BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga merupakan bagian dari manusia yang setiap hari selalu berhubungan dengan kita. Keadaan ini perlu kita sadari sepenuhnya bahwa setiap individu merupakan bagiannya dan di keluarga juga semua dapat diekspresikan tanpa hambatan yang berarti. Tahun 1960, keluarga di Indonesia sekitar 30 juta, tahun 1990-an menjadi 35-40 juta, dan pada awal abad ke-21 diperkirakan berlipat jumlahnya menjadi 60-65 juta (BKKBN, 1996).
Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan sistematis untuk bekerja sama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga. Keluarga sebagai unit pelayanan perawatan sebab keluarga unit utama dari masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan bermasyarakat. Keluarga sebagai kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan, atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya sendiri. Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, penyakit yang diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi keluarga tersebut, karena keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagai usaha-usaha kesehatan masyarakat.
Keluarga mempunyai tahap perkembangan dan tugas perkembangan yag harus diselesaikan pada tahapnya, khususnya tugas perkembangan keluarga pada usia dewasa akhir. Banyaknya masalah dan perubahan yang terjadi pada masa tua seperti bagaimana mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling menyenangkan pasanganya, adpatasi dengan perubahan yang akan terjadi: kehilangan pasangan, kekuatan fisik, dan penghasilan keluarga, mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat, serta melakukan life review masa lalu, memungkinkan suatu keluarga untuk memahami bagaimana memberikan asuhan keperawatan yang baik. Untuk itu pada Bab ini, penulis ingin menguraikan berbagai hal yang berhubungan dengan keluarga dan perkembangan pada dewasa akhir yang merupakan dasar untuk menentukan masalah dan melaksanakan asuhan keperawatan keluarga.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah Keperawatan Komunitas IV.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulis dalam menyusun makalah ini agar mahasiswa mengetahui konsep dasar keluarga dan usia dewasa akhir, mengetahui tahap perkembangan usia dewasa akhir, mengetahui tugas perkembangan pada keluarga dan asuhan keperawatan keluarga pada tahap usia dewasa akhir.
C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dari konsep dasar keluarga?
2. Apa yang dimaksud dari konsep dasar usia dewasa akhir
3. Bagaimana asuhan keperawatan keluarga pada tahap usia dewasa akhir?
D. Metode Pengumpulan Data
Data ataupun pembahasan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa referensi yaitu buku-buku atau sumber bacaan yang relevan serta media-media lain yang mendukung.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar keluarga
a) Definisi keluarga
Beberapa definisi keluarga menurut para ahli, adalah sebagai berikut :
1) Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dan individu yang mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 1998).
2) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (Suprajitno, 2004).
3) Menurut WHO (1969), keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi, atau perkawinan.
4) Menurut Departemen Kesehatan RI, 1998. Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan bebrapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
b) Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan
Suprajitno (2004) menyatakan bahwa fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi:
1) Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan
dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua/keluarga. Apabila
menyadari adanya perubahan keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan seberapa besar perubahannya.
2) Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga dengan
pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada
orang di lingkungan tinggal keluarga agar memperoleh bantuan.
3) Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
Seringkali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar,
tetapi keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui keluarga
sendiri. Jika demikian, anggota keluarga yang mengalami gangguan
kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
4) Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga.
c) Tugas perkembangan keluarga sesuai tahap perkembangan
Tahap Perkembangan Tugas Perkembangan (utama)
1. Keluarga baru menikah - Membina hubungan intim yang memuaskan.
- Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, dan kelompok social.
- Mendiskusikan rencana memiliki anak.
2. Keluarga Child Bearing - Mempersiapkan menjadi orang tua.
- Adaptasi dengan perubahan adanya anggota keluarga, interaksi keluarga, hubungan seksual, dan kegiatan.
- Mempertahankan hubungan dalam rangka memuaskan pasangannya.
3. Keluarga dengan anak usia pre-school - Memenuhi kebutuha anggota keluarga, misalnya kebutuhan tempat tinggal, privasi, dan rasa aman.
- Membantu anak bersosialisasi.
- Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yag lain juga harus terpenuhi.
- Mempertahankan hubunga yang sehat, baik di dalam atau luar keluarga.
- Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak.
- Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
- Merencaakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasika pertumbuhan dan perkembangan anak.
4. Keluarga dengan anak usia sekolah - Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah, dan lingkungan lebih luas.
- Mempertahankan keintima pasangan.
- Memenuhi kebutuhan yang meningkat, termasuk biaya kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.
5. Keluarga dengan anak remaja - Memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda dan mulai memiliki otonomi.
- Mempertahankan hubungan intim dalam keluarga.
- Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua. Hindarka terjadinya perdebatan, kecurigaan, dan permusuhan.
- Mempersiapkan perubahan system peran dan peraturan (anggota) keluarga untuk memenuhi kebutuha tumbuh kembang anggota keluarga.
6. Keluarga dengan dewasa muda - Memperluas jaringan keluarga dari keluarga inti menjadi keluarga besar.
- Mempertahankan keintiman pasangan.
- Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat.
- Penataan kembali peran orang tua dan kegiatan di rumah.
7. Keluarga usia pertengahan - Mempertahankan kesehata individu dan pasangan usia pertengahan.
- Mempertahankan hubungan yang serasi dan memuaskan dengan anak-aaknya dan sebaya.
- Meningkatkan keakraban pasangan.
8. Keluarga usia dewasa akhir - Mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling menyenangkan pasanganya.
- Adaptasi perubahan yang akan terjadi : kehilanga pasangan, kekuatan fisik, dan penghasilan keluarga.
- Mempertahanka keakraban pasangan dan saling merawat.
- Melakukan life review masa lalu.
B. Konsep Dasar Usia Dewasa Akhir
a) Perkembangan dan Proses Menjadi Tua/Dewasa Akhir
Sekarang sudah umum diakui bahwa suatu perkembangan tidak berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaan fisik pada masa remaja atau kedewasaan sosial pada masa dewasa awal. Selama manusia berkembang terjadi perubahan perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada fungsi biologis dan motoris,pengamatan dan berpikir,motif motif dan kehidupan afeksi,hubungan sosial serta integrasi masyarakat.perubahan fisik yang menyebabkan seseorang berkurang harapan hidupnya disebut proses menjadi tua.proses ini merupakan sebagian daripada keseluruhan proses menjadi tua.proses menjadi tua ini banyak dipengaruhi oleh faktor kehidupan bersama dan faktor pribadi orang itu sendiri yaitu regulasi diri sendiri.
