BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendo, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Beragamnya jaringan dan organ sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Beberapa gangguan tersebut timbul primer pada sistem itu sendiri, sedangkan gangguan yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek pada sistem muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang masih sering terjadi di dunia. Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Banyak mitos yang berkembang tentang penyakit ini, seperti diyakinkan bahwa informasi, akan berlanjut menyebar pada tulang dan akhirnya seluruh tubuh. Padahal yang sebenarnya adalah osteomielitis tidak menyebar ke bagian lain tubuh karena kelenjar lain tersebut punya aliran darah yang baik (terproteksi oleh sistem imun tubuh). Kecuali apabila terdapat sendi buatan di bagian tubuh yang lain dalam keadaan ini benda asing tersebut menjadi pathogen.
Osteomielitis dapat terjadi pada semua usia tetapi sering terjadi pada anak-anak dan orang tua, juga pada orang dewasa muda dengan kondisi kesehatan yang serius dan diagnosa osteomielitis ditentukan berdasarkan gambaran klinis penyakit dan juga gambaran radiologik.
Selain infeksi pada tulang, infeksi juga dapat menyerang persendian. Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius yang cepat merusak kartilago hyaline artikular dan kehilangan fungsi sendi yang ireversibel. Diagnosis awal yang diikuti dengan terapi yang tepat dapat menghindari terjadinya kerusakan sendi dan kecacatan sendi. Insiden septik artritis pada populasi umum bervariasi 2-10 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden ini meningkat pada penderita dengan peningkatan risiko seperti artritis rheumatoid 28-38 kasus per 100.000 per tahun.
1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan Muskuloskeletal II tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Infeksi Muskuloskeletal: Osteomielitis dan Artritis.
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik.
2. Mengetahui penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik
3. Mengetahui patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik
4. Mengetahui manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik.
5. Mengetahui evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik
6. Mengetahui penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik.
7. Mengetahui proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik?
2. Bagaimana penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik?
3. Bagaimana patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik?
4. Bagaimana manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik?
5. Bagaimana evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik?
6. Bagaimana Penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik?
7. Bagaimana Proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik?
1.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Data ataupun pembahasan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa referensi yaitu buku-buku atau sumber bacaan yang relevan serta media-media lain yang mendukung.
BAB II
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : OSTEOMIELITIS
2.1 DEFINISI OSTEOMIELITIS
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomeilitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
1. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
2. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
3. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
4. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streplococcus dan organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adalah infeksi lain.
2.2 ETIOLOGI OSTEOMIELITIS
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
2.3 KLASIFIKASI OSTEOMIELITIS
Menurut kejadiannya osteomyelitis ada 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer Kuman-kuman mencapai tulang secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder Adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran nafas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan osteomyelitis menurut perlangsungannya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
1. Nyeri daerah lesi
2. Demam, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional
3. Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka
4. Pembengkakan lokal
5. Kemerahan
6. Suhu raba hangat
7. Gangguan fungsi
8. Lab = anemia, leukositosis
b. Osteomyelitis kronis
1. Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri
2. Gejala-gejala umum tidak ada
3. Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur
4. Lab = LED meningkat
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
a. Staphylococcus (orang dewasa)
b. Streplococcus (anak-anak)
c. Pneumococcus dan Gonococcus
2.4 INSIDEN OSTEOMIELITIS
Osteomyelitis ini cenderung terjadi pada anak dan remaja namun demikian seluruh usia bisa saja beresiko untuk terjadinya osteomyelitis pada umumnya kasus ini banyak terjadi laki-laki dengan perbandingan 2 : 1.
2.5 PATOFISIOLOGI OSTEOMIELITIS
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik.
Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.
2.6 MANIFESTASI KLINIS OSTEOMIELITIS
Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitannya mendadak, sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum). Gejala sismetik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul.
Bila osteomielitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak akan ada gejala septikemia. Daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri dan nyeri tekan.
Pasien dengan osteomielitis kronik ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat menjadi pada jaringan parut akibat kurangnya asupan darah.
2.7 PENCEGAHAN OSTEOMIELITIS
Sasaran utamanya adalah Pencegahan osteomielitis. Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.
Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan potensial terjadinya osteomielitis.
2.8 PENATALAKSANAAN OSTEOMIELITIS
Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.
Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : ARTRITIS SEPTIK
2.9 DEFINISI ARTRITIS SEPTIK
Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme. Secara normal, sendi dilumasi dengan jumlah kecil dari cairan yang dirujuk sebagai cairan sinovial (synovial fluid) atau cairan sendi. Cairan sendi yang normal adalah steril dan, jika dikeluarkan dan dipelihara (dikulturkan) dalam laboratorium, tidak ada mikroba-mikroba yang akan ditemukan. Dengan septic arthritis, mikroba-mikroba dapat diidentifikasi dalam suatu cairan sendi yang terpengaruh.
