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik.
2. Mengetahui penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik
3. Mengetahui patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik
4. Mengetahui manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik.
5. Mengetahui evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik
6. Mengetahui penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik.
7. Mengetahui proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik?
2. Bagaimana penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik?
3. Bagaimana patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik?
4. Bagaimana manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik?
5. Bagaimana evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik?
6. Bagaimana Penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik?
7. Bagaimana Proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik?
1.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Data ataupun pembahasan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa referensi yaitu buku-buku atau sumber bacaan yang relevan serta media-media lain yang mendukung.
BAB II
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : OSTEOMIELITIS
2.1 DEFINISI OSTEOMIELITIS
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomeilitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
1. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
2. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
3. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
4. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streplococcus dan organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adalah infeksi lain.
2.2 ETIOLOGI OSTEOMIELITIS
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
2.3 KLASIFIKASI OSTEOMIELITIS
Menurut kejadiannya osteomyelitis ada 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer Kuman-kuman mencapai tulang secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder Adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran nafas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan osteomyelitis menurut perlangsungannya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
1. Nyeri daerah lesi
2. Demam, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional
3. Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka
4. Pembengkakan lokal
5. Kemerahan
6. Suhu raba hangat
7. Gangguan fungsi
8. Lab = anemia, leukositosis
b. Osteomyelitis kronis
1. Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri
2. Gejala-gejala umum tidak ada
3. Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur
4. Lab = LED meningkat
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
a. Staphylococcus (orang dewasa)
b. Streplococcus (anak-anak)
c. Pneumococcus dan Gonococcus
2.4 INSIDEN OSTEOMIELITIS
Osteomyelitis ini cenderung terjadi pada anak dan remaja namun demikian seluruh usia bisa saja beresiko untuk terjadinya osteomyelitis pada umumnya kasus ini banyak terjadi laki-laki dengan perbandingan 2 : 1.
2.5 PATOFISIOLOGI OSTEOMIELITIS
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik.
Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.
2.6 MANIFESTASI KLINIS OSTEOMIELITIS
Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitannya mendadak, sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum). Gejala sismetik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul.
Bila osteomielitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak akan ada gejala septikemia. Daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri dan nyeri tekan.
Pasien dengan osteomielitis kronik ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat menjadi pada jaringan parut akibat kurangnya asupan darah.
2.7 PENCEGAHAN OSTEOMIELITIS
Sasaran utamanya adalah Pencegahan osteomielitis. Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.
Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan potensial terjadinya osteomielitis.
2.8 PENATALAKSANAAN OSTEOMIELITIS
Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.
Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : ARTRITIS SEPTIK
2.9 DEFINISI ARTRITIS SEPTIK
Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme. Secara normal, sendi dilumasi dengan jumlah kecil dari cairan yang dirujuk sebagai cairan sinovial (synovial fluid) atau cairan sendi. Cairan sendi yang normal adalah steril dan, jika dikeluarkan dan dipelihara (dikulturkan) dalam laboratorium, tidak ada mikroba-mikroba yang akan ditemukan. Dengan septic arthritis, mikroba-mikroba dapat diidentifikasi dalam suatu cairan sendi yang terpengaruh.
Paling umum, septic arthritis mempengaruhi suatu sendi tunggal, namun adakalanya lebih banyak sendi-sendi yang dilibatkan. Sendi-sendi yang terpengaruh sedikit banyak bervariasi tergantung pada mikroba yang menyebabkan infeksi dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi orang yang terpengaruh. Septic arthritis juga disebut infectious arthritis. Artritis septic sendiri mempunyai banyak pengertian, diantaranya :
1. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2.10 ETIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah. Trauma sendi sebelumnya, arthritis yang menyertai, dan menurunnya kekebalan penderita mempengaruhi terjadinya infeksi sendi lutut. Gonococci dan stapilococci serta Haemophilus influenzae penyebab utama infeksi sendi pada orang dewasa. Penemuan dan penangan yang segera pada infeksi sendi sangat penting karena timbunan pus dapat menyebabkan kondrolisis (kerusakan kartilago hyalin), yang penyembuhannya sangat buruk. Pada individu-individu "berisiko tinggi" yang tertentu, bakteri-bakteri lain mungkin menyebakan septic arthritis, seperti E. coli dan Pseudomonas spp. pada orang-orang penyalahguna obat-obat intravena dan orang-orang tua, Neisseria gonorrhoeae pada dewasa-dewasa muda yang aktif secara seksual, dan Salmonella spp. pada anak-anak muda atau orang-orang dengan penyakit sel sabit. Bakteri-bakteri lain yang dapat menyebabkan septic arthritis termasuk Mycobacterium tuberculosis dan spirochete bacterium yang menyebabkan penyakit Lyme.
Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko artritis septik:
1. Sendi implan Buatan
2. Bakteri infeksi di tempat lain dalam tubuh
3. Penyakit kronis atau penyakit (seperti diabetes, rheumatoid arthritis dan penyakit sel sabit)
4. Penggunaan narkoba intravena (IV) atau dengan injeksi
5. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh
6. Trauma sendi Terbaru
7. Artroskopi sendi terbaru atau operasi lain dalam sendi
Septic arthritis dapat dilihat pada usia berapa pun. Pada anak-anak, itu terjadi paling sering pada mereka yang di bawah 3 tahun. Pinggul adalah sebuah situs sering infeksi pada bayi. Artritis septik jarang terjadi dari usia 3 sampai remaja. Anak-anak dengan artritis septik lebih mungkin dibandingkan orang dewasa terinfeksi dengan kelompok B streptokokus dan Haemophilus influenza jika mereka divaksinasi.
2.11 PATOFISIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Septic arthritis berkembang ketika bakteri menyebar melalui aliran darah ke sendi. juga dapat terjadi ketika sendi secara langsung terinfeksi dengan bakteri selama cedera atau operasi. daerah yang paling umum untuk jenis infeksi lutut dan pinggul.
2.12 MANIFESTASI KLINIS ARTRITIS SEPTIK
Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis. Pengkajian adanya focus primer infeksi (misalnya adanya karbunkel) harus dicari. Pasien lansia dan orang yang memakai kortikosteroid atau obat imunosupresif mungkin tidak memperlihatkan manifestasi klinis yang khas untuk adanya infeksi.
Gejala klinis yang tampak pada bayi berbeda dengan pada anak-anak dan dewasa, yaitu : Bayi
1. Dapat ditemukan kekakuan pada sendi yang terkena
2. Nyeri pada pergerakan sendi
3. Dapat terjadi demam, namun gejala ini bukan patokan utama
4. Dapat terjadi dislokasi patologik pada sendi pada minggu kedua.
Gejala klinis pada: Anak-anak dan dewasa
1. Anak-anak dan orang dewasa dapat memberitahu lokasi terjadinya sakit dan nyeri yang timbul saat pergerakkan
2. Karena sendi sakit, maka tubuh secara otomatis berusaha untuk melindunginya dengan mengontraksikan otot-otot disekitar sendi
3. Kekakuan sendi jelas terlihat
4. Adanya demam
2.13 PENATALAKSANAAN ARTRITIS SEPTIK
Konservatif Pemberian antibiotik dapat dilakukan sebelum operasi dilakukan. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi. Istirahat, imobilisasi, elevasi, dan kompres dingin bisa membantu mengurangi rasa sakit. Melakukan latihan dalam sendi yang terkena membantu proses pemulihan. Jika cairan sendi (synovial fluid) menumpuk cepat dalam sendi sebagai akibat dari infeksi, Anda mungkin perlu sering aspirasi cairan dengan memasukkan jarum ke dalam sendi. Pada kasus yang berat mungkin memerlukan pembedahan untuk mengeringkan cairan dari sendi yang terinfeksi.
Operasi Tujuan utama dilakukannya operasi adalah untuk membersihkan nanah yang ada pada sendi sehingga tidak terjadi kerusakan yang lenjut pada sendi. Operasi dapat dilakukan secara tertutup (arthroskopi lavage) atau dengan pembedahan terbuka. Jika penyakit ini sudah lanjut, maka dapat dilakukan arthrodesis, yaitu penyatuan sendi, untuk menghilangkan nyeri, meningkatkan stabilitas, dan mengoreksi kelainan bentuk yang ada. Namun cara ini akan mengakibatkan hilangnya pergerakan sendi.