Perkembangan dalam arti tumbuh ,bertambah besar,mengalami diferensiasi yaitu sebagai proses perubahan yang dinamis pada masa dewasa berjalan bersama dengan keadaan menjadi tua. Thomae (1968) berpendapat bahwa proses menjadi tua merupakan suatu struktur perubahan yang mengandung berbagai macam dimensi.ia menyebutkan mengenai:
1. Proses biokemi dan pisiologis yang oleh burger di sebut “proses penuaan yang primer”dalam daerah batas psikologis.
2. Proses fisiologis atau timbulnya penyakit -penyakit.
3. Perubahan fungsional psikologis.
4. Perubahan kepribadian dalam arti sempit.
5. Penstrukturan kembali dalam hal sosial psikologis yang berhubungan dengan bertambahnya usia.
6. Perubahan yang berhubungan dengan kenyataan bahwa orang tidah hanya mengalami keadaan menjadi tua ini melainkan bahwa seseorang juga mengambil sikap terhadap keadaan tersebut.perubahan yang terakhir ini di sebut oleh Thomae “proses chrono-estetis mengenai orang menjadi tua ”(h.195).
Birren dan Schroots (1984) membedakan 3 proses sentral yaitu penuaan sebagai proses biologis, menjadi senior dalam masyarakat atau penuaan sosial dan penuaan psikologis subyektif. Disini ada 3 macam perubahan,yaitu dalam tubuh orang yang menjadi tua ,dalam kedudukan sosial dan dalam pengalaman batinnya .berbagai peubahan ini terjadi selama hidup seseorang meskipun tidak harus terkait pada usia tertentu secara eksak.tempo dan bentuk akhir proses penuaan tadi berbeda beda pada orang yang satu dengan yang lain.begitu pula berhubung masyarakat juga ikut memberikan struktur pada proses penuaan tersebut,maka juga ada perbedaan antara periode sejarah yang satu dengan yang lain.
b) Fase fase perkembangan pada usia dewasa
1) Struktur dalam rentang kehidupan
Teori pentahapan biasanya banyak dikenal.pembagian dalam fase fase kehidupan kebanyakan mempunyai suatu sifat normatif.namun sering di pakai sebagai standar tingkah laku.hal ini sesuai dengan kecenderungan masyarakat untuk memperoleh standar tingkah laku.
Dalam masyarakat yang maju maka usia tidak merupakan standar tingkah laku terutama pada masa sesudah remaja.namun fenomena sosial clock belum seluruhnya hilang .masyarakat masih menaruh pengharapan tertentu mengenai tingkah laku yang sesuai untuk usia usia tertentu.pengharapan masyarakat ini di internalisasi oleh individu dengan demikian maka seseorang yang diharapkan melakukan tugas tertentu pada usia tertentu dapat merasakan apakah ia teleh melakukan nya pada waktu yang kurang tepat.
Dengan menggunakan metode pentahapan dimungkinkan untuk membandingkan jalan hidup seseorang secara thematis.dengan demikian maka terciptalah pengertian yang formal dan universal .hal ini lebih penting dari pada suatu pendekatan yang individual.
2) Dua jenis teori pentahapan
a. Erikson
Teori rentang hidup menurut Erikson (1963).sesudah masa remaja yaitu masa penemuan identitas seseorang sekaligus memasuki masa dewasa awal yang ditandai oleh penemuan intimitas atau isolasi ,maka seseorang tinggal mengalami dua fase lagi yang meliputi sebagian besar masa hidup seseorang.dalam fase ketujuh atau masa dewasa pertengahan seseorang dapat berkembang kearah generativitas atau stagnasi ,sedangkan dalam fase kedelapan atau fase terakhir sesorang dapat berkembang ke arah integritas ego atau putus asa
Fase ketujuh meliputi bagian yang terpenting dalam hidup seseorang.dalam fase ini orang bertanggung jawab terhadap generasi berikutnya yaitu manjadi orangtua.menjadi orang tua yang berarti untuk orang lain ,untuk benda-benda ,untuk hasil karya dan ide ide merupakan persyaratan untuk menyelesaikan dengan baik proses psikososial fase yang berikutnya.yaitu fase integritas ego,atau integritas diri dengan kutub yang berlawanan yaitu putus asa.orang yang mencapai integritas diri adalah mereka yang dengan salah satu cara telah mengasuh generasi muda yang tetap tegar menghadapi keberhasilan maupun kegagalan yang dialami sebagai orangtua.begitu juga mereka yang sudah menghasilkan Sesuatu ,memperjuangkan ide atau keyakinannnya.
Seseorang yang mencapai integritas diri mempertahankan gaya hidup yang telah dipilihnya karena ia sadar bahwa ia hidup dalam zaman dan konteks social tertentu yang ditandai oleh gaya integritas sendiri.orang yang mencapai integritas diri bersifat bijaksana dalam tingkah lakunya.alternatif lain yang dapat dicapai seseorang adalah putus asa.sikap hidup ini adalah sebaliknya daripada sikap orang yang mencapai integritas diri yang memiliki pengertian yang mendalam terhadap orang lain.
b. Levinson
Levinson dkk (1978) mempelajari fase-fase hidup manusia. Perhatiannya lebih tertuju pada siklus hidup daripada jalan hidup seseorang. Ia mencari pola universalnya daripada periode hidup yang berurutan.Jalan hidup seseorang berbeda-beda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Apa yang berubah selama orang hidup adalah struktur kehidupannya. Struktur kehidupan seseorang mengatur transaksi antara struktur kepribadian dengan struktur social.
Levinson membedakan empat periode kehidupan yaitu :
1. Masa anak dan masa remaja (0-22 tahun)
2. Masa dewasa awal (17-40 tahun)
3. Masa dewasa madya (40-60tahun)
4. Masa dewasa akhir (60 tahun ke atas).
Usia tumpang tindih selama 5 – 7 tahun adalah masa peralihan. Levinson menganggap pembagian dalam fase-fase kehidupan sebagai sesuatu yang universal.
c) Menjadi tua sebagai proses individual
1). Berbagai macam teori dan tipologi
Teori mengenal proses menjadi tua melukiskan betapa proses tersebut dapat diintervensi sehingga dapat mencapai hasil yang optimum. Teori-teori yang ada dapat dibagi menjadi teori yang bersifat biologis dan yang bersifat sosiologis (Thomae, 1970). Diantara teori-teori itu termasuk teori psikologis yang dapat bersifat sosiologis maupun biologis. Dalam bidang yang sosiologis termasuk teori disengagement (teori pelepasan) dan teori aktivitas.