Paling umum, septic arthritis mempengaruhi suatu sendi tunggal, namun adakalanya lebih banyak sendi-sendi yang dilibatkan. Sendi-sendi yang terpengaruh sedikit banyak bervariasi tergantung pada mikroba yang menyebabkan infeksi dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi orang yang terpengaruh. Septic arthritis juga disebut infectious arthritis. Artritis septic sendiri mempunyai banyak pengertian, diantaranya :
1. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2.10 ETIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah. Trauma sendi sebelumnya, arthritis yang menyertai, dan menurunnya kekebalan penderita mempengaruhi terjadinya infeksi sendi lutut. Gonococci dan stapilococci serta Haemophilus influenzae penyebab utama infeksi sendi pada orang dewasa. Penemuan dan penangan yang segera pada infeksi sendi sangat penting karena timbunan pus dapat menyebabkan kondrolisis (kerusakan kartilago hyalin), yang penyembuhannya sangat buruk. Pada individu-individu "berisiko tinggi" yang tertentu, bakteri-bakteri lain mungkin menyebakan septic arthritis, seperti E. coli dan Pseudomonas spp. pada orang-orang penyalahguna obat-obat intravena dan orang-orang tua, Neisseria gonorrhoeae pada dewasa-dewasa muda yang aktif secara seksual, dan Salmonella spp. pada anak-anak muda atau orang-orang dengan penyakit sel sabit. Bakteri-bakteri lain yang dapat menyebabkan septic arthritis termasuk Mycobacterium tuberculosis dan spirochete bacterium yang menyebabkan penyakit Lyme.
Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko artritis septik:
1. Sendi implan Buatan
2. Bakteri infeksi di tempat lain dalam tubuh
3. Penyakit kronis atau penyakit (seperti diabetes, rheumatoid arthritis dan penyakit sel sabit)
4. Penggunaan narkoba intravena (IV) atau dengan injeksi
5. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh
6. Trauma sendi Terbaru
7. Artroskopi sendi terbaru atau operasi lain dalam sendi
Septic arthritis dapat dilihat pada usia berapa pun. Pada anak-anak, itu terjadi paling sering pada mereka yang di bawah 3 tahun. Pinggul adalah sebuah situs sering infeksi pada bayi. Artritis septik jarang terjadi dari usia 3 sampai remaja. Anak-anak dengan artritis septik lebih mungkin dibandingkan orang dewasa terinfeksi dengan kelompok B streptokokus dan Haemophilus influenza jika mereka divaksinasi.
2.11 PATOFISIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Septic arthritis berkembang ketika bakteri menyebar melalui aliran darah ke sendi. juga dapat terjadi ketika sendi secara langsung terinfeksi dengan bakteri selama cedera atau operasi. daerah yang paling umum untuk jenis infeksi lutut dan pinggul.
2.12 MANIFESTASI KLINIS ARTRITIS SEPTIK
Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis. Pengkajian adanya focus primer infeksi (misalnya adanya karbunkel) harus dicari. Pasien lansia dan orang yang memakai kortikosteroid atau obat imunosupresif mungkin tidak memperlihatkan manifestasi klinis yang khas untuk adanya infeksi.
Gejala klinis yang tampak pada bayi berbeda dengan pada anak-anak dan dewasa, yaitu : Bayi
1. Dapat ditemukan kekakuan pada sendi yang terkena
2. Nyeri pada pergerakan sendi
3. Dapat terjadi demam, namun gejala ini bukan patokan utama
4. Dapat terjadi dislokasi patologik pada sendi pada minggu kedua.
Gejala klinis pada: Anak-anak dan dewasa
1. Anak-anak dan orang dewasa dapat memberitahu lokasi terjadinya sakit dan nyeri yang timbul saat pergerakkan
2. Karena sendi sakit, maka tubuh secara otomatis berusaha untuk melindunginya dengan mengontraksikan otot-otot disekitar sendi
3. Kekakuan sendi jelas terlihat
4. Adanya demam
2.13 PENATALAKSANAAN ARTRITIS SEPTIK
Konservatif Pemberian antibiotik dapat dilakukan sebelum operasi dilakukan. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi. Istirahat, imobilisasi, elevasi, dan kompres dingin bisa membantu mengurangi rasa sakit. Melakukan latihan dalam sendi yang terkena membantu proses pemulihan. Jika cairan sendi (synovial fluid) menumpuk cepat dalam sendi sebagai akibat dari infeksi, Anda mungkin perlu sering aspirasi cairan dengan memasukkan jarum ke dalam sendi. Pada kasus yang berat mungkin memerlukan pembedahan untuk mengeringkan cairan dari sendi yang terinfeksi.