Rehabilitasi Pada model percobaan, dengan menggunakan tehnik Continuous Passive Motion (CPM), ternyata dapat mencegah tulang rawan sendi dari kerusakan.
2.14 KOMPLIKASI ARTRITIS SEPTIK
Komplikasi Dini
1. Kematian
2. Kerusakan sendi
3. Dislokasi patologik dari sendi
4. Kematian tulang
Komplikasi Lanjut
1. Penyakit degeneratif pada sendi
2. Dislokasi permanen
3. Fibrous ankylosis
4. Bone ankylosis
PROSES KEPERAWATAN PADA INFEKSI MUSKULOSKELETAL: OSTEOMIELITIS DAN ARTRITIS
2.15 PENGKAJIAN
2.15.1. PENGKAJIAN PADA OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien yang datang dengan awitan gejala akut (mis. Nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat dan nyeri tekan. Pada osteomielitis akut, pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi. Pada osteomielitis kronik, peningkatan suhu mungkin minimal, yang terjadi pada sore dan malam hari.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Memperlihatkan adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat yang nyeri tekan. Cairan purulen dapat terlihat. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
Pengkajian Nyeri
a. Provokes/ Palliativ : Pemicu terjadinya nyeri yaitu adanya infeksi, trauma (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang ).
b. Quality / Quantity : Kualitas dari nyeri seperti ditusuk, terbakar, sakit seperti digencet. Kuantitas dari nyeri, dimana nyeri terjadi beberapa menit, jam, hari, bulan, dsb ).
c. Region /radiasi ; daerah di mana nyeri terjadi pada organ tubuh yaitu pada osteo atau daerah tulang.
d. Severe / scale : intensitas nyeri
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
e. Time : waktu terjadinya nyeri, pada waktu pagi hari, siang, atau malam hari.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada fase akut ditemukan CPR yang meninggi, laju endap darah yang meninggi dan leukosit meningkat.
b. Pemeriksaan radiologik
Pada fase akut gambaran radiologic tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu involukrum dan skuester.
c. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 l gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
d. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella.
e. Bone scan
Pada pemeriksaan sidik tulang dengan menggunakan tehcnetum-99 maka akan terlihat gambaran abnormal dari tulang berupa peningkatan uptake pada daerah yang aliran darahnya meningkat dan daerah pembentukan tulang yang cepat. Dengan sidik tulang ini juga dapat ditemukan atau ditentukan lokasi terjadinya infeksi atau dapat juga dengan menggunakan gallium.
f. X Ray
Pada fase akut belum terlihat kelainan-kelainan patologis pada tulang dan hanya dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak saja, setelah lebih dari 10 hari baru ada perubahan pada gambar X ray yaitu gambaran “Brodies ances”.
2.15.2. PENGKAJIAN OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. Rheumatoid artritis, diabetes, penyakit sel sabit, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak, menggigil sistemik dan demam.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Adanya nyeri sendi, pembengkakan dengan penurunan rentak gerak. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin dapat menunjukkan adanya peningkatan sel darah putih dan laju endap darah. Jika terdapat kecurigaan kearah artritis septik akut, maka perlu dilakukan segera aspirasi dengan jarum pada sendi yang terkena sebagai langkah diagnostik dan juga untuk mengetahui bakteri apa yang menginfeksi supaya penanganannya tepat. Penemuan sel darah putih yang lebih dari 100.000/ml pada aspirasi jarum merupakan tanda kuat terjadinya artritis septik akut. Pemeriksaan foto roentgen dan juga ultrasonografi pada minggu pertama dapat menunjukkan terjadinya pembengkakan.
2.16 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan .
.
2.17 INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Diagnosa: nyeri berhubungan dengan imflamasi dan pembengkakan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang dan terkontrol.
Criteria hasil:
1. Menunjukkan nyeri berkurang atau terkontrol.
2. Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan beraktifitas sesuai kemampuan.
3. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
4. Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan kedalam program control nyeri.
INTERVENSI RASIONAL
1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas( skala 0-10). Catat factor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
2. Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi.
4. Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
5. Dorong untuk mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong tulang yang sakit di atas dan di bawah,hindari gerakan yang menyentak.
6. Libatkan dalam aktifitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
7. Berikan masase yang lembut. - membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.
- matras yang lembut atau empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada tulang yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada tulang yang terinflamasi/nyeri.
- pada penyakit berat atau eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan (sampai perbaikan objektif dan subjektif didapat) untuk membatasi nyeri atau cedera tulang.
- Mengistirahatkan tulang-tulang yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan mungkin dapat mengurangi kerusakan pada tulang. Meskipun demikian, ketidakaktifan lama dapat mengakibatkan hiulangnya mobilitas atau fungsi tulang.
- Mencegah terjadinya kelelahan umum, dan kekakuan tulang, menstabilkan tulang, mengurangi gerakan atau rasa sakit pada tulang.
- Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
- Meningkatkan relaksasi atau mengurangi tegangan otot.
2. Diagnose: Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik.
Criteria hasil:
1. Mempertahankan fungsi posisi.
2. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh.
3. Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktifitas.
INTERVENSI RASIONAL
1. Evaluasi/lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi atau rasa sakit pada tulang.
2. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan atau bantu teknik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya trapeze.
3. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan.
4. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi atau kloset, menggunakan pegangan tangga pada bak atau pancuran dan toilet, peggunaan alat bantu mobilitas atau kursi roda penyelamat.
5. Bantu dengan rentang gerak aktif atau pasif, demikian juga latihan resistif dan isometric jika memungkinkan. - Tingkat aktifitas atau latihan tergantung dari perkembangan atau resolusi dari proses inflamasi.
- Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Teknik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
- Memaksimalkan fungsi tulang, mempertahankan mobilitas.
- Menghindari cedera akibat kecelakaan atau jatuh.
- mempertahankan atau meningkatkan fungsi tulang, kekuatan otot, dan stamina umum. Latihan tidak adekuat dapat menimbulkan kekakuan tulang, karenanya aktifitas yang berlebihan dapat merusak tulang.
3. Diagnose: Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
Tujuan: seteleh dilakukan intervensi keperawatan tidak terjadi penyebaran infeksi dan infeksi dapat terkontrol.
Criteria hasil:
1. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
2. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda-tanda vital secara tepat khususnya selama awal terapi.
2. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
3. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktifitas sedang. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
4. Awasi keefektifan terapi antmikrobia.
- selama periode waktu ini potensial komplikasi fatal dapat terjadi.
- menurunkan pemajanan terhadap pathogen infeksi lain.
- memudahkan proses penyembuhan.
- tanda perbaikan kondisi harus terjadi dalam 24 -48 jam.
4. Diagnosa: Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan
Tujuan: setelah dilakuakn intevensi keperawatan klien dapat mengetahui tentang penyakitnya dan mengetahui tentang program pengobatan.
Criteria hasil:
1. Menujukkan pemahaman akan proses penyakit.
2. Ikut serta dalam program pengobatan dan memuali gaya hidup yang diperlukan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
2. Beriakan informasi mengenai terapi obat–obatan ,intreraksi,efek samping ,dan pentingnya ketaatan program
3. Dorong periode istrahat adekuat dengan aktivitas yang terjadwal.
4. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik
5. Berikan informasi mengenai alat bantu,misalnya tongkat,palang keamanan,tempat duduk toilet yang bias di naikkan . - Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
- Meningkatka pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan atau dan mengurangi resiko komplikasi.
- Mencegah kepenatan ,menghemat energy dan meningkatkan penyembuhan.
- Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung dari ketepatan dosis
- Mengurangi paksaan untuk menggunakan tulang dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang di butuhkan atau di inginkan .
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Sedangkan, sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah yang disebut Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme.
3.2. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan klien dengan infeksi musculoskeletal:osteomyelitis dan artritis. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih,,.
v
Langganan:
Komentar (Atom)