Disamping itu ditemukan juga teori psikologis perkembangan dalam perspektif sepanjang hidup yang dikemukakan erikson (1963), Charlotte Bucher (1959, 1972) dan havighurst (1953). Ryff (1982) menyebutkan sebagai teori optimalisasi karena titik beratnya ada dalam kemungkinan berkembangan seseorang sampai pada usia yang lanjut. Teori-teori ini memandang seseorang sebagai manusia yang utuh. Dalam proses menjadi tua seseorang dipandang dalam hubungannya dengan diri sendiri dan dengan lingkunganya. Teori-teori ini mempunyai dasar yang sama, yaitu bawa tahap-tahap perkembangan dihubungkan dengana tahapan usia sehingga memberikan pendekatan yang normative. Kurang bersifat normative adalah teori koginif Thomae (1970) dalam proses orang menjadi tua,
Disamping teori proses menjadi tua yang memandang seseorang sebagai person yang utuh, diketemukan teori-teori yang berhubungan dengan proses menjadi tua dengan bertambahnya usia yang merubah beberapa kemampuan seseorang. Teori mengenai perkembangan ingatan, inteligensi, seksualitas, kepuasan kerja selama rentang kehidupan, adalah contoh-contoh mengenai teori mikro dan teori aspek.
Semula diduga adanya gejala yang global dan universal dalam proses orang menjadi tua namun dengan datangnya data yang empiris mengenai berbagai hasil penelitian diketahui bahwa menjadi tua itu adalah proses yang sangat individual, tidak sama pada orang yang satu dengan orang yang lain.
Dalam tahun enam puluhan dimulai penelitian mengenai pola dan gaya hidup orang lanjut usia yang khas. Penelitian-penelitian ini sering menghasilkan tipologi yang berbeda-beda. Tipologi yang bermacam-macam ini berkaitan dengan sifat sample dan cara pengukuran yang dipakai.
Dalam hubungan ‘nasib’ yang ‘menimpa’ dirinya orang lanjut usia berbuat berbagai macam aktivitas dengan tingkatan kompetensi yang cukup tinggi. Baik tingkatan problematika yang rendah, baik aktivitas yang tinggi, maupun kompetensi yang besat tidak menjmin kepuasan hidup seseorang, dalam hal ini tidak menjamin ‘optimum aging’ orang usia lanjut. Dalam semua kelompok gaya hidup dapat dijumpai baik pria maupun wanita. Dalam membandingkan berbagai macam biografi orang lanjut usia Thomae menemukan (1983, h.204) betapa besarnya perbedaan yang ada antara mereka. Bahkan bila mereka dapat dibandingkan diantara mereka sendiri dalam kelompok dimensi yang cukup besar. Hal ini menimbulkan keraguan akan kegunaan usaha untuk membagi orang lanjut usia dalam kelompok-kelompok tertentu, baik berdasarkan pengalaman hidup yang mereka terima maupun berdasarkan gaya hidup mereka dalam proses manjadi tua.
2). stabilitas dan perubahan
Bila orang dengan usia tua betul-betul memiliki sifat yang begitu unik maka sebaiknya kita hanya menulis biografinya saja dan tidak perlu mengadakan pengelompokan atas dasar kesamaan antara mereka. Menurut Thomae maka cara tersebut di muka masih lebih baik. Dalam tahun 1976 Thomae telah tidak setuju akan usaha mmengadakan tipologi orang usia lanjut. Citra orang usia lanjut usia merupakan hasil ineraksi antara individu dan lingkungannya. Pola-pola orang menjadi tua merupakan proses biologis, sosial, dan persepsual-motivasional. Thomae menganggap proses tersebut sebagai interaksi antara perubahan-perubahan dalam sepuluh subsystem yang menyebabkan orang lanjut usia begitu berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Kesepuluhan subsystem tersebut adalah:
1. permasalahan nature-nurure (pemasakan-belajar) pada awal proses menjadi tua, misalnya pembawaan, riwayat pendidikan, kebiasaan dalam mengadakan aktivitas fisik dan mental, makanan, hobi, hubungan sosial.
2. perubahan dalam system biologis, misalnya kesehatan, fungsi sensoris, biomorfosa, atau proses penuaan yang primer, kemunduran dalam ingatan.
3. perubahan dalam hubungan sosial, misalnya pidah kepanti, kehilangan temanhidup, sahabat atau keluarga lain, menjalani persahabatan baru, peran sosial baru.
4. situasi sosio-ekonomis dan ekologis,misalnya hal-hal yang berkaitan dengan penghasilan, jaminan sosial,perumahan, kendaraan, jaminan pelaanan medis, dan aturan-aturan preventif.
5. konsistensi dan perubahan sifat-sifat kepribadaian, misalnya dalam hal aktifitas, perhatian, suasana hati, kretivitias, penyesuaian, control diri.
6. konsistensi dan perubahan berbagai macam asfek fungsi kognitif.
7. ruang hidup individual ( life-space) seperti konsep-diri, pengamatan terhadap orang-orang penting (significant others) pengamatan terhadap situasi sosio-ekonomis, politik dan histories, orientasi nilai dan agama, sikap terhadap kematian dan keterbatasan.
8. kepuasan hidup atau keseimbangan yang dicapai antara kebutuhan individual dan situasi kehidupan.
9. kemampuan untuk mengembalikan keseimbangan melalui konfrontasi aktif dan sikap tidak menyerah yang mengakibbatkan tingakah laku prestasi.penyesuaian dan pengaturan kembali kognisi.
10. Kompetensi sosial sebagai ukuran global kemampuan individu untuk memenuhi tuntutan sosial dan biologis.disamping itu juga diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dan mengembangkan kemampuan yang ada pada individu dalam hal ini orang usia tua(bandingkan Thomae, 1976 hal. 161).
Thomae dapat menemukan cara untuk menggambarkan pola-pola proses menjadi tua. Dengan membandingkan beberapa dimensi pada para lanjut usia Thomae dapat mengadakan pengelompokan lanjut usia yang lebih mengarah pada perbedaan di antara mereka dari pada menekankan pada pengelompokan global seperti: kelompok yang mencapai kepuasan dengan mengundurkan diri dari aktivitas dan hubungan sosial (teori disengagement/pelepasan) dan kelompok yang mencapai kepuasan dengan masih tetap aktif dan memelihara hubungan sosial (teori aktivitas).
d) Perspektif ekologis dalam psikogerontologi
Dalam decade yang lampau terdapat perhatian yang besar terhadap psikologis ekologis yang memandang orang dalam interaksinya dengan lingkungan. Psikogerontologi ekologis (Wahl, 1992) melukiskan dan menjelaskan hubungan antara orang lanjut usia dengan lingkungannya. Ingin mengerti hubungan antara pikiran, perasaan, dan sikap orang lanjut usia dengan sifat-sifat fisik dan sosial lingkungannya. Juga diteliti dalam keadaan apa dapat dilakukan proses penyesuaian dan apa akibatnya. Dlam penelitian semacam ini perhatian dipusatkan pada interaksi antara individu dan lingkungan dengan menitikberatkan pada lingkungan alami usia tua.