Operasi Tujuan utama dilakukannya operasi adalah untuk membersihkan nanah yang ada pada sendi sehingga tidak terjadi kerusakan yang lenjut pada sendi. Operasi dapat dilakukan secara tertutup (arthroskopi lavage) atau dengan pembedahan terbuka. Jika penyakit ini sudah lanjut, maka dapat dilakukan arthrodesis, yaitu penyatuan sendi, untuk menghilangkan nyeri, meningkatkan stabilitas, dan mengoreksi kelainan bentuk yang ada. Namun cara ini akan mengakibatkan hilangnya pergerakan sendi.
Rehabilitasi Pada model percobaan, dengan menggunakan tehnik Continuous Passive Motion (CPM), ternyata dapat mencegah tulang rawan sendi dari kerusakan.
2.14 KOMPLIKASI ARTRITIS SEPTIK
Komplikasi Dini
1. Kematian
2. Kerusakan sendi
3. Dislokasi patologik dari sendi
4. Kematian tulang
Komplikasi Lanjut
1. Penyakit degeneratif pada sendi
2. Dislokasi permanen
3. Fibrous ankylosis
4. Bone ankylosis
PROSES KEPERAWATAN PADA INFEKSI MUSKULOSKELETAL: OSTEOMIELITIS DAN ARTRITIS
2.15 PENGKAJIAN
2.15.1. PENGKAJIAN PADA OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien yang datang dengan awitan gejala akut (mis. Nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat dan nyeri tekan. Pada osteomielitis akut, pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi. Pada osteomielitis kronik, peningkatan suhu mungkin minimal, yang terjadi pada sore dan malam hari.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Memperlihatkan adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat yang nyeri tekan. Cairan purulen dapat terlihat. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
Pengkajian Nyeri
a. Provokes/ Palliativ : Pemicu terjadinya nyeri yaitu adanya infeksi, trauma (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang ).
b. Quality / Quantity : Kualitas dari nyeri seperti ditusuk, terbakar, sakit seperti digencet. Kuantitas dari nyeri, dimana nyeri terjadi beberapa menit, jam, hari, bulan, dsb ).
c. Region /radiasi ; daerah di mana nyeri terjadi pada organ tubuh yaitu pada osteo atau daerah tulang.
d. Severe / scale : intensitas nyeri
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
e. Time : waktu terjadinya nyeri, pada waktu pagi hari, siang, atau malam hari.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada fase akut ditemukan CPR yang meninggi, laju endap darah yang meninggi dan leukosit meningkat.
b. Pemeriksaan radiologik
Pada fase akut gambaran radiologic tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu involukrum dan skuester.
c. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 l gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
d. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella.
e. Bone scan
Pada pemeriksaan sidik tulang dengan menggunakan tehcnetum-99 maka akan terlihat gambaran abnormal dari tulang berupa peningkatan uptake pada daerah yang aliran darahnya meningkat dan daerah pembentukan tulang yang cepat. Dengan sidik tulang ini juga dapat ditemukan atau ditentukan lokasi terjadinya infeksi atau dapat juga dengan menggunakan gallium.
f. X Ray
Pada fase akut belum terlihat kelainan-kelainan patologis pada tulang dan hanya dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak saja, setelah lebih dari 10 hari baru ada perubahan pada gambar X ray yaitu gambaran “Brodies ances”.
2.15.2. PENGKAJIAN OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. Rheumatoid artritis, diabetes, penyakit sel sabit, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak, menggigil sistemik dan demam.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Adanya nyeri sendi, pembengkakan dengan penurunan rentak gerak. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin dapat menunjukkan adanya peningkatan sel darah putih dan laju endap darah. Jika terdapat kecurigaan kearah artritis septik akut, maka perlu dilakukan segera aspirasi dengan jarum pada sendi yang terkena sebagai langkah diagnostik dan juga untuk mengetahui bakteri apa yang menginfeksi supaya penanganannya tepat. Penemuan sel darah putih yang lebih dari 100.000/ml pada aspirasi jarum merupakan tanda kuat terjadinya artritis septik akut. Pemeriksaan foto roentgen dan juga ultrasonografi pada minggu pertama dapat menunjukkan terjadinya pembengkakan.
2.16 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan .
.
2.17 INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Diagnosa: nyeri berhubungan dengan imflamasi dan pembengkakan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang dan terkontrol.
Criteria hasil:
1. Menunjukkan nyeri berkurang atau terkontrol.
2. Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan beraktifitas sesuai kemampuan.
3. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
4. Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan kedalam program control nyeri.
INTERVENSI RASIONAL
1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas( skala 0-10). Catat factor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
2. Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi.
4. Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
5. Dorong untuk mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong tulang yang sakit di atas dan di bawah,hindari gerakan yang menyentak.
6. Libatkan dalam aktifitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
7. Berikan masase yang lembut. - membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.
- matras yang lembut atau empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada tulang yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada tulang yang terinflamasi/nyeri.