Bagaimana seseorang menjadi tua dan bagaimana sifat kehidupan orang usia lanjut usia banyak tergantung pada kualitas lingkungan , baik pada tingkatan mikro, maupun pada tingkatan makro. Lingkungan dapat atau tidak dapat memberikan tantangan pada orang lanjut usia untuk menggunakan kemampuan-kemamuannya yang ada pada dirinya. Baik lingkungan fisik (perhatikan panti-panti wreda) maupun lingkungan sosial serta kesa umum mengenai orang lanjut usia biasanya masih agak bersifat negative. Dengan demikian maka aktivitas dan sikap mandiri orang usia tua terhambat.
Lingkungan dalam arti luas sering tidak terlalu ramah terhadap orang lanjut usia, padahal sangat menentukan bagi kepuasan hidup mereka. Wahl (1992, hal.235) menganggap beberapa pertanyaan sangat penting untuk dijawab oleh generasi muda, yaitu: “lingkungan yang bagaimana yang dibutuhkan untuk menjamin suatu perkembangan yang optimal? Bagaimana caranya agar seseorang dapat mempertahankan kemamuan dan kepuasan hidupnya, juga bila ia sudah berkurang ketahanan biologisnya?”.
Waktu yang lampau banyak diteliti mengenai pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku orang lanjut usia, yaitu bagi mereka yang hidup di kota dan mereka yang hidup di desa, juga bagi mereka yang pindah dari lingkungan semula. Pada tinngkatan mikro telah diteliti akibat beberapa bentuk perumahan (misalnya bentuk gedungnya) serta sifat interaksi antara para penghuni panti lanjut usia dan para pengasuh panti tersebut, termasuk usaha intervensi yang dilakukan disitu. Dalam studi intervensi diadakan manipulasi mengenai aspek-aspek situasi perumahan tertentu untuk mengerti efek perubahan yang diadakan itu. Semua penelitian ini ( lihat Saup, 1993; Wahl, 1992) memberikan banyak pengertian mengenai kemungkinan bagi orang lanjut usia untuk mempertahankan kemandiriannya serta kemampuan mereka melalui perubahan situasi lingkungan.
Apa yang disebutkan di muka dapat memberikan kesan bahwa lingkungan dapat merupakan sumber ketegangan stress yang makin lama makin berat dirasakan. Tetaapi dari hasil penelitian terbukti bahwa banyak orang lanjut usia masih mampu, meskipun mengalami banyak kemunduran fisik, untuk secara aktif memberikan arti pada hidupnya dan masih dapat hidup mandiri.
Pada umumnya kedudukan orang usia tua di Indonesia dapat dikatakan menguntungkan. Hal itu disebabkan karena pandangan hidup orang timur masih menghormati orang lanjut usia yaitu sebagai pemberi restu. Bila seseorang melecehkan orang lanjut usia maka hidupnya akan sengsara dan rezekinya akan terhambat.
Orang usia tua seperti halnya orang muda dapat demi kepentingannya sendiri mentransformasi dan memberikan arti baru pada lingkungannya, mereka masih dapat mengatur dirinya sendiri. Nila lingkungan dan situasi sudah tidak dapat dirubah lagi, tinggallah cara-cara kognitif untuk mengatasinya. Bagaimana seseorang mengartikan situasi yang dialaminya sangat menentukan akibat yang ditimbulkannya. Teknik-teknik penyelesaian kognitif ini merupakan unsure sentral dalam teori kognitif integrative mengenai proses menjadi tua yang dikemukakan oleh Thomae.
e) Teori kognitif integratif mengenai orang menjadi tua
Dengan tidak mengecilkan pengaruh lingkungan serta situasi hidup seseorang, makin lama makin diakui peranan individu sendiri dalam memberika arti pada proses ia menjadi tua. Menjadi tua merupakan keadaan social dan keadaan bilogis yang tidak dapat dihindarkan lagi, tetapi disamping itu juga merupakan hasil sumbangan individu itu sendiri. Orang yang menjadi tua tidak secara pasif menerima perubahan dalam fisik maupun lingkungannya. Ia juga mengambil sikap, memilih, memberikan bentuk pada situasi yang dialaminya. Pendapat tersebut diatas merupakan landasan teori kognitif mengenai proses menjadi tua.
Thomae (1970) mencoba untuk mengintegrasikan berbagai teori yang menitik beratkan pada factor-faktor fisiologis dan yang menitik beratkan pada factor-faktor lingkungan, misalnya peran social yang dilakukan oleh individu. Thomae menitik beratkan akan persepsi seseorang terhadap hal-hal yang dialaminya yang selanjutnya memberikan dampak yang berbeda beda pada orang yang satu dengan orang yang lain. Thomae mengemukakan suatu teori yang bertitik tolak pada 3 ketentuan dasar yaitu:
1. Suatu perubahan dalam tingkah laku lebih berhubungan dengan perubahan situasi yang dipersepsi seseorang daripada perubahan obyektifnya sendiri.
2. Sifat persepsi terhadap perubahan situasi tadi tergantung pada kebutuhan pokok pengharapan seseorang atau kelompok.
3. Penyesuaian terhadap keadaan menjadi tua merupakan fungsi keseimbangan antara system kognitif dan motivasional seseorang.