- pada penyakit berat atau eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan (sampai perbaikan objektif dan subjektif didapat) untuk membatasi nyeri atau cedera tulang.
- Mengistirahatkan tulang-tulang yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan mungkin dapat mengurangi kerusakan pada tulang. Meskipun demikian, ketidakaktifan lama dapat mengakibatkan hiulangnya mobilitas atau fungsi tulang.
- Mencegah terjadinya kelelahan umum, dan kekakuan tulang, menstabilkan tulang, mengurangi gerakan atau rasa sakit pada tulang.
- Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
- Meningkatkan relaksasi atau mengurangi tegangan otot.
2. Diagnose: Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik.
Criteria hasil:
1. Mempertahankan fungsi posisi.
2. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh.
3. Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktifitas.
INTERVENSI RASIONAL
1. Evaluasi/lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi atau rasa sakit pada tulang.
2. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan atau bantu teknik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya trapeze.
3. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan.
4. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi atau kloset, menggunakan pegangan tangga pada bak atau pancuran dan toilet, peggunaan alat bantu mobilitas atau kursi roda penyelamat.
5. Bantu dengan rentang gerak aktif atau pasif, demikian juga latihan resistif dan isometric jika memungkinkan. - Tingkat aktifitas atau latihan tergantung dari perkembangan atau resolusi dari proses inflamasi.
- Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Teknik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
- Memaksimalkan fungsi tulang, mempertahankan mobilitas.
- Menghindari cedera akibat kecelakaan atau jatuh.
- mempertahankan atau meningkatkan fungsi tulang, kekuatan otot, dan stamina umum. Latihan tidak adekuat dapat menimbulkan kekakuan tulang, karenanya aktifitas yang berlebihan dapat merusak tulang.
3. Diagnose: Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
Tujuan: seteleh dilakukan intervensi keperawatan tidak terjadi penyebaran infeksi dan infeksi dapat terkontrol.
Criteria hasil:
1. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
2. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda-tanda vital secara tepat khususnya selama awal terapi.
2. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
3. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktifitas sedang. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
4. Awasi keefektifan terapi antmikrobia.
- selama periode waktu ini potensial komplikasi fatal dapat terjadi.
- menurunkan pemajanan terhadap pathogen infeksi lain.
- memudahkan proses penyembuhan.
- tanda perbaikan kondisi harus terjadi dalam 24 -48 jam.
4. Diagnosa: Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan
Tujuan: setelah dilakuakn intevensi keperawatan klien dapat mengetahui tentang penyakitnya dan mengetahui tentang program pengobatan.
Criteria hasil:
1. Menujukkan pemahaman akan proses penyakit.
2. Ikut serta dalam program pengobatan dan memuali gaya hidup yang diperlukan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
2. Beriakan informasi mengenai terapi obat–obatan ,intreraksi,efek samping ,dan pentingnya ketaatan program
3. Dorong periode istrahat adekuat dengan aktivitas yang terjadwal.
4. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik
5. Berikan informasi mengenai alat bantu,misalnya tongkat,palang keamanan,tempat duduk toilet yang bias di naikkan . - Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
- Meningkatka pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan atau dan mengurangi resiko komplikasi.
- Mencegah kepenatan ,menghemat energy dan meningkatkan penyembuhan.
- Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung dari ketepatan dosis
- Mengurangi paksaan untuk menggunakan tulang dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang di butuhkan atau di inginkan .
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Sedangkan, sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah yang disebut Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme.
3.2. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan klien dengan infeksi musculoskeletal:osteomyelitis dan artritis. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih,,.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendo, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Beragamnya jaringan dan organ sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Beberapa gangguan tersebut timbul primer pada sistem itu sendiri, sedangkan gangguan yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek pada sistem muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang masih sering terjadi di dunia. Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Banyak mitos yang berkembang tentang penyakit ini, seperti diyakinkan bahwa informasi, akan berlanjut menyebar pada tulang dan akhirnya seluruh tubuh. Padahal yang sebenarnya adalah osteomielitis tidak menyebar ke bagian lain tubuh karena kelenjar lain tersebut punya aliran darah yang baik (terproteksi oleh sistem imun tubuh). Kecuali apabila terdapat sendi buatan di bagian tubuh yang lain dalam keadaan ini benda asing tersebut menjadi pathogen.
Osteomielitis dapat terjadi pada semua usia tetapi sering terjadi pada anak-anak dan orang tua, juga pada orang dewasa muda dengan kondisi kesehatan yang serius dan diagnosa osteomielitis ditentukan berdasarkan gambaran klinis penyakit dan juga gambaran radiologik.