Ketiga ketentuan dasar ini merupakan pernyataan 5 variabel dasar yang saling berhubungan yaitu:
1. Perubahan situasi yang objektif
2. Perubahan yang dipersepsi oleh orang yang bersangkutan
3. Perubahan dalam motivasi
4. Perubahan dalam tingkah laku
5. Penyesuaian terhadap keadaan menjadi tua.
Banyak dilakukan penelitian empiris yang mendukung pendapat Thomae tersebut. Dalam kancah individual Nampak pada contoh sebagai berikut: tingkah laku dan kebiasaan seseorang wanita lanjut usia (variable 4) sesudah mondok dalam panti rawat (variable 1) kurang ditentukan oleh keadaan objektif waktu menjalani perawatan tersebut melainkan lebih ditentukan oleh persepsi mengenai perawatannya itu (variable 2). Dia dapat menganggap perawatan tadi sebagai keadaan yang positif atau sebagai keadaan yang negative. Persepsinya itu selanjutnya dipengaruhi lagi oleh aspek-aspek motivasional (variable 3). Bila wanita lanjut usia yang tinggal di tepi kota tadi merasa tidak aman dan tidak mempunyai kontak social maka tinggal dalam panti tadi dipandang sebagai sesuatu hal yang positif. Sebaliknya hidup dip anti dapat ula dipandang negative bila seseorang masih ingin mempertahankan hidup yang merdeka atau masih menginginkan privasi. Dalam keadaan yang terakhir ini sukar untuk mencapai penyesuaian ataupun keseimbangan. Penyesuaian dan keseimbangan akan dapat dicapai bila wanita lanjut usia tadi dapat memadukan keinginan dan pengaharapannya (variable 4) dengan apa yang dilihat dan dialaminya (variable 2).
Dalam hal ini ia dapat mengubah baik keinginan maupun persepsinya sendiri. Keseimbangan akan terwujud bila orang lanjut usia tadi memperoleh apa yang diinginkan dan menginginkan apa yang diperolehnya.
f) Inteligensi dan kebijaksanaan atau kearifan
Model deficit
Suatu mitos yang bertahan adalah pendapat bahwa menjadi tua berarti mengalami suatu kemunduran intelektual. Khususnya dalam dunia usaha pendapat tersebut dipakai sebagai alas an untuk membenarkan pemberhentian tenaga yang sudah lanjut usia. Model devisit, juga disebujt model dekrimental, mengenai perkembangan kecerdasan lama mendapat dukungan dari hasil penelitian kroseksional dalam tahun 20 dan 30 yang memang menunjukkan bahwa puncak inteligensi psikometris ada pada usia 20 tahun, kemudian lambat laun menurun dengan pasti (adolescence optimum hypothesis). Kritik yang dianjurkan terhadap hasil penelitian ini adalah kelemahan yang ada pada metode kroseksional yang sulitmembedakan antar pengaruh bertambahnya usia dan pengaruh kohort kelahiran. Juga perlu diperhatikan bahwa inteligensi bukan merupakan pengertian unidimensional. Paling tidak dapat membedakan antara apa yang disebut fluid intelligence dan crystallized intelligence. Fluid intelligence adalah kelincahan berfikir suatu aspek inteligensi yang berhubungan dengan factor pembawaan dan fungsi-fungsi fisik; crystallize intelligence berhubungan dengan kebudayaan dan hasil pelajaran sepanjang hidup, yaitu inteligensi yang diperoleh melalui belajar dan pengalaman, seperti misalnya pengetahuan umum dan bahasa.
Ketika schaie mengemukakan bahwa kemunduran intelegensi pada para lanjut usia merupakan suatu mitos saja, maka antara lain Horn dan Donaldson (1976) menganggap pendapat Schaie tersebut sebagai terlalu optimis. Mereka menunjukkan bahwa strategi apapun yang digunakan namun pengambilan sampel itu tidak akan refsentatif. Hal ini yang dapat dipertanyakan adalah apakah masih ada kemunduran bila dalam sampel yang diteliti dihilangkan semua yang sakit, berhubung beberapa penyakit terkait dengan usia seseorang. Penelitian longitudinal yang menggunakan beberapa kali pengukuran menunjukkan adanya peningkatan hasil prestasi, meskipun ada keusangan sampel dan efek belajar.horn dan Donaldson menganggap cukup realistis bila terdapat kemunduran inteligensi khususnya mulai usia 50 tahun. Mereka memperingatkan adanya suatu mitos lain yang timbul yaitu bahwa orang menjadi tua itu tidak mengalami perubahan apapun. Terhadap pendapat tersebut diatas, Schaie mengemukakan konklusi sebagai berikut (Schaie, 1980, p 270-280):
1. Perubahan intelektual dan kemunduran keterampilan dalam berbagai pengatasan masalah pada mereka yang belum mencapai akhirusia 50 yahun adalah patologis dan tidak normal.
2. Diantara usia awal 60 dan pertengahan 70 terdapat kemunduran yang normal mengenai beberapa keterampilan tertentu pada orang-orang tertentu; diatas usia 80 tahun biasanya terjadi kemunduran pada kebanyakan orang.
3. Bagi kebanyakan orang kemunduran terjadi pada awal usia 50 mengenai keterampilan yang membutuhkan kecepatan reaksi, dan keterampilan yang banyak dipengaruhi oleh syaraf perifer.
4. Kemunduran pada berbagai keterampilan juga dikemukakan pada orang-orang dengan penyakit jantung koroner yang serius lepas dari usia, juga pada orang-orang yang hidup pada lingkungan social yang lebih rendah dan serba kekurangan.
5. Berhubung perubahan social-kultural yang sangat cepat, maka orang-orang yang ada pada usia akhir lima puluhan atau lebih tua mengalami keadaan “penuaan” dalam arti absolescence (tidak terpakai). Dalam perbandingan dengan mereka yang lebih muda prestasi orang lanjut usia lebih rendah, juga meskipun prestasi mereka tidak berbeda dengan waktu sebelumnya.
6. Bagi psikologi klinis perlu untuk membedakan antara kemunduran individual dengan kemunduran karena penuaan. Terhadap kasus yang pertama dibutuhkan intervensi penyembuhan, terhadap kasus yang kedua dibutuhkan pendidikan pemulihan atai remedient.
7. Data mengenai tingkah laku penyelesain maslah pada waktu ini kurang jelas karena sampai sekarang masukan baru dating dari hasil penelitian kros-seksional. Yang perlu diketahui adalah bahwa tidak banyak buktu yang menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan intelektual antara orang lanjut usia dan orang yang masih muda.
Model perkembangan dan penurunan
Melalui analisa factor hasil tes inteligensi dikemukakan adanya kurang lebih 50 fungsi kecerdasan yang primer. Dan kumpulan fungsi tersebut, juga melalui analisa factor diketemukan dua fungsi mental yang oleh Cattell, seperti telah disinggung dimuka, disebut Fluid intelligence dan Cristallized intelligence. Tes untuk mengungkap fluid intlliegence lebih banyak bersifat bebas budaya misalnya yang berhubungan dengan pengamatan dan tingkah laku (tes persepsual dan tes performal) serta beberapa tes pendapat dan penalaran.
Tes mengenai crystallized intelligence menyangkut bentuk-bentuk kemampuan dalam member pendapat sebagai hasil pengalaman dan belajar dalam suatu kebudayaan tertentu. Cristallized intelligence memberikan ukuran sampai seberapa jauh seseorang menginternalisasi inteligensi kolektif kebudayaannya. Crystallized intelligence dan Fluid intelligence juga berhubungan dengan berbagai macam cara penguasaan ilmu. Fluid intelligence berkaitan dengan perkembangan cara-cara yang sangat pribadi, sedangkan crystallized intelligence ditandai oleh penggunaan caracara yang spesifik untuh suatu kebudayaan tertentu.
Mengenai perbedaan usia dalam kaitan dengan fluid intelligence, crystallized intelligence, ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang banyak dilakukan penelitian. Hasil tes mengenai factor-faktor sesudah usia 20 tahun Nampak adanya kemunduran prestasi yang jelas pada fluid intelligence serta pada ingatan jangka pendek. Namun kita harus cukup berhati-hati dalam menginterpretasi kemunduran dua factor yang saling berhubungan tadi. Kemunduran dalam ingatan dapat terjadi tanpa kemunduran dalam fluid intelligence dan sebaliknya.
Pada Cristallized intelligence tidak Nampak ada kemundurang dengan bertambahnya usia, bahkan sebaliknya secara rata-rata Nampak adanya kemjuan. Hal ini juga diketemukan pada ingatan jangka panjang. Kedua factor ini dapat berkembang sendiri-sendiri tidak tergantung satu sama lain. Horn dan Donaldson (1980) mengakui adanya perbedaan yang besar pada kurve inteligensi orang yang satu dengan yang lain. Juga tidak dikemukakan dalam menentukan fungsi-fungsi yang maju dan yang mundur, bagaimana seseorang menggunakan fungsi-fungsi tersebut dalam melaksanakan tugasnya sehari hari. Persoalannya adalah sampai seberapa jauh orang dewasa dan lanjut usia menggunakan fungsi-fungsi ini untuk dapat mencapai kepuasan dalam hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan dikaji lebih lanjut pada pasal yang berikut.
Model perbaikan dan penggantian terarah
Model yang diformulasi oleh Baltes dan kawan-kawan (Baltes dan Dittmann-Kohli, 1982; Baltes, dkk, 1984) menggarisbawahi perbedaan yang besar dalam penggunaan fungsi intelektual dalam praktik kehidupan.
Baltes, dkk. Memperluas penggunaan arti inteligensi. Mereka mengartikan inteligensi lebih luas daripada apa yang merupakan hasil tes inteligensi saja. Berprilaku inteligen merupakan fenomena dalam konteks kehidupan sehari-hari dan fenomena sepanjang kehidupan. Mereka mendasarkan diri pada 4 landasan hasil penelitian, yaitu:
1. Fenomena inteligensi mempunyai banyak dimensi (multidimensional)
2. Proses perkembangannya tidak sama pada semua orang, arahnya berbeda-beda (multidireksional)
3. Tingkatan berfungsinya dan berkembangya intelektual seseorang berbeda antara orang lain yang satu dengan orang yang lain (variabilitas interindividual)
4. Arah jalan dan tingkat perkembangan apa yang pernah dicapai dapat saja berubah (plastisitas intra-individual).
Menurut model ini fluid intelligence dan Cristallized intelligence hanya meliputi sebagian kecil inteligensi pada usia dewasa. Perluasan arti daripada model ini dilandasi pendapat bahwa seseorang dapat melakukan banyak hal secara inteligen dan juga secara tidak inteligen. Wanita yang dengan terampil melaksanakan tugas-tugas rumah tangganya memang sering mendapatkan pujian namun pekerjaannya itu jarang dipandang sebagai prilaku yang inteligen. Untuk menempatkan aktivitas ini dalam lingkup yang sesuai, maka Baltes dkk. Membedakan adanya dua jenis proses kogniftif yang berkaitan dengan berpikir murni dan proses kognitif yang berkaitan dengan berfikir terapan. Baltes dkk. Menyebutnya sebagai proses kognitif yang pertama dan proses kognitif yang kedua. Seseorang dapat sangat terampil dalam kedua jenis proses tadi.
Proses kognitif yang pertama meliputi proses kognitig yang fundamental, bebas daripada isi. Baltes dkk. Menyebutnya sebagai “congnition qua congnition”, dengan lain perkataan merupakan “mekanik atau landasan pengolahan informasi dan penyelesain problem” (Baltes, Dittman-Kohli & Dixon, p 63). Hal ini berkaitan dengan mekanik inteligensi yang berkaitan dengan tugas-tugas mengenai hubungan, klasifikasi dan penalaran logis. Mengerti akan konstruksi logika formal serta aktivitas kignitif yang dibutuhkan juga merupakan bagian yang esensial proses kognitif yang pertama tersebut. Sejauh kemampuan itu dapat diukur dengan tes, maka hal tadi dapat digolongkan kedalam fluid intelligence.
Proses kognitif yang kedua berkaitan dengan fungsi penerapannya terhadap sesuatu keadaan tertentu. Penerapan ini ditandai oleh prilaku pragmatis, yaitu melakukan penyesuaian secara inteligen terhadap keadaan kehidupan dalam artinya yang luas.
Dalam awal rentang kehidupan terutama kemampuan kognitif murni mulai berkembang. Dalam masa dewasa maka mekanik inteligensi yang telah berkembang ditampung dalam pragmatic inteligensi. Berhunbung kemampuan inteligensi primer (proses pertama) merupakan hal yang potensial, maka orang dewasa terutama mengembangkan keterampilan yang berhubungan dengan proses inteligensi yang kedua. Berdasarkan pengalaman apa yang ditemuinya dalam hidup, maka orang s\dewasa akan mengembangkan keterampilan intelektual yang tergolong dalam prilaku yang pragmatis. Perkembangan intelektual berakhir pada keterampilan keahlian dalam suatu bidang tertentu, dalam kompetensi social dan kadang-kadang dalam sikap arif dan bijaksana.
g) Seksualitas dan intimitas
Sifat hubungan seks dengan orang lain berubah selama masa dewasa dan masa lanjut usia. Penyebab perubahan ini ada dalam perubahan biologis, perubahan dalam hubungan social, pengharapan dan norma masyarakat dan menumpuknya pengalaman hidup serta integrasinya dalam sejarah pribadi orang yang bersangkutan.
h) Perkembangan dan perubahan dalam empati dimensi seksualitas
Menurut Van Conde Boas (Vijs, 1976) seksualitas dapat dibedakan dalam empat dimensi:
1. Proses reproduksi
2. Dimensi kenikmatan
3. Dimensi hubungan atau relasi
4. Institusionalisasi
Dalam usia dewasa akhir daya kemampuan seksual baik pada wanita maupun pria mengalami kemunduran, namun tidaklah berarti bahwa kenikmatan seks hilang sama sekali, hanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai orgasme, sedangkan orgasmenya sendiri berlangsung lebih pendek.