Selain infeksi pada tulang, infeksi juga dapat menyerang persendian. Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius yang cepat merusak kartilago hyaline artikular dan kehilangan fungsi sendi yang ireversibel. Diagnosis awal yang diikuti dengan terapi yang tepat dapat menghindari terjadinya kerusakan sendi dan kecacatan sendi. Insiden septik artritis pada populasi umum bervariasi 2-10 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden ini meningkat pada penderita dengan peningkatan risiko seperti artritis rheumatoid 28-38 kasus per 100.000 per tahun.
1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan Muskuloskeletal II tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Infeksi Muskuloskeletal: Osteomielitis dan Artritis.
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik.
2. Mengetahui penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik
3. Mengetahui patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik
4. Mengetahui manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik.
5. Mengetahui evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik
6. Mengetahui penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik.
7. Mengetahui proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian Osteomielitis dan Artritis Septik?
2. Bagaimana penyebab terjadinya Osteomielitis dan Artritis Septik?
3. Bagaimana patofisiologi Osteomielitis dan Artritis Septik?
4. Bagaimana manifestasi klinis Osteomielitis dan Artritis Septik?
5. Bagaimana evaluasi diagnostic Osteomielitis dan Artritis Septik?
6. Bagaimana Penatalaksanaan Osteomielitis dan Artritis Septik?
7. Bagaimana Proses asuhan keperawatan Osteomielitis dan Artritis Septik?
1.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Data ataupun pembahasan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa referensi yaitu buku-buku atau sumber bacaan yang relevan serta media-media lain yang mendukung.
BAB II
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : OSTEOMIELITIS
2.1 DEFINISI OSTEOMIELITIS
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomeilitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
1. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
2. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
3. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
4. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streplococcus dan organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adalah infeksi lain.
2.2 ETIOLOGI OSTEOMIELITIS
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
2.3 KLASIFIKASI OSTEOMIELITIS
Menurut kejadiannya osteomyelitis ada 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer Kuman-kuman mencapai tulang secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder Adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran nafas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan osteomyelitis menurut perlangsungannya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
1. Nyeri daerah lesi
2. Demam, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional
3. Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka
4. Pembengkakan lokal
5. Kemerahan
6. Suhu raba hangat
7. Gangguan fungsi
8. Lab = anemia, leukositosis
b. Osteomyelitis kronis
1. Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri
2. Gejala-gejala umum tidak ada
3. Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur
4. Lab = LED meningkat
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
a. Staphylococcus (orang dewasa)
b. Streplococcus (anak-anak)
c. Pneumococcus dan Gonococcus
2.4 INSIDEN OSTEOMIELITIS
Osteomyelitis ini cenderung terjadi pada anak dan remaja namun demikian seluruh usia bisa saja beresiko untuk terjadinya osteomyelitis pada umumnya kasus ini banyak terjadi laki-laki dengan perbandingan 2 : 1.
2.5 PATOFISIOLOGI OSTEOMIELITIS
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik.
Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.
2.6 MANIFESTASI KLINIS OSTEOMIELITIS
Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitannya mendadak, sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum). Gejala sismetik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul.
Bila osteomielitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak akan ada gejala septikemia. Daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri dan nyeri tekan.
Pasien dengan osteomielitis kronik ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat menjadi pada jaringan parut akibat kurangnya asupan darah.
2.7 PENCEGAHAN OSTEOMIELITIS
Sasaran utamanya adalah Pencegahan osteomielitis. Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.
Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan potensial terjadinya osteomielitis.
2.8 PENATALAKSANAAN OSTEOMIELITIS
Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.
Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI MUSKULOSKELETAL : ARTRITIS SEPTIK
2.9 DEFINISI ARTRITIS SEPTIK
Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme. Secara normal, sendi dilumasi dengan jumlah kecil dari cairan yang dirujuk sebagai cairan sinovial (synovial fluid) atau cairan sendi. Cairan sendi yang normal adalah steril dan, jika dikeluarkan dan dipelihara (dikulturkan) dalam laboratorium, tidak ada mikroba-mikroba yang akan ditemukan. Dengan septic arthritis, mikroba-mikroba dapat diidentifikasi dalam suatu cairan sendi yang terpengaruh.
Paling umum, septic arthritis mempengaruhi suatu sendi tunggal, namun adakalanya lebih banyak sendi-sendi yang dilibatkan. Sendi-sendi yang terpengaruh sedikit banyak bervariasi tergantung pada mikroba yang menyebabkan infeksi dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi orang yang terpengaruh. Septic arthritis juga disebut infectious arthritis. Artritis septic sendiri mempunyai banyak pengertian, diantaranya :
1. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2. Artritis Septik adalah keadaan darurat rematologi karena mampu menghasilkan kerusakan sendi yang cepat dan bahkan kematian jika tidak diakui dan diperlakukan lebih awal dan benar.
2.10 ETIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah. Trauma sendi sebelumnya, arthritis yang menyertai, dan menurunnya kekebalan penderita mempengaruhi terjadinya infeksi sendi lutut. Gonococci dan stapilococci serta Haemophilus influenzae penyebab utama infeksi sendi pada orang dewasa. Penemuan dan penangan yang segera pada infeksi sendi sangat penting karena timbunan pus dapat menyebabkan kondrolisis (kerusakan kartilago hyalin), yang penyembuhannya sangat buruk. Pada individu-individu "berisiko tinggi" yang tertentu, bakteri-bakteri lain mungkin menyebakan septic arthritis, seperti E. coli dan Pseudomonas spp. pada orang-orang penyalahguna obat-obat intravena dan orang-orang tua, Neisseria gonorrhoeae pada dewasa-dewasa muda yang aktif secara seksual, dan Salmonella spp. pada anak-anak muda atau orang-orang dengan penyakit sel sabit. Bakteri-bakteri lain yang dapat menyebabkan septic arthritis termasuk Mycobacterium tuberculosis dan spirochete bacterium yang menyebabkan penyakit Lyme.
Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko artritis septik:
1. Sendi implan Buatan
2. Bakteri infeksi di tempat lain dalam tubuh
3. Penyakit kronis atau penyakit (seperti diabetes, rheumatoid arthritis dan penyakit sel sabit)
4. Penggunaan narkoba intravena (IV) atau dengan injeksi
5. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh
6. Trauma sendi Terbaru
7. Artroskopi sendi terbaru atau operasi lain dalam sendi
Septic arthritis dapat dilihat pada usia berapa pun. Pada anak-anak, itu terjadi paling sering pada mereka yang di bawah 3 tahun. Pinggul adalah sebuah situs sering infeksi pada bayi. Artritis septik jarang terjadi dari usia 3 sampai remaja. Anak-anak dengan artritis septik lebih mungkin dibandingkan orang dewasa terinfeksi dengan kelompok B streptokokus dan Haemophilus influenza jika mereka divaksinasi.
2.11 PATOFISIOLOGI ARTRITIS SEPTIK
Septic arthritis berkembang ketika bakteri menyebar melalui aliran darah ke sendi. juga dapat terjadi ketika sendi secara langsung terinfeksi dengan bakteri selama cedera atau operasi. daerah yang paling umum untuk jenis infeksi lutut dan pinggul.
2.12 MANIFESTASI KLINIS ARTRITIS SEPTIK
Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis. Pengkajian adanya focus primer infeksi (misalnya adanya karbunkel) harus dicari. Pasien lansia dan orang yang memakai kortikosteroid atau obat imunosupresif mungkin tidak memperlihatkan manifestasi klinis yang khas untuk adanya infeksi.
Gejala klinis yang tampak pada bayi berbeda dengan pada anak-anak dan dewasa, yaitu : Bayi
1. Dapat ditemukan kekakuan pada sendi yang terkena
2. Nyeri pada pergerakan sendi
3. Dapat terjadi demam, namun gejala ini bukan patokan utama
4. Dapat terjadi dislokasi patologik pada sendi pada minggu kedua.
Gejala klinis pada: Anak-anak dan dewasa
1. Anak-anak dan orang dewasa dapat memberitahu lokasi terjadinya sakit dan nyeri yang timbul saat pergerakkan
2. Karena sendi sakit, maka tubuh secara otomatis berusaha untuk melindunginya dengan mengontraksikan otot-otot disekitar sendi
3. Kekakuan sendi jelas terlihat
4. Adanya demam
2.13 PENATALAKSANAAN ARTRITIS SEPTIK
Konservatif Pemberian antibiotik dapat dilakukan sebelum operasi dilakukan. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi. Istirahat, imobilisasi, elevasi, dan kompres dingin bisa membantu mengurangi rasa sakit. Melakukan latihan dalam sendi yang terkena membantu proses pemulihan. Jika cairan sendi (synovial fluid) menumpuk cepat dalam sendi sebagai akibat dari infeksi, Anda mungkin perlu sering aspirasi cairan dengan memasukkan jarum ke dalam sendi. Pada kasus yang berat mungkin memerlukan pembedahan untuk mengeringkan cairan dari sendi yang terinfeksi.
Operasi Tujuan utama dilakukannya operasi adalah untuk membersihkan nanah yang ada pada sendi sehingga tidak terjadi kerusakan yang lenjut pada sendi. Operasi dapat dilakukan secara tertutup (arthroskopi lavage) atau dengan pembedahan terbuka. Jika penyakit ini sudah lanjut, maka dapat dilakukan arthrodesis, yaitu penyatuan sendi, untuk menghilangkan nyeri, meningkatkan stabilitas, dan mengoreksi kelainan bentuk yang ada. Namun cara ini akan mengakibatkan hilangnya pergerakan sendi.
Rehabilitasi Pada model percobaan, dengan menggunakan tehnik Continuous Passive Motion (CPM), ternyata dapat mencegah tulang rawan sendi dari kerusakan.