Perubahan fisiologis dalam seksualitas ini tidak mengandung arti bahwa dalam keadaan normal orang dewasa akhit atau usia tua tidak dapat menikmati hubungan seks lagi. Dalam hal ini kebudayaan masyarakat ikut mempengaruhi, begitu pula factor kesehatan juga menetukan. Pandangan bahwa hubungan seks pada usia dewasa akhir tidak terpuji ataupun dapat menimbulkan penyakit perlu dihilangi lebih dulu, khususnya di Indonesia.
Kenikmatan seksual, juga pada dewasa akhir tetap membutuhkan hubungan yang mendalam antara suami dan istri. Sangkar kosong dapat menyebabkan suami dan istri saling menemukan kembali, sehingga masing-masing dapat mencapai kenikmatan seksual lagi.
Di Barat diketemukan bahwa sesudah usia 50 tahun frekuensi hubungan seks menurun baik pada laki-laki maupun wanita, meskipun pada laki-laki masih lebih aktif sepanjang hidup. Wilson (1975) menemuka bahwa 25% laki-laki usia 60 tahun ke atas dan 50% wanita usia 60 tahun ke atas tida lagi melakukan hubunga seksual. 27% dari kelompok laki-laki melakukan hubungan seks sekali sebulan, pada kelompok wanita 12%. Penurunan frekuensi yang drastic dalam hubungan seks ini diketemukan sekitar usia 75 tahun.
Perbedaan antara laki-laki dan wanita selalu Nampak. Kehidupan laki-laki lebih bewarna seksual disbanding wanita. Mungkin hal ini dapat terjadi karena wanita, khususnya di Indonesia lebih terhambat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai seks.
i) Preverensi tempat tinggal dan perlakuan yang diinginkan pada usia dewasa akhir
Di Indonesia pada dewasa ini telah terjadi perubahan keadaan dalam hidup orang tua. Kalau semula anak-anak lama tinggal bersama orang tua, maka sekarang berkumpulnya anak dengan orang tua menjadi langka. Hal ini disebabkan karena mobilitas yang tinggi, misalnya:
1. Anak sekolah di kota lain, mungkin di luar negeri, sehingga terjadi apa yang disebut sangkar kosong.
2. Orang tua yang sudah lanjut usia terpaksa tidak dapat dirawat oleh anak-anaknya Karena anak-anak bekerja di tempat lain, mungkin cukup jauh misalnya di luar negeri dan orang tua yang sudah lanjut tidak dapat dibawa, padahal membutuhkan perawatan.
Keadaan tersebut menimbulkan kebutuhan akan alternative lain untuk perawatan orang tua, salah satu alternative adalah menyediakan tempat perawatan atau panti werda yang berbentuk settlement. Kalau bagi lower class sudah disediakan oleh Kanwil Despos berwujud panti werda, maka settlement yang dimaksud di atas adalah untuk kelas menengah ke atas dengan fasilitas yang cukup, maka penghuninya juga harus membayar.
C. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Usia Dewasa Akhir
1. Pengkajian
a. Pengkajian pada keluarga
1) Identitas : Nama KK, alamat, komposisi keluarga (nama, jenis kelamin, hubungan keluarga, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, pekerjaan),dan genogram (genogram dari tiga generasi), tipe keluarga, suku/budaya yang dianut keluarga, agama yang dianut dalam keluarga, status social, aktivitas keluarga.
2) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga :
a) Tahap perkembangan keluarga saat ini, ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.
b) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya.
c) Riwayat keluarga inti, menjelaskan riwayat kesehatan pada keluarga inti, meliputi: riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota, dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga seperti perceraian, kematian, dan keluarga yang hilang.
d) Riwayat keluarga sebelumnya, keluarga asal kedua orang tua (seperti apa kehidupan keluarga asalnya) hubungan masa silam dan saat dengan orang tua dari kedua orang tua.
3) Lingkungan : Karakteristik rumah, karakteristik lingkungan, mobilitas keluarga, hubungan keluarga dengan lingkungan, system social yang mendukung.
4) Struktur keluarga :
a) Pola komunikasi, menjelaskan cara berkomunikasi antar anggota keluarga, pesan yang disampaikan, bahasa yang digunakan, komunikasi langsung atau tidak, adakah hal-hal yang tertutup atau tidak, frekuensi, kualitas komunikasi, dan pesan emosional (negative/positif).
b) Pengambil keputusan, siapa yang membuat dan memutuskan keputusan dalam keluarga, penggunaan keuangan, model kekuatan atau kekuasaan yang digunakan keluarga dalam membuat keputusan.
c) Peran anggota keluarga, peran formal dan informal dalam keluarga, apakah ada konflik peran dalam keluarga, berapa kali dan bagaimana peran tersebut dilaksanakan secara konsisten.
d) Nilai- nilai yang berlaku di keluarga, menjelaskan mengenai nilai norma yang dianut keluarga dengan kelompok atau komunitas, apakah sesuai dengan nilai norma yang dianut, seberapa penting nilai yang dianut,latar belakang budaya yang mempengaruhi nilai-nilai keluarga, bagaimana nilai-nilai keluarga mempengaruhi status kesehata keluarga.
5) Fungsi keluarga
a) Fungsi afektif, menjelaskan pola kebutuhan keluarga, apakah keluarga merasakan dan dapat menggambarkan kebutuhan mereka.
b) Fungsi sosialisasi, menjelaskan apakah ada otonomi setiap anggota dalam keluarga, apakah saling ketergantungan, dll.
c) Fungsi perawatan kesehatan, menjelaskan sejauh mana keluarga mengenal masalah kesehatan dalam keluarganya, pengetahua keluarga mengenai konsep sehat sakit, kesanggupa keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga, dll.
b. Pengkajian pada klien
1) Identitas klien: Nama, usia, jenis kelamin, agama, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
2) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan keluhan sakit yang dirasakan klien pada tahap usianya saat ini, bagaimana pandangan klien tentang kesehatannya, perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan.
b) Riwayat kesehatan dahulu
Tanyakan pada klien tentang penyakit yang pernah dialaminya pada masa lalu yang mempengaruhi kondisinya saat ini.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan riwayat penyakit genetic dan penyakit keluarga pada masa lalu dan masa sekarang seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, hipertensi, kaker, stroke, da arthritis reumatis, penyakit gagal ginjal, tiroid, asma, alergi, penyakit-penyakit darah, dll.
d) Riwayat kesehatan psikososiospiritual
1. Tanyakan kebiasaan klien dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan minum obat. Pemeriksaan psikologis dilakukan saat berkomunikasi dengan klien, untuk mengetahui fungsi kognitif, termasuk daya ingat, proses pikir, alam perasaan, orientasi terhadap realitas, dan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.