2.14 KOMPLIKASI ARTRITIS SEPTIK
Komplikasi Dini
1. Kematian
2. Kerusakan sendi
3. Dislokasi patologik dari sendi
4. Kematian tulang
Komplikasi Lanjut
1. Penyakit degeneratif pada sendi
2. Dislokasi permanen
3. Fibrous ankylosis
4. Bone ankylosis
PROSES KEPERAWATAN PADA INFEKSI MUSKULOSKELETAL: OSTEOMIELITIS DAN ARTRITIS
2.15 PENGKAJIAN
2.15.1. PENGKAJIAN PADA OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien yang datang dengan awitan gejala akut (mis. Nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat dan nyeri tekan. Pada osteomielitis akut, pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi. Pada osteomielitis kronik, peningkatan suhu mungkin minimal, yang terjadi pada sore dan malam hari.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Memperlihatkan adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, hangat yang nyeri tekan. Cairan purulen dapat terlihat. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
Pengkajian Nyeri
a. Provokes/ Palliativ : Pemicu terjadinya nyeri yaitu adanya infeksi, trauma (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang ).
b. Quality / Quantity : Kualitas dari nyeri seperti ditusuk, terbakar, sakit seperti digencet. Kuantitas dari nyeri, dimana nyeri terjadi beberapa menit, jam, hari, bulan, dsb ).
c. Region /radiasi ; daerah di mana nyeri terjadi pada organ tubuh yaitu pada osteo atau daerah tulang.
d. Severe / scale : intensitas nyeri
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
e. Time : waktu terjadinya nyeri, pada waktu pagi hari, siang, atau malam hari.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada fase akut ditemukan CPR yang meninggi, laju endap darah yang meninggi dan leukosit meningkat.
b. Pemeriksaan radiologik
Pada fase akut gambaran radiologic tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu involukrum dan skuester.
c. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 l gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
d. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella.
e. Bone scan
Pada pemeriksaan sidik tulang dengan menggunakan tehcnetum-99 maka akan terlihat gambaran abnormal dari tulang berupa peningkatan uptake pada daerah yang aliran darahnya meningkat dan daerah pembentukan tulang yang cepat. Dengan sidik tulang ini juga dapat ditemukan atau ditentukan lokasi terjadinya infeksi atau dapat juga dengan menggunakan gallium.
f. X Ray
Pada fase akut belum terlihat kelainan-kelainan patologis pada tulang dan hanya dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak saja, setelah lebih dari 10 hari baru ada perubahan pada gambar X ray yaitu gambaran “Brodies ances”.
2.15.2. PENGKAJIAN OSTEOMIELITIS
1. Anamnesa
Anamnesa meliputi
a. Identitas klien : Nama, Jenis kelamin, Umur, Alamat, Pekerjaan, Agama,dsb.
b. Keluhan utama : Pasien dengan arthritis septic biasanya datang dengan sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak. Menggigil sistemik, demam, dan leukositosis.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kaji adanya faktor risiko (mis. Rheumatoid artritis, diabetes, penyakit sel sabit, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya.
d. Riwayat penyakit sekarang : Adanya sendi yang hangat, nyeri, bengkak dengan penurunan rentang gerak, menggigil sistemik dan demam.
e. Riwayat psikososial : Adanya stress dapat meningkatka rasa nyeri, merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap kondisi yang dialami saat ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik focus pada B 6 ( Bone ) : Adanya nyeri sendi, pembengkakan dengan penurunan rentak gerak. Pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi, nyeri lokal.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah rutin dapat menunjukkan adanya peningkatan sel darah putih dan laju endap darah. Jika terdapat kecurigaan kearah artritis septik akut, maka perlu dilakukan segera aspirasi dengan jarum pada sendi yang terkena sebagai langkah diagnostik dan juga untuk mengetahui bakteri apa yang menginfeksi supaya penanganannya tepat. Penemuan sel darah putih yang lebih dari 100.000/ml pada aspirasi jarum merupakan tanda kuat terjadinya artritis septik akut. Pemeriksaan foto roentgen dan juga ultrasonografi pada minggu pertama dapat menunjukkan terjadinya pembengkakan.
2.16 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan .
.
2.17 INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Diagnosa: nyeri berhubungan dengan imflamasi dan pembengkakan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang dan terkontrol.
Criteria hasil:
1. Menunjukkan nyeri berkurang atau terkontrol.
2. Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan beraktifitas sesuai kemampuan.
3. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
4. Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan kedalam program control nyeri.
INTERVENSI RASIONAL
1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas( skala 0-10). Catat factor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
2. Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi.
4. Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
5. Dorong untuk mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong tulang yang sakit di atas dan di bawah,hindari gerakan yang menyentak.
6. Libatkan dalam aktifitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
7. Berikan masase yang lembut. - membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.
- matras yang lembut atau empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada tulang yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada tulang yang terinflamasi/nyeri.
- pada penyakit berat atau eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan (sampai perbaikan objektif dan subjektif didapat) untuk membatasi nyeri atau cedera tulang.
- Mengistirahatkan tulang-tulang yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan mungkin dapat mengurangi kerusakan pada tulang. Meskipun demikian, ketidakaktifan lama dapat mengakibatkan hiulangnya mobilitas atau fungsi tulang.
- Mencegah terjadinya kelelahan umum, dan kekakuan tulang, menstabilkan tulang, mengurangi gerakan atau rasa sakit pada tulang.
- Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
- Meningkatkan relaksasi atau mengurangi tegangan otot.
2. Diagnose: Keruskan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri,alat immobilisasi dan keterbatasan beban berat badan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik.
Criteria hasil:
1. Mempertahankan fungsi posisi.
2. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh.
3. Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktifitas.
INTERVENSI RASIONAL
1. Evaluasi/lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi atau rasa sakit pada tulang.
2. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan atau bantu teknik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya trapeze.
3. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan.
4. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi atau kloset, menggunakan pegangan tangga pada bak atau pancuran dan toilet, peggunaan alat bantu mobilitas atau kursi roda penyelamat.
5. Bantu dengan rentang gerak aktif atau pasif, demikian juga latihan resistif dan isometric jika memungkinkan. - Tingkat aktifitas atau latihan tergantung dari perkembangan atau resolusi dari proses inflamasi.
- Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Teknik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
- Memaksimalkan fungsi tulang, mempertahankan mobilitas.
- Menghindari cedera akibat kecelakaan atau jatuh.
- mempertahankan atau meningkatkan fungsi tulang, kekuatan otot, dan stamina umum. Latihan tidak adekuat dapat menimbulkan kekakuan tulang, karenanya aktifitas yang berlebihan dapat merusak tulang.
3. Diagnose: Resiko terhadap penyebaran infeksi : pembentukan abses tulang .
Tujuan: seteleh dilakukan intervensi keperawatan tidak terjadi penyebaran infeksi dan infeksi dapat terkontrol.
Criteria hasil:
1. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
2. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda-tanda vital secara tepat khususnya selama awal terapi.
2. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
3. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktifitas sedang. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
4. Awasi keefektifan terapi antmikrobia.
- selama periode waktu ini potensial komplikasi fatal dapat terjadi.
- menurunkan pemajanan terhadap pathogen infeksi lain.
- memudahkan proses penyembuhan.
- tanda perbaikan kondisi harus terjadi dalam 24 -48 jam.
4. Diagnosa: Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit dan program pengobatan
Tujuan: setelah dilakuakn intevensi keperawatan klien dapat mengetahui tentang penyakitnya dan mengetahui tentang program pengobatan.
Criteria hasil:
1. Menujukkan pemahaman akan proses penyakit.
2. Ikut serta dalam program pengobatan dan memuali gaya hidup yang diperlukan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
2. Beriakan informasi mengenai terapi obat–obatan ,intreraksi,efek samping ,dan pentingnya ketaatan program
3. Dorong periode istrahat adekuat dengan aktivitas yang terjadwal.
4. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik
5. Berikan informasi mengenai alat bantu,misalnya tongkat,palang keamanan,tempat duduk toilet yang bias di naikkan . - Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
- Meningkatka pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan atau dan mengurangi resiko komplikasi.
- Mencegah kepenatan ,menghemat energy dan meningkatkan penyembuhan.
- Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung dari ketepatan dosis
- Mengurangi paksaan untuk menggunakan tulang dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang di butuhkan atau di inginkan .
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Salah satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri. Namun jamur dan virus yang bisa menjadi penyebabnya. Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang tengkorak dan mandibula.
Sedangkan, sendi dapat mengalami infeksi akibat penyebaran dari infeksi di tempat tubuh lain (penyebaran hematogenus) atau secara langsung akibat trauma atau intervensi bedah yang disebut Artritis septic adalah infeksi dari satu atau lebih sendi-sendi oleh mikroorganisme-mikroorganisme.
3.2. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan klien dengan infeksi musculoskeletal:osteomyelitis dan artritis. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih,,.
v
Rjin bner ngpos Askep,hee~
BalasHapusSukses aj wat bLog.a...
Fighting~~ ^^
iya Na...msh belajaR ngeboloG ney sbenarx...
HapusHaha Ia,,sma" bLjar,he... :)
BalasHapuswihh nice info, saya pengunjung setia web anda
BalasHapuskunjung balik, di web kami banyak penawaran dan tips tentang kesehatan
Ada artikel menarik tentang obat tradisional yang mampu menyembuhkan penyakit berat, cek yuk
Pengobatan Mikosis