2. Kaji bagaimana klien membina keakraban dengan keluarga dan masyarakat, kesibukan klien mengisi waktu luang, perasaan sejahtera dalam kaitannya dengan social ekonomi.
3. Kaji keyakinan agama yang dimiliki dan sejauh mana keyakinan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Pemeriksaan fisik
Pada usia dewasa akhir (60 tahun ke atas) terjadi penurunan fungsi fisiologis tubuh. Untuk itu pemeriksaan fisik pada klien dewasa akhir perlu dilakukan dengan pengkajian pada system tubuh di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Sistem integument
Amati kulit lansia, adakah jaringan parut, keadaan rambut, kuku, kebersihan lansia secara umum, dan gangguan lain yang umum pada kulit.
2. Sistem respirasi
Bagaimana dengan pernafasan lansia, adakah gangguan pada system pernafasan, adakah sessak nafas, apakah menggunakan alat bantu, apakah terdengar ronkhi, wheezing, dll.
3. System musculoskeletal
Amati kondisi lansia apakah terdapat kontarktur pada sendi, bagaimana dengan tingkat mobilisasinya, adakah gejala atau tanda kifosis, dan adanya gerakan sendi yang terbatas.
4. System kardiovaskuler
Adakah keluhan pusing, sakit kepala, tanda edema pada ekstremitas bawah dan ekstremitas atas, pembengkakan pada vena jugularis, sirkulas darah perifer, warna, serta kehangatannya.
5. System gastrointestinal
Adakah keluhan mual,muntah, bagaimana asupan dietnya, status gizi secara umum, kondisi klien saat makan dikunyah atau langsung ditelan, keadaan gigi, adakah bising usus, tanda distensi abdomen, gangguan konstipasi atau obstipasi, serta diare atau tanda inkontinensia alvi.
6. System perkemihan
Bagaimana dengan warna dan bau urine, adakah distensi kandung kemih, tanda disuri, poliuri, anuria, inkontinensia uri, frekuensi urine, dan tanyakan berapa pemasukan dan pengeluaran cairan klien.
7. System persarafan
Apakah ada paralisis, parese/ hemiplegic, dll.
8. System sensorik
Pengelihatan: pengelihatan tidak terlalu jelas atau kabur;berapa jerak pandang (untuk melihat, membaca, atau menulis). Pendengaran: bagaimana pendengaran klien apakah menurun, pengecapan: bagaimana kemampuan klien mengunyah makanan. Penciuman : adakah gangguan penciuman terhadap bau-bauan.
c. Diagnosa keperawatan keluarga
1. Gangguan gambaran diri pada keluarga dengan klien dewasa akhir yang berhubungan dengan persepsi klien yang keliru terhadap diri sendiri.
2. Resiko tinggi hubungan keluarga tidak harmonis yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mempertahankan keharmonisan keluarga.
3. Perubahan hubungan keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat klien dewasa akhir.
a. Intervensi keperawatan keluarga
No.Dx Tujuan Kriteria
Hasil Standar Intervensi
1
2.
3.
Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga dapat mengetahui masalah yang dialami anggota keluarga.
Khusus:
a. Keluarga dapat menjelaskan masalah yang dialami klien.
b. Keluarga mampu menyebutkan factor penyebab masalah yang dialami klien.
c. Keluarga dapat mengajarkan konsep diri yang positif pada klien.
Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga dapat membina hubungan yang baik antar anggota keluarga.
Khusus :
a. Keluarga mampu mengidentifikasi factor penyebab ketidakharmonisan keluarga.
b. Keluarga dapat menjelaskan tugas perkembangan keluarga
c. Keluarga dapat menjelaskan cara mengatasi masalah yang terjadi pada klien dewasa akhir.
Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan keluarga dapat mengetahui cara merawat klien.
Khusus :
a. Keluarga dapat mengetahui cara merawat klien.
b. Keluarga dapat mengidentifikasi sumber dukungan yang ada disekitar keluarga.
c. Keluarga dapat menyebutkan dampak hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga.
Verbal
Pengetahuan
Verbal
Pengetahuan
Verbal
Pengetahuan
a. Klien dan keluarga mampu mengenal masalah yang dialami.
b. Klien dan keluarga mampu menyebutkan factor penyebab masalah yang dialami.
c. Klien dan keluarga dapat mengetahui konsep diri yag positif.
a. Klien dan keluarga mampu mengidentifikasi factor penyebab ketidakharmonisan dalam keluarga.
b. Klien dan keluarga dapat menjelaskan tugas perkembangan keluarga.
c. Klien dan keluarga mampu menjelaskan cara mengatasi masalah.
a. Klien dan keluarga dapat mengetahui cara perawatan kesehatan.
b. Klien dan keluarga dapat mengidentifikasi sumber dukungan yang ada.
c. Klien dan keluarga dapat menyebutkan dampak hubungan yang tidak harmonis.
a. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tentang masalah yang dialami klien.
b. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tentang factor penyebab dari masalah yang dialami klien.
c. Ajarkan kepada keluarga untuk memberi dukungan terhadap keadaan diri klien.
d. Ajarkan kepada keluarga setiap diskusi perlu diambil suatu keputusan yang terbaik.
a. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) factor penyebab ketidakharmonisan keluarga.
b. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tugas perkembangan keluarga.
c. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tugas perkembangan dewasa akhir yag harus dijalani.
d. Ajarkan cara menyelesaikan masalah.
e. Berikan pujian bila keluarga dapat mengenali penyebabnya atau mampu membuat alternative.
a. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tentang cara merawat klien.
b. Diskusikan (menjelaskan, memberi kesempatan bertanya, dan menjelaskan kembali) tentang bahaya jika hubungan keluarga tidak harmonis saat anggota keluarga sakit.
c. Kaji sumber dukungan yang ada disekitar keluarga.
d. Ajarkan anggota keluarga memberikan dukungan terhadap upaya pertolongan yang telah dilakukan.
e. Ajarkan kepada keluarga untuk menyelesaikan masalah klien dewasa akhir dengan keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar